Ajari mereka iman sebelum Al-Qur’an

anaPuluhan kakak pengurus juga pengajar Payisc Al-Azhar mengikuti kajian pendidikan Islam bertemakan “Membangun karakter Imani (mengungkap konsep Islam dalam melahirkan generasi peradaban)” di aula gedung TK Al-Azhar lantai 8, 15 Maret 2014 lalu, dipandu oleh kak Wendy sebagai moderator dan Ustadz Herfi Ghulam Faizi dari tim Parenting Nabawiyah dan Kuttab al Fatih sebagai pemateri.

Menarik sekali karena pada kajian ini, Ustadz Herfi mengingatkan kakak-kakak Payisc untuk tidak salah mengurutkan tahapan pendidikan Islam untuk kemudian dapat melahirkan generasi yang terbaik; yaitu dimulai dengan pengajaran Iman sebelum masuk ke pengajaran Alqur’an.

Jundub bin Abdillah berkata: “Kami bersama Nabi saat kami masih remaja, kami belajar Iman sebelum Alqur’an, kemudian ketika kami belajar Alqur’an, bertambahlah iman kami.” (Sunan Ibnu Majah no. 60, dishahihkan oleh al-Albani)

Inilah kunci kenapa para sahabat Rasulullah kemudian menjadi generasi terbaik di antara umat Rasul, karena merekalah yang mendapatkan didikan dan arahan langsung dari Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wassalam. MasyaaAlloh..

Bagaimana pendidikan iman tersebut? Ustadz Herfi kemudian menerangkan konsep iman.

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang iman, “Iman memiliki 70-an atau 60-an cabang. Yang paling utama adalah kalimat LaaIlaahaIllallah. Yang paling bawah adalah menyingkirkan sesuatu yang menyakitkan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” (HR Muslim)

Ustadz Herfi menambahkan, Kuttab al Fatih menekankan pada pengajaran iman, dimana kitab al-Jami’ li Syu’abi al-Iman karya Imam al-Baihaqi menjadi rujukan kurikulumnya. Dari 77 cabang iman yang dikumpulkan Imam al-Baihaqi, terdapat enam rukun iman yang sudah kita ketahui dan dua diantaranya menjadi pilar iman seorang muslim yaitu “iman kepada Allah” dan “iman kepada hari akhirat”. Tidak heran jika kita perhatikan betul-betul, dua cabang iman tersebut disebutkan di tiap lembar Alqur’an yang kita buka. Selain itu, terdapat 25 cabang iman yang menjadi rujukan dalam menjaga hubungan antara seorang manusia dengan Tuhannya “habluminallah” dan 37 cabang iman untuk interaksi dengan sesama manusia “hablumminannas”.

Metode pendidikan iman yang dilakukan Rasulullah bisa kita perhatikan juga dari pembagian surah yang diturunkan di Mekah dan Madinah, Ustadz Herfi melanjutkan. 114 surah yang terdapat di Alqur’an terbagi menjadi 84 surah yang turun di Mekah, 20 surah yang turun di Madinah, sementara 10 lainnya masih diperselisihkan para ulama. Surah-surah yang turun di Mekah bisa dilihat didominasi oleh konten-konten penyucian jiwa, sementara surah yang turun di Madinah lebih banyak bicara tentang syariat.

Bagaimana cara Rasulullah mendidik para sahabat sehingga menjadikan mereka sebagai generasi terbaik yang menjadi panutan kita umat muslim? Ternyata ini bisa kita telusuri melalui doa Nabi Ibrahim sendiri ketika beliau memintakan kepada Alloh seorang penerus risalah beliau di kemudian hari.

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” QS Al Baqarah:129

Dari sini, empat metode pengajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bisa kita dapatkan, yaitu membacakan ayat-ayat Alloh (1), kemudian mengajarkan kitab (2), mengajarkan hikmah (3) serta mensucikan (4). Pengajaran iman disebutkan terakhir dari empat metode pengajaran tersebut, setelah pengajaran kitab dan hikmah.

Metode pengajaran ini kemudian Alloh koreksi langsung dengan turunnya surah Al-Jumu’ah ayat 2.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Dari ayat di atas kita bisa simpulkan bahwa metode pengajaran yang sama disebutkan oleh Alloh, namun urutannya dibalik. Pensucian terlebih dahulu, baru pengajaran kitab dan hikmah. Belajar iman dulu sebelum Al-qur’an. MasyaaAlloh.

Beberapa pertanyaan kemudian dilontarkan oleh beberapa kakak pengajar dan pengurus Payisc. Jawaban-jawaban yang diberikan Ustadz Herfi sungguh membuka wawasan.

Bahwa pengajaran iman ini juga mencakup tentang pendidikan akhlak. Akhlak adalah buah dari iman. Semakin dalam iman seseorang, maka akan semakin baik akhlaknya. Inilah yang diterangkan Alloh di surah Ibrahim ayat 24-25.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit? Termasuk dalam “kalimat yang baik” ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti “laa ilaa ha illallaah”. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Kita bisa lihat dari hubungan antara hati (iman), lisan dan fisik. Berdasarkan hitungan Ibnu Hajar (w:852 H) terhadap cabang iman yang dikumpulkan Ibnu Hibban (sekitar 69 cabang iman), terdapat 24 amalan hati (35%), 7 amalan lisan (10%), dan 38 amalan fisik (55%). Catatan pentingnya adalah, bahwa amalan hati yang pertama dan utama. Jika hati baik, maka lisan dan fisik akan mengikuti. Jadi 35% ini melingkupi 65% lainnya. Selanjutnya lisan, meski hanya 10% tapi menentukan apakah seseorang akan istiqomah dalam kebaikan atau tidak. Terakhir ialah fisik. Meski persentasenya paling besar, posisinya paling belakang karena merupakan hasil dari hati dan lisan.

Bahwa pengajaran iman dapat diaplikasikan lintas usia. Kita bisa melihat usia-usia para sahabat dan generasi awal umat Islam yang dididik langsung oleh Rasulullah. 5 di antara 10 generasi awal adalah dengan usia di bawah 17 tahun, sementara dua diantaranya berusia di atas 30 tahun. Hanya saja memang ini akan disesuaikan dengan gaya bahasa yang digunakan dan teknik pengajarannya.

Bahwa pengajaran iman bisa diaplikasikan melintasi zaman. Ia tidak terbatas karena zaman Rasulullah adalah masa lampau dan sekarang zamannya sudah beda. Satu contoh, Ustadz Herfi mengingatkan kami, di zaman Rasulullah pun, di Mekah masyarakatnya melakukan ibadah haji tawaf dengan menanggalkan seluruh pakaian yang digunakan. Sungguh tidak ada bedanya dengan zaman sekarang dimana perempuan membuka aurat adalah hal yang sudah banyak dilanggar. Astaghfirullah. Dalam keadaan zaman begitu jahil, Rasulullah berhasil mengislamkan para sahabat. Karena, pengajaran IMAN.

Dan terakhir, bahwa sebaik-baik pendidik adalah Rasulullah, sehingga kita harus mempelajari bagaimana cara Rasulullah memberikan pengajaran kepada para sahabat. Rasulullah mampu menyampaikan kalimat sederhana tapi berkesan untuk mereka. Pesona guru adalah penting, baru kemudian metode pendekatan dan cara penyampaian.

Sungguh penyampaian kajian tentang pendidikan islam yang singkat, hanya sekitar dua jam, namun mudah-mudahan meninggalkan kesan mendalam bagi para kakak pengajar dan pengurus Payisc Al-Azhar. Tentu saja diskusi-diskusi berikutnya sangat diperlukan untuk dapat menggali lebih lanjut aplikasi dari pendidikan iman ini. Tapi bolehlah kami berharap, untuk dapat mempersiapkan adik-adik asuh Yisc Al-Azhar menjadi generasi gemilang seperti para sahabat dan generasi awal umat Islam. Semoga.. Allohumma aamiin..

Sumber: catatan pribadi (mohon koreksi bila ada salah, karena terbatasnya daya tangkap penulis saat kajian berlangsung) dan catatan lainnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s