Tantangan level 4: belajar berkebun

Pengamatan 7

Beberapa hari ini saya belajar berkebun secara otodidak. Kenapa begitu? Karena guru saya praktis adalah kawan-kawan di grup WA Rumah Belajar (Rumbel) Berkebun IIP Jakarta yang komunikasinya praktis lebih banyak di grup. Karena mentornya bunda Efi juga sudah cukup sibuk dengan berbagai aktivitas yang digeluti, respon yang didapat di grup memang kadang lebih lambat daripada yang saya perlukan.

Belajarnya lalu bagaimana? Sebenarnya kalau saya baca ulang materi kulwap yang beliau kirim via broadcast di grup, semua pertanyaan-pertanyaan akan terjawab. Ini baru saya pahami setelah kesekian kalinya saya membaca materi tersebut, haha. Itu juga karena saya sedang benar-benar butuh saran terkait rencana memindahkan tunas tanaman pokcoy dan cabe saya yang sudah terlihat makin besar.

Soal berkebun, sebenarnya saya sudah pernah belajar secara singkat di akademi berkebun. Tapi ya hanya satu hari pelajarannya dan saya merasa tidak mendapatkan materi yang saya cari. Akhirnya minat untuk mendalami berkebun langsung kandas, yang tertinggal hanya kesenangan untuk memanen sayuran yang terus terpendam hingga hari ini.

Lulus dari kelas matrikulasi, saya senang sekali ketika tahu mendapat hak untuk mengikuti kelas rumbel IIP. Dan rumbel berkebun menjadi pilihan utama, hehe. Rasa senang itu berlanjut ketika akhirnya saya diadd ke WAG Rumbel Berkebun IIP dan tidak lama kami kopdar di rumah bunda Efi langsung.

Wah kesempatan emas tidak saya sia-siakan. Semampu saya mengikuti materi demi materi, saya memperhatikan seluruh yang dilakukan dan yang diucapkan oleh bunda Efi karena saya ingin mendapatkan instruksi penuh tentang berkebun. Pengetahuan saya itu nol besar, jadi saya harus mendownload ilmu dasar dari pelaku berkebunnya sendiri. Ya walaupun ada saja materi yang terlewat saat kopdar karena saya kesulitan untuk melakukan pencatatan sekaligus mencerna materi di saat yang bersamaan. Pada kopdar itu, segala yang saya tahu dan saya ingin tahu saya coba konfirmasi ke bunda Efi.

Kesenangan itu bertambah dengan oleh-oleh tanaman, bibit, dan pupuk organik cair (pipis kelinci yang sudah difermentasi) yang diberikan oleh bunda Efi kepada semua peserta kopdar. Oleh-oleh inilah yang memacu saya untuk terus mempelajari dasar-dasar berkebun dan mempraktikkannya. Tiap kali saya melihat ada tunas tumbuh, atau saya merasa sudah seharusnya memindahkan tunas yang sudah makin besar ke pot, saya update ke grup atau tanya-tanya yang membingungkan. Kadang pertanyaan saya ga dijawab, saya coba scrolling lagi diskusi grup siapa tahu menemukan jawabannya, haha.

Sementara ini banyak berkreasi sendiri, improvisasi, coba ini itu. Semampu saya mempraktikkan ilmu yang pernah saya lihat sewaktu kopdar. Sebelumnya saya memindahkan tanaman ke pot yang sudah saya menggunakan media tanam yang umum dijual di tukang tanaman, padahal tidak disarankan bunda Efi karena kurang cocok untuk sayuran. Percobaan kedua memindahkan tunas ke campuran tanah dan pupuk kandang saja, karena belum punya kompos dan sekam bakar. Pupuk kandang pun saya ga yakin apakah sudah benar yang saya beli kemarin, karena katanya harus yang benar-benar sudah difermentasi. Lha wong pupuknya kotoran kambing, tapi rasa-rasanya tidak begitu bau kotoran, haha. Baru kemarin juga saya beli water spray, asyik deh acara siram-siramnya. Rasanya kok jadi lebih hemat air daripada yang sebelumnya saya guyur-guyur langsung pakai takaran sendok. Ini sebenarnya berapa sih takaran menyiramnya? Dan percobaan pertama untuk membuat kompos sendiri juga belum berhasil. Campuran air tape-nya sih sudah matang dari beberapa hari lalu, tapi karena harus menggunakan campuran kompos alami untuk bibit kompos saya (yang ternyata sudah tidak dijual di tukang-tukang tanaman), saya harus undurkan rencana pembuatan komposnya. Tapi senangnya ketika di tukang tanaman kedua yang saya kunjungi, saya dapat oleh-oleh ilmu membuat kompos yang berbeda dari satu pembeli yang ternyata pelaku berkebun juga.

Semua hasil pembelajaran lebih banyak dari proses praktik yang saya lakukan berdasarkan pemahaman pribadi setelah mencerna instruksi manual yang dikirim bunda Efi di WAG, haha. Ini bisa dikatakan sebagai cara belajar saya secara kinestetik ya. Tapi semua rasanya akan jadi pengalaman berharga saya ketika belajar cara-cara berkebun dasar. Saya yang visual ini akan selalu menantikan saat-saat untuk kopdar rumbel berikutnya, karena disanalah saya bisa lebih banyak menyerap ilmu dengan melihat praktik langsung dan menyimak segala diskusi. Tanggal 10 Mei nanti kami akan kopdar lagi in syaa Allah. Sungguh tidak sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s