NHW#4 : perjalanan menemukan (kembali) misi spesifik hidup

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Menemukan misi spesifik hidup itu ternyata sulit luar biasa ya (lebay mode on). Ceritanya saya masih belum move on dari materi matrikulasi Ibu Profesional 3 (baca review tugasnya di blog saya satu lagi ya), belum lagi tuntutan tugas NHW (Nice Homework) dari materi ke-4 hehe. Ditambah lagi, saya sedang galau belakangan ini. Saya yakini yang saya jalani saat ini sudah ON TRACK. Tapi kenapa saya uring-uringan belakangan ini?

img-20161107-wa0004

img-20161107-wa00021

Dari review NHW#3 kami mendapat dua peer besar yang harus dicari jawabannya. Alhamdulillah ya, mengikuti kelas matrikulasi ini memang sesuatu. Saya jadi ‘terpaksa’ untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya tidak saya pikirkan betul-betul. Padahal ini penting. Karena kalau kita belum selesai dengan peer kita sendiri, bagaimana kita bisa memulai membangun peradaban dari dalam rumah? Seksamai lah, kakak.

Oke, saya perlu flashback untuk memetakan sumber masalahnya. Beberapa tahun lalu saya memutuskan resign dari pekerjaan di kantor lama, sebuah perusahaan swasta, karena tidak nyaman dengan beberapa kebijakan kantor yang menurut saya tidak sesuai dengan ajaran agama saya. Yang terpikir bagi saya waktu itu sederhana saja, saya tidak ingin mengabdikan hidup saya untuk orang lain ataupun untuk sebuah tempat kerja yang kurang bermanfaat untuk saya pribadi dan agama saya.

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah, saya menemukan tempat pengganti yang sesuai dengan keinginan saya. Mengabdi atau bahasa kerennya “berkhidmat” pada sebuah lembaga dakwah kemudian menjadi aktivitas sehari-hari saya. Saya senang melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk agama saya; selama saya bisa melakukannya. Dan yang lebih membuat saya ‘berbinar-binar’ adalah bahwasanya saya melakukan peran utama sebagai seorang hamba, yaitu mengabdi pada Tuhan saya, melalui lembaga dakwah tersebut. Sepertinya itu misi spesifik yang sudah saya temukan, SERVER. Kami bekerja hanya dengan gaji yang tidak seberapa, tapi melayani kebutuhan dakwah para ustadz dan sesama pejuang dakwah itu sungguh luar biasa nikmat. Ya, sampai detik ini saya masih beranggapan bahwa itu adalah misi spesifik yang Allah kehendaki untuk saya.

Saya coba cerna kembali sumber masalahnya, kenapa uring-uringan itu bisa muncul. Bila lelah memang alasan utama, tidakkah itu adalah kenikmatan sesungguhnya ketika berdakwah?

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret… Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

– Dakwah itu cinta, almarhum Ustadz Rahmat Abdullah

Tolong ingatkan saya lagi. Saya akui, saya cukup kelelahan dengan aktivitas selama ini. Pak suami juga melihat itu, makanya ia pun memberikan lampu kuning. Peran yang harus saya jalankan ini menyita waktu dan sepertinya ketika saya memulai kehidupan berumah tangga, dua amanah ini berbenturan karena saya tidak pandai membagi waktu dan mengatur prioritas. Oke, jadi itu kah sumber masalahnya?

Setelah mengambil keputusan rehat dari amanah dakwah, saya mulai bisa menata sedikit demi sedikit prioritas utama saya dan suami. Saya masih terus mencoba membaca surat cinta dari Allah, membaca apa yang menjadi kehendak-Nya, karena beberapa amanah tidak bisa saya lepas begitu saja. Sementara saya juga ingin tetap menjalankan peran tersebut dan memberi manfaat yang terbaik. Tapi saya berpegang teguh kepada yang disampaikan bunda Septi Peni di materi matrikulasi Ibu Profesional 4 (baca disini), ketika kita menjalankan peran kita di ranah publik, kita seharusnya memperkuat peran tersebut di ranah domestik untuk suami serta keluarga.

“Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari.” – Bunda Septi Peni

Jadi ini yang menjadi konsentrasi saya saat ini. Bagaimana memperkuat ilmu di peran SERVER di ranah domestik? Karena adalah pilihan saya untuk mencari kemuliaan di dalam keluarga. Saya ingin memfokuskan diri satu per satu kepada hal yang menjadi prioritas dan keluarga adalah yang pertama. Kedua adalah pengembangan diri saya pribadi, karena saya dan pak suami berkeinginan sekali untuk memiliki keturunan. Dan prioritas utama bagi saya untuk mempersiapkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu yang terkait dengan pendidikan ibu dan anak, sebelum kami diberikan amanah tersebut.

Dan di sinilah titik saya berikutnya, sebagai hasil perenungan berhari-hari di depan laptop dan berulang kali membaca materi matrikulasi Ibu Profesional, hehe. Namanya juga masih meraba-raba kehendak Allah. Tinggal banyak-banyak membaca surat cinta dari Allah. Saya juga harus azzamkan keinginan dan banyak berdoa supaya Allah mudahkan proses belajar ini.

“JUST DO IT”, lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita. – Bunda Septi Peni

Satu pertanyaan tentang makna misi kehidupan saya sepertinya sudah terjawab. Sekarang waktunya masuk goa kembali untuk membaca kehendak-Nya, mengerjakan NHW#4 saya serta menjawab pertanyaan tentang makna misi keluarga saya dan pak suami. Biidznillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s