Tantangan level 4: memotivasi suami untuk belajar

Pengamatan 6

Kali ini pengamatannya kepada gaya belajar pak suami. Sepulang dari kajian MDK Fitrah Based Education, saya sempat menanyakan kepada beliau apa kesan-kesannya setelah menimba ilmu dari bang Aad. Namun diskusi hanya berjalan sebentar, saya baru sempat mengulik-ulik pendapat pak suami pada beberapa hari setelahnya.

Pertanyaan saya lebih tertuju kepada format apa yang paling bisa membuat beliau menyerap materi dari seorang guru. Menurut beliau, cara yang paling efektif adalah dengan hadir di majelis ilmu seperti di MDK tersebut. Sama seperti saya, beliau harus melihat langsung sang guru dan mendengarkan pemaparan beliau untuk mengerti materi pelajaran. Dari sini, saya memperkirakan beliau juga memiliki gaya belajar visual.

Saya coba flashback. Beberapa kali saya dorong pak suami untuk belajar mengenai suatu materi dengan berbagai stimulus media. Saya sering mengajak pak suami untuk belajar melalui media video tapi itu sangat tergantung dengan minat beliau saat itu, apakah sedang ingin belajar atau tidak, dan apakah tema video tersebut memang menarik untuk beliau atau tidak. Saya pun berharap beliau bisa banyak belajar materi pengasuhan ketika mengikuti grup learning FBE, tapi seringkali beliau tidak membaca materi-materi panjang yang dishare di grup. Jadi opsi membaca tidak memenuhi karakteristik gaya belajar pak suami. Sementara itu, cara belajar melalui media rekaman pun tidak menarik minat beliau. Beliau lebih suka menggunakan media yang ada gambarnya atau menggunakan indera penglihatannya sendiri ketika belajar. Nah kan, saya bingung, haha.

Untuk memaksimalkan pembelajaran pak suami, rasanya saya harus sering-sering mengajak beliau untuk wisata kajian supaya bisa menerima ilmu terlebih dahulu. Walaupun tantangan terbesarnya adalah untuk menarik minat beliau terhadap kajian yang saya ajukan. Karena beliau juga orang yang sangat pemilih, baik selektif terhadap materi kajian maupun terhadap pemateri kajian tersebut. Salah satu strategi saya yang lain adalah dengan memutarkan rekaman video dari pemateri-pemateri yang beliau sukai.

Memotivasi pak suami itu betul-betul butuh kelihaian tersendiri yang saya belum temukan caranya. Tapi saya tetap berbaik sangka, karena saya melihat satu kebiasaan baik beliau yang masih rutin dijalankan adalah pergi subuh berjamaah ke satu masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami, dan lalu mengikuti kajian ba’da subuh di sana yang setiap hari memang dilaksanakan. Kalau beliau tidak punya semangat untuk belajar, rasa-rasanya tidak mungkin beliau sempatkan setiap hari untuk pergi ke masjid yang jauh itu. Semangat kakak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s