NHW#5 : Menemukan cara belajar

Salam. Di review NH#4 lalu (klik disini) kami diberikan simulasi tahapan pembelajaran yang bisa dilaksanakan di Universitas Kehidupan. Nah, di Nice Homework #5 kali ini kami diharuskan untuk membuat desain pembelajaran versi kami sendiri sebagai ibu atau calon ibu. Kami harus belajar menyusun kurikulum untuk diri kami sendiri, sebelum menyusun customized curriculum atau kurikulum unik bagi anak-anak kami.

Bagaimana saya selama ini? Saya sendiri merasa bahwa proses pembelajaran saya selama ini mengalir begitu saja, tanpa kurikulum dan evaluasi yang terarah dan terukur. Alhamdulillah kelas matrikulasi IIP, khususnya NHW#5, kali ini ‘memaksa’ saya untuk memperbaiki proses belajar tersebut. Kami diarahkan dengan kurikulum Ibu Profesional yang terarah, dengan tugas, evaluasi dan target setiap pekannya. Walaupun untuk penilaian dikembalikan kepada masing-masing individu, tapi kami selalu diingatkan untuk jujur pada diri sendiri dan bersungguh-sungguh mengerjakan semua tugas. Mudah-mudahan ini dapat memperbaiki kualitas pembelajaran saya demi mencapai satu target besar yaitu menjadi ibu profesional.

Desain pembelajaran yang dimaksud di NHW#5 disini adalah perencanaan proses belajar dilihat dari sisi kami sebagai pembelajar, bagaimana agar dapat maksimal menerima transfer pengetahuan dari para mentor kami di universitas kehidupan secara efisien dan efektif. Saya belajar dari proses pembelajaran di masa lalu dimana saya mengganggap semua ilmu penting, tapi saya tidak punya prioritas ilmu yang harus dikuasai. Semua ilmu ingin dipelajari, kemudian saya menjadi tidak fokus dan galau terkena tsunami information, karena informasi yang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu desain pembelajaran yang tepat akan membantu saya untuk meraih ilmu yang diperlukan untuk menjadi ibu profesional.

Satu catatan, sebagai pembelajar saya harus melihat kekurangan dari diri saya untuk kemudian dapat membuat desain pembelajaran yang tepat bagi saya pribadi. Kendala internal saya adalah kurang kuatnya ingatan atau mudah lupa, membutuhkan waktu untuk mencerna pelajaran yang masuk, butuh pengulangan dalam menghafal, lebih cepat paham apabila diterangkan dalam bentuk tulisan dan bukan audio, serta kurang disiplin dalam menjalankan time schedule. Saya juga tipe pembelajar yang membutuhkan fasilitator dan contoh kasus agar lebih memahami materi pelajaran. Kendala-kendala inilah yang harus saya ‘kalahkan’ jika ingin maju.

Metode pembelajaran saya lebih condong menggunakan audio visual. Karena saya lemah dalam ingatan, maka kemudian pengulangan sangat dibutuhkan untuk mengikat materi di memori. Ini akan diperkuat dengan menuliskan kembali materi yang sudah disampaikan dan atau menyampaikan kembali kepada orang-orang terdekat, seperti suami dan keluarga. Sementara untuk praktik langsung, karena saya belum memiliki anak, maka dapat berlatih saat bersama keponakan atau anak ideologis lainnya.

Materi yang menjadi prioritas saya untuk dipelajari saat ini mencakup ilmu tentang pendidikan ibu, anak dan manajemen rumah tangga yang telah disusun dalam kurikulum Ibu Profesional, yaitu bunda cekatan, bunda sayang, bunda produktif dan bunda shaleha. Di awal saya harus merumuskan checklist materi atau kurikulum ilmu yang ingin dikuasai disertai prioritasnya, kemudian mengumpulkan materi terkait, membaca, mencerna serta mengulang materi, perbanyak referensi contoh kasus dan solusi, merumuskan poin-poin penting, menuliskan ulang materi di blog atau membuat note kecil untuk kutipan-kutipan yang penting. Bilamana memungkinkan perlu dibuat juga laporan atau dokumentasi hasil pembelajaran. Sebagai evaluasi, sangat penting untuk memperbanyak referensi ilmu berdasarkan Al-quran, sirah Nabi dan sahabat. Segera lakukan perbaikan bila melenceng dari target. Fokus pada tujuan, dan belajar tegas untuk katakan TIDAK pada ilmu-ilmu yang menarik tapi BUKAN PRIORITAS

Where to learn? Saya menggunakan media online juga offline, yang memungkinkan saya untuk hadir pada majelis ilmu yang terkait ilmu pendidikan ibu, anak serta manajemen rumah tangga, seperti kajian, seminar, video, audio dan lain-lainnya. Selain itu, diperkuat dengan membaca artikel/buku tentang pengasuhan, berdiskusi di komunitas terkait seperti Institut Ibu Profesional, serta belajar melalui perbincangan dengan para senior yang lebih berpengalaman.

Waktu pembelajaran akan menyesuaikan milestone untuk setiap ilmu yang ingin dikuasai, dimulai dengan KM 0 pada saat ini usia 35 tahun. Minimal waktu pembelajaran 2 jam per hari, insyaaAllah.

Bismillah. Praktikkan agar bisa konsisten, kakak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s