Belajar tentang impulse buying

Malam ini saya sedikit browing tentang impulse buying. Saya jadi mereka-reka sebenarnya kenapa saya cenderung melakukan hal ini.

Impulse buying adalah proses pembelian suatu barang, dimana si pembeli tidak mempunyai niatan untuk membeli sebelumnya.  Pembelian Tanpa rencana.  Ya ini adalah pembelian seketika. On The Spot. (Sumber: The Ordinary Trainer)

Kenapa ini bisa terjadi? Menurut beliau, ada beberapa alasan. Saya coba samakan dengan pengalaman saya. Pertama, kalau alasannya karena latah atau ikut-ikutan, saya rasa saya bukan orang seperti itu. Kalau karena alasan kedua yaitu karena rayuan promosi, ini sedikit sesuai dengan kondisi saya, walaupun bukan menjadi penyebab utama. Saya lebih sering mengalami kondisi impulse buying, yaitu membeli sesuatu tanpa niatan untuk barang-barang yang menjadi kebutuhan utama saya. Jika itu bukan kebutuhan utama saya, saya jauh lebih mudah untuk menolak membelinya. Saya sebenarnya termasuk orang yang tidak mudah dipengaruhi oleh iklan diskon, hehe. Alasan ketiga sepertinya lebih sesuai nih, yaitu karena display, penampakan, merchandising atau signage. Sederhananya, orang mudah tergoda membeli barang-barang yang ada di dekat kasir, karena melihat dan teringat untuk membelinya. Saya jadi teringat dengan pengalaman yang saya setorkan untuk T10H, baik ketika belanja online di kecipir misalnya atau pada saat saya membantu teman yang membutuhkan bibit tanaman. Ini ceritanya saya sedikit mereview pengalaman sebelumnya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah impulse buying ini selalu konotasinya salah. Ternyata ga juga. Menurut myfamilyaccounting, jika dikaitkan dengan kontes pengelolaan keuangan keluarga, impulse buying bisa ini dibenarkan dan bijak, tapi bisa juga tidak. Bijak dan benar sesungguhnya apabila ternyata nantinya barang yang dibeli tidak mengganggu cashflow keuangan keluarga dan tentu saja sangat penting dan bermanfaat fungsinya ketika digunakan. Tidak bijak bila ternyata pembelian tersebut hanya menurutkan nafsu keinginan dan bukan berdasarkan kebutuhan, ditambah lagi ternyata berakibat terganggunya arus kas keuangan keluarga.

Pengetahuan dan Perencanaan yang Kurang

Ini sepertinya saya banget dan yang sepertinya sedang terjadi.

Masih banyak orang yang berpikiran hidup itu mengalir saja, tidak perlu rencana, tidak perlu pengaturan, sedikit disiplin jadi tidak masalah membeli barang ini sekarang. Ide dasar yang ada di otak adalah POKOKNYA SAYA HARI INI SENANG. Pemikiran-pemikiran seperti ini yang menyebabkan seseorang melakuan impulsive buying. Tanpa tujuan yang jelas seseorang hanya akan berpikir jangka pendek dan akan cenderung bersikap konsumtif. (Sumber: Finansial.com)

Apa solusinya? Masih dari sumber yang sama, saya coba menyamakan pengalaman.

Melakukan Terapi Keuangan

Terapi keuangan adalah suatu usaha pengobatan pola pikir dengan memasukan informasi-informasi langsung ke pusat otak atau menjadi top of mind. Siapa yang bisa melakukannya? Orang-orang bisa melakukannya dengan cara meningkatkan pendidikan keuangan, berusaha keras dan disiplin pada dirinya, atau bisa berkonsultasi dengan profesional (perencana keuangan yang memiliki dasar psikologi atau seorang psikolog yang mempunyai pendidikan keuangan).

Buat Anggaran Belanja

Anggaran belanja buat keluarga atau pribadi? Kok aneh ya? Ngapain juga kali ya? Kegiatan membuat anggaran dapat dilakukan dengan sederhana ambil kertas, tulis pos-pos pengeluaran bulanan dan anggarkan uang ke dalam pos-pos tersebut. Ketika kita mendapatkan uang pendapatan, bagi ke dalam beberapa pos. Transfer ke rekening investasi dan rekening belanja. Percaya atau tidak masih ada orang yang bertanya, mengapa saya harus repot membuat anggaran? Sebelumnya ada pertanyaan buat Anda: Siapakah orang yang paling peduli dengan keuangan pribadi atau keuangan keluarga Anda? 9 dari 10 orang menjawab saya dan pasangan saya. Nah oleh sebab itu kita perlu melakukan kegiatan anggaran.

Buat Daftar Belanja Tetap

Setiap orang atau keluarga pasti memiliki daftar barang yang akan dibelanja setiap bulannya. Jangan biarkan daftar tersebut di kepala, tulis daftar-daftar tersebut. Cara buatnya simpel aja ambil kertas, buat daftar barang yang akan dibeli.  Satu hal yang penting ketika sudah membuat daftar belanjaan adalah masukan daftar belanjaan tersebut di dompet. Hal ini diperlukan agar kita tidak lupa bawa daftar belanja tersebut ketika berbelanja.

Membeli Dengan Uang Cash

Membayar dengan uang kas itu dapat dikatakan pembelian secara real, benar-benar memiliki dampak atau impact langsung. Hal ini beda saat Kita melakukan pembayaran dengan debit atau kartu kredit. Siapkan uang kas sesuai dengan kebutuhan, misal Kita biasanya menghabiskan uang 500.000 tiap minggu, ada baiknya ambil uang 600.000 setiap minggunya. Kurangi frekuensi ke ATM, kurangi frekuensi kartu kredit, kurangi frekuensi pembayaran kartu debit adalah cara untuk mendisiplinkan diri sendiri terhadap gaya atau cara berbelanja.

Pengecekan kesehatan keuangan berkala dapat digunakan untuk membantu proses menuju kesehatan keuangan. Bagaimana cara mengecek kesehatan keuangan? Anda dapat berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan dibidang keuangan atau belajar keuangan pribadi. Tempel hasil pengecekan kesehatan keuangan tersebut dan usahakan perbaiki hal-hal yang perlu ditingkatkan.

***

Secara singkat, saya mengambil langkah-langkah yang segera harus dilakukan untuk mengurangi gejala impulse buying ini.

  • Bawa uang secukupnya, sesuaikan dengan apa yang ingin kita beli. Ini terutama jika sedang belanja di warung atau toko terdekat.
  • Sadari setiap bentukan pikiran yang muncul dalam pikiran sendiri
  • Tunda pembelian dan lihat apakah bila menunggu beberapa waktu, saya masih ingin membeli barang tersebut atau tidak.
  • Tanya diri sendiri saat ingin membeli sesuatu “mengapa saya tidak perlu benda ini?”
  • Buat daftar belanja, dan pastikan saya hanya membeli hal yang tertulis di sana. Ini yang perlu perencanaan keuangan yang lebih baik lagi termasuk di dalamnya adalah perencanaan belanja harian.
  • Belajar tentang pengecekan kesehatan keuangan, supaya bisa didapatkan data kesehatan keuangan yang riil.
  • Terakhir dan penting, sebisa mungkin hindari tempat-tempat yang bisa mendorong kepada impulse buying. Kalau saya mah ini berarti jangan sering jalan-jalan di dunia maya.

Haduh. Sekali lagi, bismillah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s