Proyek keluarga: hijrah to syariat

Izinkan saya untuk menceritakan kenapa saya menjadikan agenda “hijrah to syariat” ini sebagai proyek keluarga. Sebenarnya ini adalah harapan saya kepada suami yang sudah lama disampaikan namun belum juga terlaksana. Saya berharap melalui momentum proyek keluarga ini, saya bisa mendorong paksu untuk lebih bersemangat menjalankan hal yang sebenarnya merupakan kewajiban beliau ini.

Suami masih menggunakan rekening bank konvensional karena ini merupakan peraturan perusahaan dimana beliau bekerja sebagai rekening alokasi gaji. Saya sudah lama membujuk beliau agar bersegera berhijrah dengan membuka rekening di bank syariah, namun sampai saat ini belum berhasil juga. Sudah dibujuk berbagai cara, tapi belum dijalankan juga, hehe. Ada beberapa kemungkinan, suami belum punya waktu secara seksama untuk memikirkan agenda ini serta untuk mengurusnya, juga suami merasa ribet mengurus tetek bengeknya, tapi mudah-mudahan bukan karena malas ya, hehe. Oleh karena itu, walaupun sebenarnya pelaksana utama proyek ini adalah pak suami, tapi saya tetap terlibat sebagai penanggung jawab merangkap cheerleader karena pak suami adalah tipe orang yang harus dimotivasi dan didorong untuk melakukan sesuatu hal yang sepenting ini, hehe.

Dari judul proyeknya, terlihat proyek keluarganya masih belum spesifik ya? Baik, saya jelaskan lebih lanjut.

Proyek Hijrah to Syariat

Penanggungjawab: Istri

Pelaksana: Suami

Durasi: 1 bulan (26 Maret – 31 April 2017)

Pelaksanaan:

Pekan pertama: membuka rekening di bank syariah, mencari referensi ilmu terkait riba bunga bank dan cara penyalurannya untuk memperkuat motivasi suami

Pekan kedua s/d keempat: memindahkan tabungan dari rek bank konvensional ke rek bank syariah, menghitung total bunga bank yang diterima selama ini, serta menyalurkannya ke jalur-jalur yang sesuai syariat, menggunakan rek bank syariah untuk aktivitas utama perbankan

Pekan kelima: memindahkan gaji bulan berikutnya langsung ke rek bank syariah.

HARI KELIMA

Alhamdulillah kalau niatnya dikuatkan pada kebaikan, memang insyaa Allah selalu dimudahkan. Tanggal 27 Maret 2017 lalu saya sedikit memaksa suami untuk pergi ke salah satu cabang bank syariah terdekat, mumpung beliau sedang cuti. Ogah-ogahan awalnya, tapi beliau tidak bisa berkelit lagi. Tadinya kami mengira mendapat antrian panjang di CS dan saya sudah khawatir suami akan berubah pikiran untuk membatalkan, tapi baru kami duduk sebentar menunggu, tiba-tiba pak satpam bank mempersilahkan kami naik ke CS di lantai dua yang sedang kosong. Yes alhamdulillah. Tidak butuh waktu terlalu lama, akhirnya suami punya SIM baru, yaitu Surat Izin Menabung (di bank syariah), hehe. Dan untuk memudahkan aktivitas untuk cek saldo transfer dan lain-lainnya, paksu sekaligus meminta dibukakan aplikasi mobile. Wah, saya jadi mupeng untuk pasang aplikasi juga, cuma sayang handphone saya belum memungkinkan untuk tambah aplikasi lagi hikss.

HARI KEENAM

Setelah agenda pertama berhasil, selanjutnya adalah memindahkan tabungan yang ada di rekening bank konvensional paksu ke rekening bank syariah, dengan menyisakan saldo bunga bank yang selama ini diterima. Paksu merasa kesulitan untuk menghitung saldo bunga bank karena selain sulit minta izin dari kantor untuk ke bank, bank konvensional tempat beliau menjadi nasabah memang terbatas untuk diakses.

Saya kemudian mencari referensi solusi dengan bertanya ke beberapa ustadz. Setelah kemudian berdiskusi dengan suami, nampaknya tidak ada cara lain yang lebih sesuai syariat selain menghitung saldo bunga bank dengan menanyakan ke pihak bank langsung. Suami sudah sepakat untuk menjalankan rencana ini, hanya saja belum tahu kapan dan dimana. Mudah-mudahan ini segera ada solusinya.

Sementara itu, saya mengambil keputusan untuk terlebih dulu mengeluarkan dari tabungan suami yang sekiranya merupakan perkiraan saldo bunga bank dengan perhitungan 2,5% dari saldo tabungan di akhir Maret 2017. Saya tahu ini belum sesuai prosedur syariat, tapi ini cara kami mencicil untuk mengeluarkan dana riba tersebut. Yang penting kami niatkan dulu untuk membersihkan harta suami dengan mengeluarkannya untuk keperluan yang sudah sesuai syariat. Kami mengambil pendapat ulama yang membolehkan mengambil bunga bank dengan menyalurkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Ini sambil menunggu suami mengurus perhitungan bunga bank ke bank.

HARI KETUJUH

Menjalankan proyek ini memang tidak bisa buru-buru. Apalagi pelaksananya adalah suami yang jam kerjanya berbenturan dengan jam buka bank. Saya harus banyak bersabar dalam mengingatkan suami agar bersegera menyelesaikan tiap agendanya. Baru ahad lalu (2/4) beliau memindahkan sisa tabungan di bank konvensional ke rekening bank syariahnya. Alhamdulillah pelan-pelan tapi kelakon, begitu menurut peribahasa Jawa. Artinya, biar pelan tapi maju terus, hehe. Itu juga saya tidak perlu ingatkan paksu, tiba-tiba saja beliau ke atm bank dan mengurus perpindahan dana tabungannya.

Saya jadi ingat, sepulangnya dari kami dari bank syariah ketika mengurus pembukaan tabungan paksu dulu, saya memuji paksu yang sudah mau bersabar ketika mengurusnya. Kata suami, beliau sebenarnya senang akhirnya tidak perlu lagi dikejar-kejar soal tabungan syariah oleh saya, haha. Padahal seharusnya beliau lakukan itu ikhlas karena perintah Tuhannya, bukan karena saya. Haduh paksu bercanda seperti itu… Tapi alhamdulillah saya coba senantiasa ingatkan beliau untuk niatkan amalan hijrah ini untuk Allah ta’ala, supaya menjadi ladang pahala dan membawa keberkahan hidup kami di dunia, juga untuk keberkahan rezeki anak-anak kami kelak. Makanya saya jadi terharu ketika suami mengurus perpindahan dana tabungannya di atm yang kali itu atas inisitiatif beliau sendiri. Alhamdulillah ya Allah.

Agenda utama suami selanjutnya dalam proyek ini adalah untuk meminta perhitungan saldo bunga bank yang benar ke petugas bank. Untuk setiap aktifitas yang membutuhkan rekening dan atm bank, saya juga coba ingatkan pak suami untuk terbiasa menggunakan rekening bank syariahnya yang baru, daripada yang konvensional.

Pelan-pelan kami beriktiar berhijrah menuju syariat. Meninggalkan yang syubhat kadang kala lebih sulit daripada meninggalkan yang sudah jelas haram. Tapi manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

Doakan kami ya, agar Allah mampukan untuk menjalankan agenda-agenda berikutnya untuk proyek ini. Semoga Allah senantiasa luruskan niat kami untuk berhijrah menuju syariat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s