Tantangan level 4: belajar di majelis ilmu

Pengamatan 4

Ahad lalu saya dan pak suami berkesempatan untuk mengikuti kajian Majelis Dhuha Keluarga (MDK) yang diselenggarakan oleh Komunitas HEbAT Jakarta bekerjasama dengan DKM Masjid Al-Iman Cipinang Jakarta Timur. Masyaa Allah, luar biasa; dua kata untuk pematerinya yaitu ustadz Adriano Rusfi dan materi yang beliau sampaikan kepada kami jamaah sekalian yaitu mengenal fitrah seksualitas. Hanya saja, kali ini saya tidak bicara tentang materi yang beliau sampaikan ya, tetapi lebih kepada pengamatan gaya belajar sesuai dengan tantangan 10 hari dari kelas bunda sayang IIP.

Untuk saya pribadi, materi kelas hari itu cukup membuka wawasan saya tentang ilmu yang dimiliki bang Aad (nama panggilan beliau). Kebetulan saya dan suami tidak bisa menghadiri materi ke-2 MDK dimana beliau juga yang menjadi pemateri, jadi ini kesempatan pertama kami belajar dari beliau. Psikolog UI ini dengan gamblang dan lugas menjelaskan materi demi materi, dan walaupun di awal kelas saya sempat tidak kuat menahan kantuk, tapi setelah tertidur sejenak saya bisa lebih fresh menerima ilmu, hehe. Saya sangat suka belajar dengan cara menghadiri kajian langsung seperti ini, di luar kebiasaan mengantuk tadi ya. Kalau kebiasaan itu sih sudah berkurang banyak, sejak semangat menuntut ilmu pertama kali berkobar kembali di dada setelah sekian lama hidup di zaman jahiliyah karena kurang ilmu.

Nah dalam kelas seperti kajian MDK ini, saya menemukan kemudahan untuk menyerap ilmu dengan mendengarkan materi dari guru langsung sambil mata membaca presentasi yang beliau tampilkan di slide. Presentasi sangat membantu saya yang pendengarannya kurang ini, karena bila hanya mendengarkan materi yang diucap lisan, rasanya saya harus ekstra konsentrasi untuk mendengarkan suara si guru dan kemudian berkonsentrasi untuk mencerna ilmu yang disampaikan. Repot kan? Hehe. Presentasinya sendiri tidak harus yang penuh gambar atau materi visual lainnya, malah bisa dalam bentuk teks saja. Yang penting presentasi tertulis dan dapat dibaca.

Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata/penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak atau dititikberatkan pada peragaan/media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.

Disini saya menemukan kesesuaian bahwa penglihatan memang memegang peranan penting dalam gaya belajar saya. Tampilan visual memang menarik mata untuk menyerap ilmu lebih baik, tapi visualisasi pertama yang masuk ketika guru hadir di depan mata pun sudah cukup bagi saya. Saya harus melihat langsung guru dan mendengarkan pemaparan beliau untuk mengerti materi pelajaran. Bahasa tubuh dan ekspresi muka guru menjadi kesatuan paket yang akan saya membantu saya menyerap materi. Saya tidak harus duduk di barisan depan, tapi yang terpenting adalah saya dapat melihat si guru dengan jelas. Karena pendengaran saya agak kurang, visualisasi dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh guru menjadi pelengkap yang mengharmonisasi antara telinga dan mata.

Saya juga memiliki masalah untuk mengingat instruksi verbal, apalagi dalam keadaan ribut. Karena konsentrasi terpecah, otak mengalami kesulitan untuk menyerap instruksi verbal. Solusi terbaik adalah dengan meminta guru untuk mengulang materi yang disampaikan atau dengan materi yang tertulis. Ini yang salah satu yang saya amati selama mengikuti kajian bang Aad lalu, presentasi yang beliau tuliskan mempercepat saya untuk menyerap materi.

Pengamatan 5

Kali ini saya mengambil pengamatan dari sisi pengaruh noise terhadap penyerapan ilmu atau materi yang disampaikan oleh guru.  Definisi noise sendiri adalah sinyal gangguan yang bersifat akustik atau suara. Noise ini dikatakan mengganggu jika mempengaruhi kualitas penerimaan ilmu oleh indera dan lalu otak kita.

Ketika mengikuti kajian MDK HEbAT ahad lalu, saya mengamati bahwa berbagai noise banyak muncul selama kajian, mulai dari kualitas speaker panitia yang kurang sesuai untuk area majelis yang terbuka di masjid, hingga suara riak riuh anak-anak peserta yang “ikut belajar” bersama orangtuanya. Begitulah suasana majelis ilmu pagi itu.

Apakah keributan ini lantas mengganggu konsentrasi saya sebagai peserta dalam menyerap ilmu? Jawabannya Alhamdulillah tidak. Saat itu saya merasa tidak mudah terganggu dengan keributan yang terjadi di sekitar saya, walaupun sesekali saya menoleh ke samping kiri atau kanan bila ada gerakan ekstrem yang dilakukan oleh anak-anak. Ya, itu mungkin bagian dari refleks diri saja sebagai orang dewasa ketika mengawasi anak-anak.

Saya lalu bertanya-tanya, apakah ini ada kaitannya dengan gaya belajar visual? Menurut penjelasan yang diterima, salah satu ciri gaya belajar visual adalah tidak mudah terganggu oleh keributan. Terlepas dari kesesuaian ciri tersebut dengan yang terjadi di MDK, saya mengamati bahwa saat itu saya berusaha mengumpulkan konsentrasi penuh tertuju pada satu titik yaitu pada materi yang disampaikan bang Aad secara verbal maupun tertulis, sementara yang lainnya saya abaikan. Ini rasanya yang saya lakukan jika ingin menyerap ilmu yang disampaikan dalam kondisi ramai. Dan ini berhasil, karena kedua indera penglihatan serta pendengaran bekerjasama dengan baik untuk dapat menyerap materi. Ketika kedua indera ini difokuskan untuk menyimak materi yang disampaikan guru, maka kita tidak mudah terganggu oleh keramaian atau keributan. Energi sudah terserap ketika mata dan telinga harus berkonsentrasi melihat ekspresi dan gaya tubuh, serta mendengarkan penyampaian si guru.

Lalu bagaimana dengan musik? Saya pribadi menyukai musik, akan tetapi bukan tipe orang yang belajar harus ditemani suara musik. Dan walaupun saya bisa belajar dalam keadaan ramai dan ribut, terutama untuk kegiatan menghafal saya tetap condong untuk menyendiri di tempat sepi agar konsentrasi bisa lebih penuh. Ketika menuliskan tantangan ini pun, saya lakukan dalam keadaan lingkungan yang cukup tenang. Samar-samar musik yang mengalun dari speaker tetangga yang sedang mengadakan hajat tidak begitu mengganggu. Kecuali gangguan suaranya terlalu kencang atau memang musik yang saya tidak suka, saya masih bisa terima suasana ramai.

Ketika membaca ulang penjelasan gaya belajar visual di buku personality test “Who Am I”, saya baru paham bahwa yang lebih mengganggu bagi pembelajar dengan gaya belajar visual adalah polusi visual, bukannya noise atau polusi dalam bentuk suara. Saya tidak bisa belajar bila keadaan kamar berantakan atau kotor. Biasanya harus dibersihkan dulu. Selain itu, gangguan visual juga bisa ditemukan pada keadaan dimana lampu penerangan kamar kurang terang atau posisi belajar yang dekat dengan pintu atau jendela sehingga visual kita mudah teralihkan oleh sesuatu yang lalu lalang atau apapun yang tidak sengaja terlihat dari pintu atau jendela.

Wah, alhamdulillah ya, saya bisa belajar banyak hanya dari dua pengamatan yang terkait dengan ciri belajar visual. Dari dua pengamatan di atas, didapatkan kecocokan bahwa saya adalah pembelajar dengan gaya visual. Mudah-mudahan saya bisa belajar dari kekurangan serta kelebihan diri yang saya temukan selama melakukan pengamatan, untuk memperbaiki cara saya belajar dan berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling saya. Aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s