Melatih kemandirian dan #tantangan10hari

Ini adalah lanjutan tugas Tantangan 10 Hari di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Sudah masuk ke tugas level 2 dan tantangannya makin berat, eh bukan tapi makin menantang dan menarik ding, hehe.

Ingat materi komunikasi produktif untuk diri sendiri, apapun yang memberikan kesan sulit harus diubah persepsinya menjadi sebuah tantangan, agar hati dan pikiran semakin bersemangat untuk mencari solusi dan tidak terpengaruh oleh pengaruh negatif dari istilah sulit atau masalah. #semangatbune.

Sudah lewat beberapa hari dari jadwal pemberian materi dan tugas tapi saya belum menuliskan satupun praktik kemandirian yang sebenarnya sudah pelan-pelan dikerjakan, ke blog ataupun FB. Hmm.. sebenarnya karena saya belum betul-betul merumuskan list kemampuan kemandirian apa saja yang ingin dilatih untuk diri sendiri. Kalau untuk suami, sebenarnya lebih mudah karena saya langsung tahu apa yang perlu didorong untuk beliau. Tapi untuk saya pribadi, rasanya banyak hal yang saya sudah kerjakan secara mandiri, karena sebagai anak pertama di keluarga dari kecil memang sudah terbiasa seperti itu. Alhamdulillah ya, tapi memang membingungkan ini.

Banyak momen tugas-tugas IIP menjadi momen tersendiri untuk bergerak melakukan perubahan dengan hati yang senang dan pikiran yang bersemangat. Kapan lagi sih saya ‘dipaksa’ untuk melakukan perubahan seperti itu? Jadi memang ini momen yang pas, dan maka dari itu sepertinya saya seperti butuh waktu agak lama untuk merumuskan list kemampuan kemandirian untuk saya pribadi. Padahal harusnya ga ngejelimet yaa. Sampai tiba kepada saya FAQ Tantangan 10 Hari Game Level#2.

FAQ Tantangan 10 Hari Game Level#2

Bagaimana teknisnya one week one skill? Boleh lebih dari satu skill nggak? Satu skill ini untuk satu pekan atau selama 10 hari tantangan?

▶ One week one skill itu “mantra” untuk mengingatkan kita agar fokus pada 1 ketrampilan dulu per minggunya, tidak menuntut anak untuk terampil segalanya.

▶ Jangan berpindah kemana-mana sebelum berhasil dengan 1 skill. Maka minimum 1 skill.

Sehingga kalau kita tidak pernah fokus mendidik kemandirian anak, bisa jadi :

  1. Cepat marah, karena membandingkan dengan anak lain seusianya,
  2. Terlalu menuntut anak harus bisa A, B, C padahal melatihnya secara konsisten saja tidak pernah,
  3. Inginnya semua diajarkan, padahal 1 aja belum ada yang sukses.

Jleb. Dua kalimat terakhir itu benar-benar menohok hati saya. Hehe. Saya saja masih belum konsisten melatih kemandirian diri sendiri dan banyak menyisakan peer-peer kemandirian yang belum bisa dikatakan sukses.

Saya coba diskusikan lagi tugas ini dengan suami. Jawaban beliau yang mengatakan bahwa selama ini saya justru sudah cukup mandiri dalam mengerjakan berbagai amanah dan tanggung jawab membuat saya berpikir kembali. Sepertinya program kemandirian untuk diri saya sendiri akan berkutat pada penguatan kemampuan kemandirian yang sudah dan sedang saya jalankan pada beberapa waktu terakhir ini. Banyak yang harus terus dilatih supaya konsisten, termasuk menulis blog hehe. Oke bun, lanjutkan. Bismillah.

#Hari1 (22 Februari 2017) – Mengambil keputusan

Pagi itu kenalan kami di PLN memenuhi janji untuk memasang meteran listrik di bangunan rumah. Pak suami kebetulan belum berangkat kerja, akhirnya pasang body untuk stand by mengontrol pekerjaan. Awalnya beliau meminta bantuan saya untuk ikut mengontrol dan meminta saran terkait lokasi pemasangan meteran. Saya tidak langsung turuti, tapi menanyakan pendapat beliau dulu. Setelah pastikan beliau sudah memiliki beberapa opsi pilihan, saya coba negosiasi agar beliau yang langsung memutuskan. Awalnya beliau masih keukeuh supaya saya yang memutuskan, tapi karena saya terus dorong bahwa opsi yang beliau miliki cukup masuk akal, akhirnya beliau sendiri yang mengambil keputusan, dengan mengambil opsi yang beliau anggap paling aman untuk kondisi rumah kami. Yes, it’s time for leader to take control.

#Hari2 (23 Februari 2017) – Melatih kerapihan

Semalam, saya baru menyampaikan kepada suami tentang materi kelas bunsay dan tantangan 10 hari. Saya memuji ketegasan beliau dalam mengambil keputusan saat bertemu petugas PLN kemarin pagi. Lalu saya tawarkan latihan kemampuan kemandirian bersama kepada suami agar beliau juga ikut bersemangat. Kami bernegosiasi dan malam itu beliau setuju untuk terus melatih kemandiriannya dalam hal kerapihan seperti melipat handuk dan perlengkapan shalat setelah selesai digunakan.

Dan pagi ini kejutan sekali melihat suami sudah pasang aksi duluan dalam memperbaiki kerapihannya. Biasanya beliau ogah-ogahan dan biarkan saya yang bekerja, tapi beliau kali ini dengan sigap melipat handuk dan perlengkapan shalat persis seperti cara saya melipatnya, hehe. Ya walaupun beliau kemudian berpuas diri memamerkan hasil latihannya, saya tetap harus kasih acungan jempol untuk usaha beliau.

#Hari3 (24 Februari 2017) – Memasak dan menjelajah

Hari yang padat. Saya semestinya lebih awal mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah Mamah, tapi mendadak dapat kabar duka meninggalnya ibu dari seorang kawan baik. Oke perubahan rencana. Daftar pekerjaan yang harus dilakukan mulai dari mencuci pakaian, setrika pakaian, kalau masih sempat memasak untuk menu makan siang, lalu berangkat takziyah ke Klender, baru sore hari pulang ke rumah Mamah di Tangerang.

Semuanya adalah tantangan luar biasa karena banyak yang harus dikerjakan di waktu padat. Saya bahkan tidak terpikir untuk memasak supaya tidak terlalu kesiangan keluar rumah, apa daya aktivitas mencuci menguras banyak energi. Di sisi lain saya akan meninggalkan rumah Ibu dan itu berarti koleksi sayur di kulkas Ibu harus dikeluarkan. Jadilah siang itu saya terburu-buru mengolah makanan. Tempe dibumbu dan digoreng, dipenyet bersama tahu goreng, sambal dan sisa daun kemangi. Sayur selada praktis dilalap saja dengan tambahan tomat.

Tantangan berikutnya adalah untuk melakukan perjalanan takziyah ke Klender lalu pulang ke rumah orangtua di Tangerang sendirian. Dengan SIM (surat izin menjelajah) dari suami, saya mantapkan niat untuk bertemu kawan baik dan memberikan dukungan moril atas kepergian ibundanya. Kali ini tidak bisa menggunakan jasa ojek online karena jarak tempuh yang cukup jauh dari Jakarta Selatan dan saya khawatir turun hujan, saya menggunakan jasa transportasi kereta. Cukup mengintip google maps sebelum perjalanan (untuk menghemat baterei modem mifi saya) dan memastikan saya harus turun di stasiun terdekat, alhamdulillah saya berhasil tiba di tempat tujuan dengan selamat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke tempat berikutnya.

Untuk suami, beliau sukses menjalankan tantangannya untuk merapihkan handuk, pakaian dan peralatan shalatnya dan meletakkan barang-barang tersebut sesuai tempatnya. Sebagai tambahan, pagi itu saya perhatikan beliau langsung mengembalikan kitab al-Quran ke lemari buku kami usai membaca. Biasanya sih beliau cuma tinggalkan di meja untuk saya rapihkan. Well done.

#Hari4 (25 Februari 2017) – Mengamati kemandirian si kakak

Pagi hingga ke sore hari saya masih di rumah Mamah. Biasanya ini kesempatan untuk bersantai dan lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan orangtua dan adik-adik. Tidak banyak hal terkait praktik kemandirian yang mampu saya lakukan, karena saya-nya juga sedang ingin menikmati waktu santai hehe. Tapi keluarga sebenarnya sempat terpisah oleh dua agenda beda. Mamah dan adik beserta anak-anaknya atau keponakan-keponakan saya pagi itu jalan-jalan ke daerah Maja Tangerang untuk melihat satu kawasan perumahan yang baru akan dibangun. Sementara saya dan suami yang datang menyusul di pagi hari punya agenda sendiri untuk menjenguk tukang rumah kami yang sedang sakit. Siang hari kami baru berkumpul lagi di rumah Mamah.

Pengamatan saya tertuju pada bocil keponakan saya yang tertua, kakak Abilal, usia 6 tahun. Kalau kami berkunjung ke rumah Mamah, biasanya dia akan manja dan ingin sering bermain bersama saya ataupun paksu. Nah sepulang dari perjalanan ke kota Maja, kakak istirahat di rumah Kakek Neneknya dan bermain di kamar kami berdua. Karena sudah waktunya, paksu mengajak kakak untuk tidur siang. Sempat bercanda-canda di awal, tapi tidak butuh waktu lama kakak sudah tidur. Kuncinya yang saya perhatikan adalah dengan memposisikan kakak untuk siap tidur dan kami sebagai orang dewasa yang menemani harus juga dalam posisi siap tidur. Mata dipejamkan, baca doa tidur, dan posisi badan tenang. Kakak cukup memegang gulingnya dan sambil kami menepuk-nepuk punggungnya. InsyaaAllah kakak bisa cepat tidur.

Untuk urusan tidur, kakak sudah cukup mandiri dan tidak mengalami kesulitan. Tapi kendalanya adalah masih perlu dikeloni (ditemani tidur), belum bisa tidur sendiri. Nah soal ini sebenarnya sudah saya sampaikan ke adik saya, mamah si kakak, untuk membuatkan kamar anak-anak sendiri dan mulai melatih mereka untuk tidur terpisah. Tapi memang adik saya belum terlalu paham urgensi pemisahan kamar anak dan orangtua. Ini jadi peer saya untuk mendiskusikannya bersama mamah si kakak.

Ohiya, untuk tantangan suami, sore itu setelah kami pulang ke rumah saya cek kondisi kamar masih dalam keadaan rapi. Handuk, peralatan shalat semuanya rapi pada tempatnya, plus tempat tidur juga beliau bereskan. Bravo.

#Hari5 (26 Februari 2017) – Belajar untuk belajar

Pagi itu sebelum subuh, tiba-tiba saya teringat, kami seharusnya berangkat pagi ini untuk mengikuti kajian parenting ustadz Bendri Jaisyurrahman di Masjid Nurul Amal Aup Pasar Minggu. Segera saya bangunkan suami supaya tidak terlewat.

Kami tiba di masjid agak terlambat karena sudah lewat satu rakaat, namun alhamdulillah kami bisa mengikuti kajian ustadz. Materi “Taman Surga dalam Rumah Kita”, yang beliau sampaikan walaupun belum sampai tuntas, sangat memberikan pencerahan untuk melengkapi kurikulum Keluarga Surga kami. Saya pribadi sangat puas karena bisa belajar dari beliau dan tentu saja karena bisa belajar bersama suami.

Praktik kemandirian belajar saya coba tekankan kepada suami yang sedang mengevaluasi proses belajarnya. Saya tanyakan ulang materi-materi yang disampaikan ustadz kepada suami dan ketika beliau lupa beberapa poin, saya tanyakan alasannya. Dalam kondisi mengobrol santai, saya coba diskusikan bersama suami tentang cara belajar yang sebaiknya beliau lakukan supaya lebih efektif hasilnya. Saya lalu membagikan pengalaman belajar saya kepada suami agar beliau bisa memahami kelebihan dan kekurangan dari metode saya ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi beliau. Alhamdulillah sih beliau sudah cukup bersemangat untuk belajar, dengan paham nikmatnya thalibul ‘ilmi. Hanya saja penyerapan ilmunya masih kurang efektif.

#Hari6 (27 Februari 2017) – Latih dan percayakan

Sekitar pukul 6.30 WIB pagi, keadaan kamar masih berantakan. Handuk belum dilipat. Pakaian masih di atas tempat tidur. Al-quran juga masih di meja. Saya lalu memastikan ke suami, apakah ia berencana untuk membereskan barang-barangnya? Beliau jawab iya. Saya lalu pastikan lagi ke beliau, apakah saya cuma harus membiarkan dulu keadaan berantakan itu sampai beliau bereskan sendiri? Beliau jawab betul sambil nyengir. Oke kalau begitu, saya cuma harus bersabar sebentar sambil wait and see kondisi berikutnya. Dan betul saja, setelah rebahannya dirasa cukup, suami tetap konsisten membereskan barang-barangnya sebelum berangkat kerja. Alhamdulillah. Sepertinya saya saja yang harus bersabar dalam melatih suami dan percayakan apa yang sudah ditugaskan akan dilaksanakan.

Sementara saya, baru hari ini saya betul-betul berpikir tentang latihan kemandirian yang diprogramkan untuk tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang. Sebenarnya bukan program baru, tapi memang program yang sudah lama dijalankan untuk program bunda produktif saya sendiri, yaitu memasak.

Bagi saya, memasak masih menjadi tugas harian yang kadang sulit dilaksanakan. Karena masih tinggal serumah dengan mertua, saya kadang dimanjakan oleh masakan beliau. Sementara saya juga ingin menjalankan program memasak sehat untuk diri saya sendiri, minimal memperbanyak jam terbang saya di dapur. Kalau saya tidak berlatih dari sekarang, ya nanti kerepotan sendiri ketika sudah hidup mandiri, terpisah dari orangtua. Jadi tiap hari memang terasa perjuangannya, melawan rasa malas, tidak moody, dan bahkan rasa tidak percaya diri di dapur.

Hari itu, alhamdulillah saya masih sempat belanja ke tukang sayur di antara keribetan ke bank dan kemudian terburu-buru harus pulang ke rumah karena mendadak tukang masuk kerja. Yang lebih ribet adalah saya harus pintar-pintar menyusun rencana menu yang bisa diolah tanpa harus mubazir dan menyesuaikan stok sayuran dan lauk mentah yang masih ada di lemari es di rumah. Sepulang dari bank saya segera goreng tahu dan buat lalap tomat untuk makan siang, karena sudah sangat lapar. Sementara sore saya baru memasak sayur tumis tauge dari tauge yang saya beli di tukang sayur tadi.

#Hari7 (28 Februari 2017)  – Tetap konsisten

Suami tetap konsisten untuk meletakkan barang-barangnya sesuai tempat yang saya aturkan.

Sementara itu, berhubung saya meluangkan waktu hari ini untuk ikut kajian di dua tempat, saya tidak masak siang itu. Tapi sepulang kajian di sore hari, saya sempatkan ke warung terdekat dengan tempat kajian untuk beli sayuran. Alhamdulillah masih ada stok sayur kangkung. Malam hari itu, saya eksekusi tumis kangkung dengan ikan teri nasi. Ini hitung-hitung melatih resep yang sudah dipelajari.

#Hari8 (1 Maret 2017)  – Mencoba resep baru

Hari ini saya tiba-tiba saja pede untuk mencoba resep baru. Terpikir untuk masak sayur daun singkong, karena (masih) punya ceker ayam dan ikan teri hehe. Mampir ke tukang sayur, kebetulan saya menemukan bahan-bahan yang pas, daun singkong dan kelapa parut. Bismillah dibeli dulu saja. Di rumah, langsung buka-buka resep di cookpad, pilih resep yang paling karena terlihat gampang, saya jadi tambah pede.

Tantangan yang paling ribet adalah membuat santan untuk pertama kalinya. Iyes, saya ga pernah tuh meras kelapa parut, walaupun sering lihat si Mamah di dapur haha. Langkah pertama adalah tanya oom google, sebelum menemukan tutorialnya di cookpad juga hehe. Baca sekilas, saya ngerti deh bedanya membuat santan kental dan encer. Siip langsung eksekusi.

Sayur daun singkong perdana ini saya tambahkan kaldu ayam karena memang tanggung masih punya ceker, kepala, beserta ati tempela ayam. Ikan teri tidak lupa dimasukkan, karena saya berniat makan malam tanpa nasi. Proteinnya sekalian saja ditambahkan hehe. Santan dimasukkan paling terakhir dan diaduk sebentar saja lalu api dimatikan, supaya tidak overcooked. Niatnya kan mengolah makanan lebih sehat. Tapi itu juga saya sempat tidak pede melihat kuah sayur santannya seperti pecah. Akhirnya dipanaskan lagi beberapa menit sambil diaduk-aduk. Namanya juga baru pengalaman pertama, jadi ga pede. Tapi setelah tes rasa, ok lah. InsyaaAllah lebih pede kalau diminta suami buat masakan yang sama lagi hehe.

Suami bagaimana? Alhamdulillah sampai hari ke-8 beliau masih konsisten melaksanakan tantangan kemandiriannya. Tidak perlu saya ingatkan, beliau sudah terbiasa merapihkan beberapa barang-barang yang seringnya berantakan. Mungkin sudah waktunya untuk saya tambahkan tantangan untuk beliau ya?

#Hari9 (2 Maret 2017)  – Tantangan baru

Ketika kemarin sedang mencari-cari resep sayur daun singkong di cookpad, saya merasa perlu mencari cara untuk mengolah ayam yang masih tersisa di kulkas. Resep pertama yang saya temukan adalah resep ayam rica. Lihat resepnya sepertinya mudah, jadi saya azzamkan untuk membuat resep itu untuk hari ini.

Ketika pergi ke tukang sayur, saya tinggal mencari daun kemangi untuk melengkapi resep saya. Karena ayam hanya tersisa dada sedikit, saya putuskan untuk menambahkan tempe. Kebetulan ada sisa potongan tempe, jadi alhamdulillah bisa sekaligus menghabiskan. Seni memasak supaya tidak mubazir itu ternyata seperti itu ya, hehe.

Saya pokoknya memasak sesuai resep. Saya tes rasa sepertinya kok masih kurang ya. Sampai suami langsung menyicipi, katanya enak kok, cuma kurang pedas saja. Oh ya alhamdulillah kalau ternyata enak. Mungkin saya saja yang kurang pede ya, hehe.

Suami sendiri memutuskan untuk meningkatkan resolusi kemandiriannya. Saya tantang untuk bangun pagi sendiri supaya beliau lebih bertanggung jawab untuk ibadah shalat tahajudnya. Beliau setuju. Biidznillah.

#Hari10 (3 Maret 2017)  – Hari terakhir kok malah turun

Di hari terakhir tantangan ini, performa saya kok malah turun. Ibu mertua masak nasi uduk yang weeeenak sekali, saya jadi malas masak. Alasan yang dijadikan pembenaran, hehe. Tapi masaknya besok lagi saja deh, insyaaAllah. Suami juga maklum.

Suami pagi ini berhasil bangun pagi. Tapi tidak lebih pagi kalau mau shalat malam. Karena saya juga bangunnya lebih lambat dari biasanya. Saya baru terbangun ketika suami masuk kamar seusai mandi. Dan itu berbarengan dengan azan subuh.

Baiklah. Mudah-mudahan esok bisa lebih baik lagi ya. Aamiin.. Kan tantangan kemandirian ini tidak berhenti di hari ke-10 ini, tapi terus berlanjut seumur hidup. Ingat, praktik praktik praktik.

PENUTUP

Saya menutup Tantangan 10 Hari kelas Bunda Sayang IIP dengan mengucap Alhamdulillah. Dengan segala dinamikanya, naik turunnya, sebenarnya setiap hari yang kita lakukan adalah praktik kemandirian. Tidak perlu tunggu tantangan dari IIP, setiap hari kita sudah bergerak. Hanya saja melalui tantangan ini, kita dilatih untuk lebih terstruktur dan terencana.

Saya masih terus menambah jam terbang saya di dapur juga di urusan rumah tangga lainnya, supaya bisa bekerja lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga. Suami juga begitu untuk kemampuan kemandirian yang perlu beliau kuasai. Saya tidak ingin memaksa beliau harus begini atau begitu, cukup dengan memberi pemahaman tentang kebaikan-kebaikan yang perlu beliau lakukan dan biasakan.

For things to change, I must change first. Kalau bicara tentang latihan kemampuan kemandirian kami berdua, filosofi ini yang saya pegang betul. Saya lebih memilih untuk bergerak mulai dari diri sendiri, sebelum meminta suami untuk melakukan hal yang sama misalnya. Saya percaya kuasa Allah akan bekerja sesuai sistem-Nya, dengan memampukan suami untuk menjadi lebih baik lagi. Terus bergerak, kakak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s