Jaulah ke Negeri Qarun

​Bismillah. Saya hendak berbagi intisari kajian subuh yang kami hadiri ketika sedang berada di kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Wah jauh sekali ‘tempat nongkrong’ kami 😆. Iya juga sih, tapi saya, paksu (pak suami) dan keluarga besar sempatkan untuk berkunjung ke kota tinggi itu ba’da acara pernikahan adik laki-laki saya di kota Padang beberapa waktu lalu. Rekreasi satu hari ceritanya.

Nah kami tiba di kota itu siang hari, sebelum keesokan paginya kami berdua bela-belain shalat subuh di salah satu masjid kota. Sore harinya sepulang pusing-pusing sekitar area wisata Jam Gadang kota, saya dengan pedenya menunjuk satu area terang benderang yang terlihat dari jauh sebagai masjid raya kota Bukit Tinggi. Dan dari jauh memang terlihat seperti ada plang besar bertuliskan kata ‘masjid raya’. Sementara memang betul terdengar cukup keras suara speaker kajian ataupun azan dari arah masjid itu. Saya pun berinisiatif untuk mengajak paksu untuk shalat disana karena (terlihat) dekat dari hotel.

Qadarullah malam hari itu hujan lebat di kota Bukit Tinggi. Jadi batallah rencana kami. Baru keesokan harinya kami bisa menjalankan rencana untuk berangkat.

Ke-soktahu-an saya ternyata salah. Haa.. Pagi-pagi buta kami jalan kaki dari hotel ke arah masjid yang saya sangka betul, berbekal pendengaran suara tilawah dan iqamah muadzin. Pusing-pusing beneran kami jalan kaki karena terburu-buru, ternyata salah masjid. Yang masjid pertama saya lihat dari kejauhan bukan masjid raya ternyata. Pun suara speaker azan dan kajian yang kami dengar dari hotel itu bukan dari masjid itu. Tapi ada suara iqamah shalat dari masjid lain yang memang betul itu ternyata masjid raya hehehe.. Puyeng. Dan karena waktu sudah mepet, kami akhirnya pun shalat di masjid yang salah tunjuk itu. Qadarullah.

Karena sudah kadung kepengen ke masjid raya, kami bela-belain lah jalan kaki lagi keluar dari masjid pertama. Alhamdulillah masih ada kajian subuh di masjid kedua yang betul itu masjid raya Bukit Tinggi. Alhamdulillah juga materinya bagus dan ustadnya enak menjelaskan. Kelihatan seperti lulusan Arab hehe. Walaupuuun, jamaah yang menyimak tidak terlalu ramai. Mungkin jamaahnya ramai ketika shalat subuh. Husnudzan ajah hehe.

Kajiannya tidak terlalu lama tapi tetap jleb di hati. Sang ustad mengambil kisah Qarun dalam al-Qur’an sebagai tema besar kajian. Jadi begini nih, inti isi kajiannya.

Kami diingatkan untuk tidak berperilaku seperti Qarun nan sombong, yang dikisahkan pada QS Al Qasas. Ia diberi nikmat harta yang berlimpah ruah oleh Allah, tapi apa jawabannya ketika diingatkan?

قَالَ اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْ  ؕ  اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ  اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ  جَمْعًا  ؕ  وَلَا يُسْـئَلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. [QS. Al-Qasas: Ayat 78]

Alhamdulillah. Kami seperti terus diingatkan oleh Allah. Kalau iman sampai absen dari hati kami, kami akan jadi orang yang lupa diri.

Jadi iman harus diasah terus, dengan ilmu, dengn muhasabah diri, dengan amalan yang istiqomah, dengan riyadah, dengan kesadaran terus menerus, dan dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Asal kita istiqomah, asal kita sadar, mudah-mudahan kita tidak akan lupa diri. Walaupun nikmat diberikan Allah terus menerus. Pun mudah-mudahan kita tidak berputus asa ketika diberi ujian oleh Allah.

Inilah wasilah dari Allah langsung, bagi orang-orang beriman. Ketika ia diberi nikmat, ia sadar sepenuhnya bahwa itu hanyalah dari Allah dan seharusnya ia gunakan sebaik-baiknya hanya untuk beribadah kepada Allah. 

Alhamdulillah. Nasihat inilah yang semoga terus-menerus terngiang-ngiang di benak saya. Semoga menjadi panduan hidup saya dan paksu dalam menjalani tiap tahapan hidup kami berdua. Dalam mencari nafkah, dalam mengurus rumah tangga, dalam mendidik anak-anak kami kelak, ketika menyambung tali silaturahim dengan keluarga besar kami dan dengan orang-orang sekitar kami, dalam berdakwah, ketika makan, minum, bercanda, melepas lelah bahkan saat tidur. Niatkan semua untuk ibadah pada-Nya. Ingatkan kami selalu bahwa tiada daya dan kekuasaan selain milik Allah SWT.
Semoga kami dimampukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s