Yes, I’m responsible for my communication result

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyadari betapa tantangan 10 hari praktik materi Komunikasi Produktif di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional (IIP) ini membawa perubahan besar pada pola komunikasi saya kepada pak suami khususnya. Bagi saya, tantangan ini membawa saya untuk lebih banyak mendengar dan lebih banyak melakukan konfirmasi dengan bertanya kepada orang-orang terdekat di lingkungan saya. Tugas praktik ini telah mengurangi kesoktahuan saya bahwa mereka yang menjadi lawan komunikasi saya belumlah tentu memiliki persepsi yang sama tentang apa yang saya inginkan dan tentang apa yang saya rasakan.

Saya teringat kembali dengan pertemuan kopdar offline IIP Jakarta batch 2 yang kedua di bulan Desember tahun lalu; waktu itu ibu Ina Rizqie Amalia dari Loop Indonesia Consulting memberikan pencerahan tentang materi “Parent as Coach”. Materi tersebut berkisar tentang bagaimana kita sebagai seorang Ibu menjadi coach bagi anak-anak kita, untuk membimbing mereka pada tujuan hidup dan misi penciptaan mereka.

Bagi saya pribadi, tidak pelak materi ini memberikan banyak pencerahan tentang kunci keberhasilan saya sendiri untuk menjadi coach bagi orang-orang terdekat saya, terutama suami. Karena kami belum memiliki anak, keluarga terdekat kemudian menjadi obyek utama dalam semua praktik-praktik pembelajaran saya. Hehehe.

Kunci menjadi coach itu sendiri hanya ada dua, yaitu mendengar dan bertanya. Saat mendengar, kita menghindari membuat penilaian-penilaian di otak kita terhadap apa yang kita dengar, dan ketika bertanya, pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang lebih kondisional pada situasi saat ini dan sifatnya ke depan. Ketika melakukan dua proses komunikasi ini, kita harus fokus, mendengarkan seksama, melakukan kontak mata, dan abaikan apa yang sedang kita pikirkan lainnya saat itu. Kita mendengarkan dan bertanya dengan sepenuh jiwa dan raga, terkoneksi antara pikiran dan perasaan.

Luar biasa. Dua hal ini kembali saya rasakan pentingnya dalam praktik komunikasi produktif yang diberikan sebagai materi kelas Bunda Sayang IIP. Kalau di kopdar offline, kami diberikan waktu latihan mendengar dan bertanya hanya dalam waktu beberapa menit saja sehingga praktik sebentar. Di tantangan 10 hari IIP, kami harus melakukan praktiknya setiap hari dalam kurun waktu 10 hari.

Kunci kesuksesan dalam menjalankan tantangan 10 hari praktik komunikasi produktif yang saya pelajari adalah dengan menggunakan hati dalam mendengar dan juga ketika melakukan konfirmasi dengan bertanya, yang dengannya akan banyak muncul kesempatan untuk lebih bersabar dan sadar diri.

Bagaimana tidak, ketika berkomunikasi dengan suami, saya harus menempatkan prioritas pada apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan kami berdua sebagai pasangan, bukan tentang saya saja atau dia saja. It’s all about WE, not just you or me. Komunikasi produktif dimulai dengan membagikan apa yang saya tahu pada dia, dari sudut sudut saya agar dia mengerti, dan demikian pula sebaliknya. Ini tidak mudah, terutama di usia pernikahan kami yang masih dini, dimana ego masing-masing masih begitu kuat. Yes, saya juga belajar menurunkan ego saya, ego untuk didengar dan ego bahwa cara pandang saya selalu lebih baik.

Di saat yang sama, saya banyak belajar untuk lebih bersabar menghadapi suami. Karena saya seharusnya sadar bahwa beliau memiliki frame of reference dan frame of experience yang mungkin sangat jauh berbeda dari saya. Saya harus mencoba untuk selalu sadar diri ketika mengeluarkan apa yang dirasakan, untuk lebih memanjangkan nalar daripada emosi, untuk berdasar pada fakta atau data dan untuk menyelesaikan masalah (problem solving).

Yah, saya yakin praktik komunikasi produktif masih akan terus berlangsung sepanjang hayat kami, tidak berhenti hanya pada tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang IIP. Tapi saya bersyukur sekali diberikan kesempatan untuk mengalirkan rasa ini, untuk membaca kembali materi yang telah diajarkan dan juga mengevaluasi praktik yang telah dilaksanakan. Semoga saya dapat konsisten dalam menjalankan praktik-praktik berikutnya dan benar-benar menjadi seperti apa yang disebutkan dalam kaidah komunikasi produktif, I’m responsible for my communication result.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s