NHW#3 – Memperbarui komitmen untuk membangun peradaban dari dalam keluarga

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Tugas kelas matrikulasi IIP kali ini unik tambah sulit. Kebetulan juga pekan ini saya harus bergelut dengan panggilan dakwah dimana waktu saya begitu tersita untuk amanah tersebut. Bahkan di awal saya sudah hopeless sekali tidak akan bisa menyelesaikan NHW#3 kali ini. Bersyukur sekali saya dapat menyelesaikan tugas kali tepat di injury time, dengan merelakan waktu satu hari tanpa melirik sama sekali grup khusus untuk dakwah tersebut, bahkan tidak mengangkat telepon yang masuk, untuk kali ini fokus mengerjakan tugas hehe.

Mungkin juga kemarin karena saya terlalu terpaku dengan tuntutan dari NHW#3 untuk membuat surat cinta kepada pak suami ya hehe. Padahal inti tugas itu adalah untuk mengenang kembali saat dulu kita memilihnya sebagai suami lalu menguatkan perasaan cinta kita kepada beliau. Surat cinta tersebut saya rekam persis di blog saya pribadi, walaupun memang ter-password protected :”)

Temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu Anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

Walaupun di awal-awal proses taaruf kami sudah sama-sama paham tentang kesibukan saya di dunia dakwah, ternyata tidak mudah menyelaraskan aktivitas saya yang sudah berjalan dengan keinginan terdalam suami agar istri berada di rumah. Sering kali kami mengalami bentrokan, ketika saya harus memilih untuk mendahulukan kepentingan dakwah dan pak suami tidak bisa sabar untuk menunggu. Beliau sering marah kepada saya dengan kemarahan yang kadang tidak bisa saya toleransi karena beberapa alasan. Alhasil ini menyebabkan saya mengalami konflik batin yang luar biasa yang berujung kepada kelelahan jiwa juga fisik. Terutama karena saya tidak mendapatkan dukungan dari pak suami di saat saya benar-benar membutuhkannya.

Inilah salah satu alasan utama kenapa beberapa bulan lalu akhirnya saya mengambil keputusan untuk rehat dari kegiatan dan lebih banyak berada di rumah.

Ketika pekan ini saya terpaksa beraktivitas di luar karena panggilan dakwah, kami pun mengalami kembali bentrokan. Alhamdulillah saya lebih bisa menahan diri waktu itu dari ledakan emosi yang justru memperburuk keadaan. Sepanjang perjalanan pulang malam itu, saya mencoba mengevaluasi diri dan mencoba memetakan masalah.

Orang yang belum selesai dengan masa lalunya, akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anaknya kelak. (Membangun peradaban dari dalam rumah, materi matrikulasi Ibu Profesional)

Masa perkenalan kami yang hanya 3 bulan lamanya memang tidak banyak memberikan waktu kepada kami berdua untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan konflik yang terjadi dan kemudian menemukan solusinya. Tapi setelah menikah, letupan-letupan emosi yang keluar sebagai bagian daripada konflik membuat saya terus belajar untuk meletakkan emosi tersebut pada tempat yang tepat.

Saya mencoba menuangkan semua perasaan dan kegelisahan saya pada surat cinta untuk pak suami dan sekaligus mengingatkan diri saya sendiri (dan juga beliau) tentang tujuan awal kami menikah serta visi misi kami berdua untuk bersama-sama masuk ke surga. Begitu berat perjalanan ini bila tujuan kami sekedar dunia, tapi bila tujuan kami adalah akhirat maka In Sya Allah semua menjadi lebih mudah bila kami senantiasa bertaqwa dan bertawakkal kepada-Nya.

Respon suami membaca surat itu? Biarlah kami berdua dan Allah yang tahu. Saya tidak ingin mengulik beliau lebih dalam lagi karena bagi saya sudah cukup melihat mata beliau berkaca-kaca setelah membaca surat itu. Saya ingin memberi beliau waktu sendirian untuk berpikir dan merenung. Masih ada waktu lain bagi kami berdua untuk berdiskusi. Masih akan ada lagi surat cinta yang berikutnya untuk dirimu, aa hehehe

Sementara untuk saya sendiri, surat cinta itu menjadi media yang menenangkan dan menguatkan saya kembali. Saya teringat pada masa-masa awal perkenalan kami hingga pada masa ketika saya memutuskan untuk menerima lamaran beliau. Saya melihat beliau orang yang baik dan sederhana. Kami sama-sama berangkat dari lingkungan dakwah, maka harapan saya kami bisa sama-sama menguatkan untuk terus berjalan di dunia tersebut. Saya pelan-pelan jatuh hati pada ketulusan dan keikhlasannya menerima saya apa adanya. Dan saya juga belajar menerima dirinya apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena memang pada akhirnya ia cuma manusia biasa yang punya keinginan. Ketika ia menginginkan saya untuk berada di rumah dan otomatis itu mengurangi banyak waktu saya untuk dakwah, sudah tugas sebagai seorang istri untuk taat kepada suaminya. Dan sinilah titik saya sekarang.

Lihat diri kita. Apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini, sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

Allah sudah memberikan pak suami kepada saya dan sebaliknya Allah memberikan saya untuk beliau, itu sudah sebuah anugerah terindah untuk kami. Allah punya rahasia kenapa Ia memilih kami berdua bersama, tapi saya merasakannya sedikit demi sedikit. Saya yang aslinya cerewet (walaupun kadang sering terlihat pendiam di muka umum) mungkin diciptakan untuk mengimbangi pak suami yang pendiam. Saya yang lebih aktif bergerak mengimbangi beliau yang lebih pasif. Saya lebih ekspresif dalam mengutarakan perasaan dan emosi, sementara beliau lebih memilih untuk lebih kalem. Saya pernah sakit beberapa hari dan lalu menjadi lebih sehat, persis sebelum pak suami tumbang sakit sampai sepekan tidak masuk kantor. Subhanallah waktu itu saya mengalami ledakan emosi yang begitu luar biasa karena marah dengan kondisi yang saya alami (saya akan ceritakan soal itu di lain waktu). Saya yang bertangan kecil mungil ini ternyata kemudian harus sering memijit badan suami yang besar tinggi sampai kelelahan sendiri hehe. Itu sendiri sudah menjadi bukti rahasia Allah yang begitu luar biasa loh, kenapa kami diperketemukan berdua.

Apa rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini? Yang saya tahu, kami masing-masing terus berproses menjadi seorang muslim yang lebih baik. Dan saya merasa terhormat menjadi bagian dari perjalanan itu bersama pak suami. Yang kami harus lakukan adalah terus belajar dan mengembangkan diri bersama. Semoga kelak ketika kami diberikan amanah anak oleh Allah, kami bisa mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baik kami. Semoga kami dapat mendidik anak-anak kami menjadi hamba Allah yang taat, yang membawa kami semua berkumpul di surga-nya Allah.

Lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Untuk pertanyaan ini, saya masih belum menemukan jawaban yang terbaik.

Saat ini, kami masih tinggal satu rumah bersama keluarga besar pak suami. Dan di awal-awal masa pernikahan kami, tingkat ekonomi serta pendidikan kedua keluarga besar yang berbeda cukup menjadi kekhawatiran kami untuk menjadi sumber konflik keluarga. Tapi Alhamdulillah kedua orangtua kami terutama bisa saling belajar menyesuaikan diri secara bertahap, seperti halnya saya dan pak suami juga masih belajar satu sama lain. Saya belajar memahami kebiasaan, karakter dan watak kedua orangtua suami, terutama melihat latar belakang pendidikan dan pengasuhan beliau-beliau di masa dulu. Begitu juga suami saya, belajar beradaptasi dengan keluarga besar saya. Banyak perbedaan keluarga besar kami yang dapat menjadi hikmah dan nikmat tersendiri yang harus kami pelajari dan syukuri.

Mimpi kami berdua saat ini untuk memiliki rumah sendiri mudah-mudahan akan terwujud di penghujung tahun ini. Mohon doanya karena kami masih membangun rumah tidak jauh dari rumah orangtua suami. Ada kecemasan tersendiri dari diri saya pribadi, karena saya belum tahu apakah lingkungan kami saat ini adalah lingkungan yang bisa mendukung pola pendidikan dan pengasuhan Islam yang akan kami terapkan pada keluarga dan anak-anak kami kelak? Namun kami hanya bisa berusaha yang terbaik.

Pun melihat lingkungan di sekitar kami saat ini, menjadi tantangan bagi saya pribadi untuk tetap istiqomah untuk hidup sebagai seorang muslim. Apakah kami dapat menjadi agen-agen dakwah di lingkungan seperti harapan besar kami ke depan? Untuk hal itu pun saya belum tahu. Tapi kami terus mengusahakan yang terbaik dengan melakukan perubahan internal dari diri kami dahulu, sebelum menularkan keluar. Biidznillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s