Tantangan level 6: math around us

Di kelas bunda Sayang IIP khususnya materi ke-6, saya belajar kembali bahwa Matematika bukan hanya tentang angka dan hitungan. Matematika berhubungan lekat pada kelogisan berpikir dan pemecahan masalah.

Masalahnya saya sudah lama punya ketidaksukaan pada mata pelajaran satu ini, karena isinya melulu tentang hitung-hitungan yang rumit, sama halnya seperti ketidaksukaan saya pada matpel fisika dan kimia misalnya, hihi. Rasa-rasanya saya mengalami salah stimulus pada masa belajar dulu, sehingga saya tidak suka matematika. Ada dua alasan utama yang saya rasa sebagai penyebab. Saya tidak tahu tujuan belajarnya untuk apa, dan kedua saya digegas oleh lingkungan sekitar saya untuk menerima semua materi dari sekolah dan sekaligus menguasainya. Ga heran, hehe.

Jadi sekarang ceritanya saya mendapat pencerahan. Matematika itu ternyata seru juga. Karena ia sebenarnya tersebar di sekitar kita. Contohnya nih seperti saat heboh bersama anak-anak mencari segala sesuatu yang berbentuk bulat di dalam rumah, semua berlarian, melihat sekeliling dan berebutan menyebutkan benda yang ditemukannya. Atau saat seru ngobrol dengan si kakak sambil menghitung jumlah rumah di 1 blok komplek sehingga menemukan jumlah rumah seluruh cluster yang terdiri dari 6 blok. Kalau konsep matematika dikenalkan dan diajarkan secara kreatif dan dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik, rasanya pasti semua seru dan menyenangkan. Kalau begini mah, saya jadi suka matematika lagi.

Okeh, its time to give another shot. Mungkin saya saja yang berlebihan menghadapi keruwetan ilmu matematika ini. Sekarang saatnya untuk temukan matematika dalam aktivitas keseharianku. Bismillah.

Hari 1

Waktu itu saya ikut kedua orangtua saya berkunjung ke kota Bogor. Kebetulan keponakan saya yang paling kecil, berusia 2,5 tahun juga ikut. Ini adalah perjalanan jauh pertamanya tanpa mamahnya, hanya bersama kakek neneknya dan juga saya, hehe.

Sepanjang perjalanan saya berpikir keras juga, stimulus apa yang bisa saya berikan kepada keponakan saya ini untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya. Mencari timing yang tepat juga ternyata sulit, haha. Saya merasa pusing selama perjalanan berangkat karena badan juga ternyata sedang tidak sehat. Jadi saya putuskan untuk menikmati perjalanan saja dan menikmati kebersamaan bersama kedua orangtua dan keponakan.

Tapi ada satu saat ketika si dedek mau saya ajak jalan-jalan kecil di lingkungan sekitar rumah saudara yang tinggal di Bogor. Saya iseng saja menunjuk ke arah bunga-bunga yang ada di halaman tetangga sambil mengajak berhitung. “Ada berapa bunganya, dedek? Satu, dua, tigaaa..” Ternyata si dedek tidak menunjukkan respon apa-apa dan sibuk memperhatikan pemandangan lainnya. Wah.

Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah si dedek sudah pernah diberikan stimulus untuk mengenal kuantitas melalui berhitung sebelumnya oleh mamahnya. Mungkin belum. Makanya ketika saya ajak berhitung, ia tidak merespon. Oke tidak apa-apa, pikir saya.

Tapi tanpa saya sadari, sebenarnya si dedek telah menunjukkan kecerdasan matematika logisnya sendiri di sepanjang perjalanan kami waktu itu. Saya sendiri banyak dicengangkan dengan kepintaran-kepintaran baru yang ditunjukkan oleh keponakan saya itu. Sepanjang perjalanan di jalan tol, ia terlihat asyik mencermati macam-macam transportasi yang lewat dari mobil besar seperti truk pengangkut tanah, bis angkutan umum, truk gallon air, mobil excavator/pengeruk tanah, atau mobil-mobil kecil seperti mobil pribadi, mobil polisi, sambil menunjuk-nunjuk semuanya dan menyebut masing-masing namanya sesuai yang ia bisa. Kadang kala ia sebut mobil-mobil berwarna merah dengan sebutan ‘mobil om bos’, seperti mobil Honda milik om nya yang berwarna merah, hehe. Mbahkung dan Mbahti nya berulang kali merespon dengan menyebut balik mobil kecil atau mobil besar. Rupanya minatnya terhadap kendaraan-kendaraan begitu besar, sampai-sampai ketika ada mobil polisi yang masih jauh di depan, ia bisa segera tahu dan langsung ia tunjuk ke kami. MaasyaaAllaah, dek.

Hari 2

Beberapa hari ini saya ikut program diet sehat bahagia yang diselenggarakan oleh mbak Indah Katinanda, si pemilik akun IG @Bundapreneur. Sebenarnya sih, niat saya lebih kepada mencari motivasi hidup sehat ketimbang diet beneran, haha.

Di awal, kami menghitung body mass index (BMI) masing-masing atau IMT (Indeks Massa Tubuh) dalam bahasa Indonesianya, yang hasilnya angka saya berkisar di 22,8 kalau dihitung dengan berat badan terakhir. Saya belum hitung berat badan lagi sih. Nah, skor BMI saya masih bisa dibilang normal, tidak kurus banget tapi tidak gemuk. Untuk orang Asia, BMI normal sekitar 18,9-23,9 (sumber: disini). Tapi karena saya merasa badan ini melar disana sini, ya saya masih merasa ada yang salah. Haha.

Screenshot_2017-07-28-09-37-23_1

Salah satu tantangan adalah untuk berolahraga, minimalnya jalan santai sebanyak 1000 langkah. Untuk ini saya bahkan belum menyiapkan waktu khusus, tapi saya berazzam untuk usahakan jalan pagi setiap harinya, sambil sekalian belanja ke warung, hehehe.

Ini saya pakai aplikasi Pedometer & Weight Loss Coach untuk menghitung jumlah langkah yang sudah saya buat setiap hari. Masih uji coba, karena saya belum merasa puas dengan aplikasi ini. Sebenarnya semuanya jadi lebih normal, kalau saja handphone (hp) saya tidak mudah mati. Karena aplikasi ini berjalan ketika kita menggerakkan hp. Hp harus dibawa saat olahraga, dan alhamdulillahnya hp saya sering mati secara tidak sengaja karena ada bagian dari body yang rusak. Jadi, hitungan saya di tanggal 28 Juli seperti di atas sama sekali bukan hitungan riil saya, hehe. Karena saya jalan kaki lebih dari 15 menit kalau tidak salah. Jadi seharusnya sudah lebih 1000 langkah.

Tapi dari aplikasi ini, saya jadi tahu kuantitas kalori dan kilometer yang dicapai dari jumlah langkah yang dibuat. 7 menit jalan kaki saja saya sudah membuang kalori sebanyak 70 kal dan berjalan sejauh 610 meter. Kalau hitungan riil saya berapa jadinya? Hehe penasaran. Tapi hp tidak boleh mati lagi kalau dibawa olahraga ya.

Hari 3

Lelah hayati dengan hama-hama yang seliweran di kebun kecil saya, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat pestisida nabati (pesnab) sendiri. Saya sudah lama dapatkan resepnya dari akun IG @Cleafarm, tapi baru kali ini mau buat.

Menyiapkan bahan-bahannya dibantu dengan gelas takaran. Asyik juga, ada berbagai macam takaran untuk jenis cairan, tepung, dan gula. Jadi memang beda-beda hitungannya ya. Tadinya saya pikir 200 gram tepung dan 200 gram gula itu beratnya sama, tapi ternyata tidak. Berhubung juga alat timbangan kue saya agak rusak karena dimainkan oleh keponakan, si kakak Abil, gelas takaran ini bisa jadi alat bantu yang bagus sekali untuk saya. Karena saya cuma punya itu saja, haha. Catatan saya, ternyata takaran tepung terigu 100 gram itu sama dengan 4 sdm munjung. Lain kali saya bisa lebih pede memakai resep-resep di Cookpad yang menggunakan pecahan gram.

Nah dari 300 ml air yang dipakai untuk rebusan kulit bawang merah, ternyata saya cuma dapatkan sekitar 200 ml pesnab yang sudah jadi. Sepertinya saya kelamaan mendidihkan air, jadi banyak air menguap saat itu.

Selain itu, saya coba juga membuat campuran bawang merah dan air yang bisa jadi perangsang pertumbuhan akar yang bagus. Saya menggunakan 2 buah bawang merah yang diblender dengan air kira-kira setengah gelas. Bisa langsung eksekusi untuk batang kemangi dan singkong yang mau distek, direndamkan dalam campuran air bawang merah tadi selama 5 jam sebelum ditancap ke tanah.

Hari 4

Praktik memasak itu banyak sekali memakai skill dasar Matematika, terutama berhitung ketika membuat takaran bumbu, garam dan gula, tepung, air dll. Apalagi membaca resep, kita harus bisa mengukur dan menimbang apakah resep akan sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak.

Nah karena saya hanya memasak untuk dua orang, suami juga cuma makan sepulang dari kantor, praktis saya tidak bisa masak banyak, saya harus memasak secukupnya saja. Waktu berkunjung ke rumah sepupu di Bogor beberapa hari lalu, saya sempat belajar cara memasak pepes oncom, jadi kepengen masak sendiri euy. Telah diputuskan bahwa hari ini saya akan mencoba lagi, setelah pernah gagal masak oncom dulu.

Saya belanja oncom di warung sebanyak 2 papan saja. Saya juga masih mengandalkan Cookpad untuk mendapatkan resep yang pas sesuai kebutuhan. Jadi ini uji coba, berapa porsi yang saya dapatkan jika memasak oncom sebanyak 2 papan. Alhamdulillah, setelah dimasak, tumis oncomnya cukup untuk porsi makan saya dan suami. Ini porsi besar ya yang saya maksud, karena makan oncom pakai nasi hangat-hangat itu pasti pakai tambah, haha. Tumis oncom masih tersisa kira-kira satu porsi lagi, lalu saya buatkan ala pepes, supaya lebih tahan lama untuk sarapan saya esok pagi. Jadi totalnya 3 porsi besar ya saudara-saudara, hehe.

Hari 5

Kali ini masih praktik memasak. Ini karena masih ada sisa daun pisang yang dibeli mamah saya sewaktu ke Bogor waktu itu. Kemarin baru saya pakai sedikit untuk buat pepes oncom. Kali ini saya pergunakan untuk memasak pepes tahu. Mamah juga membawakan saya tahu kuning langganannya dari Bintaro untuk saya masak. Jadi porsinya saya bagi-bagi antara yang mau dibuat pepes dan yang akan digoreng saja.

Tahu yang dipakai hanya 5 buah, sementara daun pisang sehelai saja cukup. Setelah diolah, ternyata saya dapat 4 bungkus pepes tahu untuk dikukus. Ini saya bagi-bagi lagi, untuk makan siang saya satu bungkus, 2-3 bungkus untuk jatah makan malam. Bila masih ada sisa, bisa dimakan saat sahur. Jangan sampai mubazir.

Daun pisangnya sendiri masih sisa sedikit. Entahlah, mungkin berikutnya saya buat pepes ikan peda kesukaan suami. Tapi kalau seperti itu, saya akan butuh pasokan daun pisang lagi, karena yang tersisa sekarang kan hanya sedikit. Apa saya perlu untuk beli lagi, dan kemudian menghadapi dilema berulang untuk menghabiskan daun pisang? Memang ribet kalau tidak punya pohon pisang sendiri, sementara tetangga-tetangga terdekat juga tidak ada yang punya pohon pisang. Kalau saja boleh membeli satu helai daun pisang di warung, hehe.

Hari 6

Kami kedatangan tamu hari ini. Ibu mertua dari adik saya ingin lihat rumah yang sudah selesai dibangun, jadilah mamah dan bapak membawa beliau berkunjung ke baiti jannati kami. Karena tamunya katanya berjumlah 6 orang, kami harus menyiapkan cemilan tidak boleh kurang tapi juga tidak boleh berlebihan. Kami putuskan belanja kue, buah-buahan, dan menyiapkan es kelapa muda untuk tamu-tamu.

Di tukang buah langganan di Toko Tani Pasar Minggu, kami sempat bingung memilih buah-buahan yang pas untuk tamu. Bingung lagi mau beli berapa banyak. Akhirnya saya putuskan membeli sejumlah orang yang akan datang. Jadi takarannya bukan kiloan, tapi ambil saja sejumlah orangnya dikali dua supaya tidak kekurangan, baru lah nanti dihitung total beratnya. Dasar emak-emak ga mau pusing, haha. Jadilah kami membeli masing-masing 12 buah jeruk dan salak, serta 2 kilo mangga. Hitungan kue juga begitu, saya beli 3 macam yang terdiri dari 1 kue asin dan 2 macam kue manis, masing-masingnya sebanyak 7 buah; saya lebihkan satu buah saja untuk tuan rumah. Edisi hemat, haha. Kelapa muda kami putuskan beli sebanyak 5 batok saja.

Ini kenapa saya ceritakan? Selain sebagai laporan tugas, ada hikmah yang bisa jadi catatan kami terutama terkait penghitungan kuantitas, dalam menyiapkan cemilan untuk tamu di masa yang akan datang. Pertama, kue dan buah-buahan yang disajikan ternyata masih berlebih untuk tamu. Sepertinya hanya setengah porsi dilahap. Maklum tamunya orang-orang dewasa semua. Padahal ada tambahan tamu 1 orang lho, karena mendadak ada tamu yang dijemput anaknya di rumah kami. Mungkin juga karena mereka masih kekenyangan karena baru menghadiri acara pernikahan sebelumnya. Tapi buktinya mereka masih sanggup mencicipi sajian nasi uduk dari ibu mertua saya juga. Buah mangga, sebagian kue dan buah yang tersisa kami putuskan dibungkus untuk dibawa pulang orangtua saya dan cemilan di mobil, sementara sebagian lagi yang tersisa kami bagi-bagi untuk ibu mertua saya dan bibi tetangga sebelah. Saya dan suami sendiri hanya kebagian sedikit sekali. Sepertinya kedepannya kami akan mengurangi setengah porsi belanjaan bila ingin menyajikan cemilan untuk tamu. Tapi bila tidak ingin mengurangi dan ingin disedekahkan untuk keluarga dan tetangga, itu akan sangat baik sekali, hehe. Sementara itu es kelapa muda yang kami siapkan cepat habisnya, karena ibu dan bapak mertua saya ikut minum juga. Satu catatan, karena kami memang menyajikan minuman kelapa muda murni dan bukannya es kelapa, kami sebaiknya sudah menyuguhkan minuman tersebut langsung di gelas, kira-kira ¾ dari ukuran gelasnya. Setelah itu, bila tamu ingin menambahkan es dan air gula, mereka tinggal mengambil sesuai kesukaan mereka. Ini memudahkan tamu, juga kami; karena kami hanya akan repot menyiapkan minuman di dapur. Di ruang tamu, kami tinggal menyuguhkan saja, hehe.

Sekali lagi, kami belajar tentang konsep kuantitas di keseharian kami, dengan mengatur dan menata cemilan untuk tamu.

Hari 7

Dalam rangka hidup sehat, saya mengatur jadwal makan buah saya dan suami dalam sehari yaitu satu kali di jam makan pagi, minimalnya. Bila dana cukup, saya tambahkan di waktu snack di pagi atau sore hari. Suami lebih gampang karena ia doyan buah pepaya. Itu buah yang menurut saya murah meriah dan satu buah pepaya besar bisa untuk jatah 3 hari, karena malam beliau tidak makan buah lagi kecuali ingin sekali. Kalau saya lebih ribet. Selain saya termasuk pemilih buah, jam lapar saya juga tidak jelas. Alhasil saya lebih banyak memakan buah-buahan daripada pak suami, demi mengurangi cemal-cemil makanan asin dan yang berminyak. Ini yang bikin budget asupan buah-buahan membengkak, haha.

Hari ini ketika saya memotong buah mangga dan papaya untuk pak suami, saya baru teringat belum mengecek stok buah-buahan di lemari es. Saya hitung, ternyata stok yang ada masih insyaa Allah masih cukup untuk jatah sarapan buah kami sampai Senin pagi. Alhamdulillah aman. Jadwal belanja buah-buahan berikutnya baru akan saya lakukan pada hari Senin. Yes, tinggal dicatat di agenda.

Hari 8

Ada satu catatan yang saya buat hari ini setelah mengikuti pengajian, terkait waktu dan jarak. Saya terlambat tiba di pengajian yang menyebabkan saya tidak hanya tertinggal materi tapi juga mendapat tempat jauh di belakang dan jauh dari speaker. Sudah tidak dapat melihat ustadz, saya juga tidak begitu jelas mendengar suara beliau. Sudah jatuh dari tangga kejatuhan durian pula, begitu. Hehe.

Saya sering datang terlambat ke kajian, tapi biasanya itu dikarenakan pekerjaan rumah yang belum selesai. Iyes, sebenarnya manajemen waktu ya yang harusnya saya benahi, tapi ini saya belum bisa memperbaiki. Jadi sekarang memperbaiki manajemen waktu keberangkatan dulu deh, hehe. Misalnya untuk datang ke kajian hari ini di jalan Martimbang IV, Jakarta Selatan. Jarak dari rumah ke sana – kalau menurut aplikasi Gojek – sekitar 7,5 km. Kalau dari aplikasi Maps, perjalanannya sepanjang 14 km (karena lewat rute jl. TB Simatupang, lalu masuk jl. Pondok Indah Raya) dan membutuhkan waktu sekitar 42 menit. Ya sudah, seharusnya estimasi waktu itu yang saya ambil, ditambahkan dengan estimasi waktu menunggu ojek online dan langkah keluar rumah. Kurang lebihnya saya butuh cadangan waktu 45 menit. Dari situ bisa diambil total waktu perjalanan yang saya harusnya cadangkan bilamana masih berkutat pekerjaan rumah tangga. Ini sih kalau saya mau tidak terlambat datang ke kajian. Okeh, kita coba ya di kajian berikutnya. Bismillah.

Hari 9

Hari ini masih berkutat dengan hitung-menghitung dan membuat estimasi. Alhamdulillah paket kiriman dari produsen pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati sudah datang. Tapi karena saya belum sempat beli water spray baru untuk eksekusi penyemprotan pupuk cair dan pesnab, saya belum semprot juga tanaman-tanaman saya. Nah baru kemarin hari Rabu saya sempatkan keluar rumah untuk ke toko tanaman langganan dekat RSUD Pasar Minggu dan membeli penyemprot air; sekalian tanya-tanya harga pot.

Saya berencana untuk ekspansi kebun mini saya dari teras atas ke teras bawah dan halaman sekitar rumah. Tanaman-tanaman yang sudah tumbuh cukup besar dan kuat, seperti tomat, pepaya jepang, sereh dan bumbu-bumbu dapur sepertinya bisa dipindahkan ke pot-pot besar ke bawah. Tanaman-tanaman yang masih kecil dan dalam masa pertumbuhan dari bibit rencananya tetap di kebun atas, supaya bisa maksimal mandi sinar mataharinya dan saya juga lebih leluasa mengeceknya setiap hari.

Saya tanyakan pot ukuran kotak memanjang dan berwarna hitam, harganya Rp 35.000, sementara yang warna merah dan hijau harganya lebih mahal lagi Rp 40.000. Pot hitam itu bisa lebih murah lagi harganya menjadi Rp 30.000, kalau beli minimal 10 pot. Wah tetap lumayan berat juga anggarannya pikir saya. Sementara rencana ditahan dulu. Begitu juga dengan rencana untuk beli media tanah, saya tunda dulu. Nanti akan berbarengan dengan beli pot.

Oh iya, pupuk cair dan pestisida nabatinya langsung saya eksekusi Kamis lalu. Karena target penyemprotan masih dalam skala kebun mini, saya buatkan takaran untuk air 1 liter, dicampur dengan 1/5 tutup botol cairan pupuk/pesnab. Takaran yang tertera di lembar instruksi sebenarnya 5 liter air untuk tiap tutup botol. Pupuk organik cair dan pesnabnya saya langsung campur untuk lebih efisien. Alhamdulillah saya menyemprot tanaman-tanaman dengan riang gembira sambil membayangkan mereka juga senang diberi nutrisi dan obat supaya bisa tumbuh sehat dan subur.

Jpeg

Sebagian kebun teras saya bersama duo POC dan pesnab, serta water spray baru

kebun.harapan-1500526763139

Ini kebun harapan milik mbak Eveline yang jadi inspirasi untuk kebun teras saya. Mau coba pot panjang seperti milik beliau.

Hari 10

Membaca setoran tugas Kelas Bunda Sayang dari bund Aditia, saya jadi penasaran dengan metode jarimatika yang ditemukan oleh bunda Septi Peni dan suaminya pak Dodik, yang menggagas Komunitas Ibu Profesional yang saya ikuti ini. Wah kok saya baru dengar ya metode ini. Tiba-tiba teringat lagi teknik perkalian yang menggunakan tangan yang saya pelajari waktu SD. Ini kok mirip dengan metode jarimatika-nya bu Septi ya. Padahal saya lulus SD itu sekitar tahun 1993. Hehe jadi ketahuan angkatan belajarnya, sudah lama sekali.

jarimatika perkalian

Tehnik perkalian metode tangan yang saya pelajari waktu SD

Melihat video pengenalan Jarimatika oleh bu Septi ini yang mengenalkan belajar berhitung sambil bergerak dan bernyanyi, jadi menyenangkan sekali belajarnya. Saya jadi berminat untuk memperdalamnya, supaya nanti bisa mengajari anak-anak sendiri. Tapi saya harus pelan-pelan belajarnya, karena agak lambat menyerap ilmu berhitung. Sementara ini, referensi belajarnya dari sini dulu. Kalau ingat kata pak Harry Santosa, yang lebih utama adalah membangkitkan minat belajar matematika. Selanjutnya, mudah-mudahan Allah mudahkan ya. Semangat kakak.

 

Advertisements