Tantangan level 4: memahami gaya belajar

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Di game level 4 tantangan 10 hari kelas bunda sayang IIP Jakarta, saya mengalami kesulitan untuk mengerjakan tantangan yang ada, mulai dari blank ide untuk mengerjakan tantangan, mood yang tidak jua tergerak untuk mulai mengerjakan tantangan dan menuliskan, hingga hasrat untuk menunda-nunda pekerjaan yang begitu kuat.

Setelah mengintip beberapa setoran bunprof lainnya di FB, sebenarnya mood saya pelan-pelan mulai terkumpul. Hanya saja, serpihan ide-ide untuk menuliskan setoran baru pelan-pelan terkumpul ketika saya sedang berada di depan laptop saat ini. Duh beratnya untuk memulai, tapi kemalasan ini harus saya lawan kalau ingin terus belajar di kelas saat ini.

Jadi inilah serpihan-serpihan pengamatan yang saya lakukan untuk menjawab game level 4 – tantangan 10 hari yaitu tentang materi memahami gaya belajar anak. Pengamatan saya lakukan kepada diri saya sendiri dan tentu pak suami juga, untuk memudahkan kami mengamati gaya belajar anak-anak kami kelak. Karena kami pun masih melakukan proses belajar yang terus menerus, bahkan hingga ke liang lahat, maka kami harus bisa memaksimalkan proses belajar kami sendiri untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti yang dikatakan oleh ibu Septi Peni, semua ini menjadi penting agar kita bahagia menjalankan proses belajar. Oh how much I want to love to learn.

Pengamatan 1

Saya melakukan pengamatan awal berdasarkan tabel pada materi yang diberikan di kelas bunda sayang.

wp-image-1042154990

Dengan tabel di atas, saya mengambil poin-poin yang paling mewakili diri saya sendiri.

  1. Menyukai hal-hal yang bersifat detail dan rapi (visual)

Walaupun saya mungkin bukan termasuk orang yang rapi, tapi pada dasarnya saya menyukai segala sesuatu yang bersifat detil dan rapi.

  1. (Kadang) suka membaca dengan suara keras, terutama untuk sesuatu atau pengetahuan yang membuat saya bingung. Jadi saat itu biasanya saya akan mengulang membaca sesuatu dengan suara lebih keras, dari yang awalnya hanya membaca dalam hati atau dengan suara pelan. Dengan begitu, rasanya saya seperti sedang mengumpulkan konsentrasi untuk berusaha mencerna apa yang sedang saya baca. Dan itu biasanya sangat membantu. (auditory)
  2. Untuk poin gambar atau ilustrasi di buku catatan, seingat saya tidak. Yang ada hanyalah banyaknya catatan-catatan kecil di buku pelajaran yang saya buat bila menemukan hal-hal baru yang tidak dijelaskan sebelumnya.
  3. Saya berbicara menggunakan tangan atau gesture, HANYA saat diperlukan saja. Selebihnya tidak.
  4. Suka berbicara sendiri ketika menyimpan dan mengingat suatu informasi (auditory)

Saya orang yang cenderung mudah ingat sesuatu tapi juga mudah lupa. Biasanya sesuatu akan mudah saya ingat sambil saya ucapkan.

  1. Ketika berpikir kadang suka menutup mata sambil membayangkan (visual)

Ini tidak persis seperti itu sih. Tapi biasanya ketika lupa sesuatu, saya berpikir dengan berbicara pada diri sendiri sambil berusaha untuk mengingat-ingat kembali peristiwa yang terkait dengan sesuatu yang saya lupakan tadi itu, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum atau sesudahnya. Ingatan-ingatan yang muncul bentuknya lebih lisan daripada gambar.

  1. Untuk poin lebih mudah mengingat sesuatu dengan cara dilakukan daripada yang dibaca atau didengar, saya masih belum bisa memutuskan mana yang lebih dominan saya lakukan. Ini membutuhkan pengamatan lebih lanjut.
  2. Saya lebih banyak mengemukakan ide dengan ekspresi tulisan daripada dengan ekspresi kata atau verbal.
  3. Yes, saya menyukai pelajaran yang berhubungan dengan praktik langsung (kinestetik).

Dari beberapa hal di atas, saya membuat kesimpulan awal bahwa gaya belajar saya adalah kombinasi antara visual dan auditory. Wah, alhamdulillah.

Dan masih menggunakan tabel yang sama, saya mencoba membuat pengamatan gaya belajar pak suami. Dan inilah hasilnya.

  1. Beliau menyukai hal-hal yang bersifat detail dan rapi (visual).

Pak suami, walaupun aslinya orangnya kurang rapih, katanya juga menyukai segala sesuatu yang bersifat detil dan rapi. Ini lebih terlihat dalam melakukan pekerjaan di kantor.

  1. Beliau suka membaca dengan suara keras (auditory).

Ini betul sekali. Kata beliau, ketika ujian sekolah beliau membaca soal-soal dengan keras sampai sering ditegur oleh pengawas ujian, haha.

  1. Tidak banyak gambar atau ilustrasi di buku catatan beliau.
  2. Dalam melaksanakan pekerjaan kantor, beliau banyak berbicara menggunakan tangan atau gesture. Tapi dalam keseharian, saya tidak melihat beliau seperti itu. Jadi sepertinya tangan dan gesture tubuh hanyalah alat bantu dalam melakukan pekerjaan.
  3. Beliau suka berbicara sendiri ketika menyimpan dan mengingat suatu informasi (auditory).
  4. Menurut suami, beliau lebih mudah mengingat sesuatu dengan cara dilakukan daripada mengingat pengetahuan yang dibaca atau didengar (kinestetik).
  5. Suami bukanlah orang yang mudah mengungkapkan ekspresinya, baik melalui media verbal maupun dalam bentuk tulisan. Tapi jika dibandingkan diantara keduanya, mungkin beliau lebih sering mengungkapkan ekspresi melalui verbal. Ini yang saya perhatikan. (auditory)
  6. Beliau menyukai pelajaran yang berhubungan dengan praktik langsung (kinestetik).

Dari pengamatan beberapa poin di atas, gaya belajar suami ternyata condong kepada auditory. Padahal saya pikir beliau lebih mudah belajar dengan gaya visual. Mungkin ini bisa didalami lebih lanjut pada pengamatan-pengamatan berikutnya. Mari lanjutkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s