Jabat tangan: Satu yang sepele tapi harus ditegaskan..

Sudah tahun ke berapakah galau ini? Satu, dua, hmm ketiga?
Rasa-rasanya tiap Lebaran belakangan ini pasti bahasannya tentang galau yang sama.

Gimana ga? Kalau kebetulan dapat rezeki untuk pulang kampung dan bersilaturahim dengan sanak saudara, yaa mau ga mau jadi galau. Kita ingin menyambungkan tali silaturahim dengan para kerabat, tapiii.. kadang belum bisa sepenuhnya menjaga batas syariat antara yang mahrom dan yang bukan. Iya, ini soal berjabat tangan dengan para kerabat.

Kalau bertemu para sesepuh dan kerabat, terutama di lingkungan masyarakat Jawa, tradisi bersalaman masih dijaga, sebagai bagian dari kesopanan. Kalau yang muda bertemu yang tua, ya cium tangan untuk menghormati. Kalau antar sesama yang muda, biasanya juga saling bersalaman. Apalagi kalau dalam tradisi halal bihalal, bersalam-salaman menjadi bagian yang lumrah dilakukan ya?

Kalau dalam Islam ya jelas syariatnya. Kita tidak diperbolehkan untuk bersentuhan dengan yang bukan mahram. Mahram yaa, bukan muhrim. Kalau mahram itu orang yang haram untuk dinikahi atau disentuh, muhrim adalah orang yang memakai pakaian ihram waktu mau thawaf (haji atau umroh). Berbeda jauh artinya hehe.

Di kalangan ulama sendiri ada pendapat yang membolehkan dan ada yang saklek tidak membolehkan masalah bersentuhan lewat jabatan tangan ini. Tapi saya sendiri sebenarnya lebih condong kepada pendapat yang tidak membolehkan sih. Rasanya lebih nyaman seperti itu, tapi cukup sadar diri bahwa saya belum bisa sepenuhnya menjalankan, hikss.

Hadits yang jadi dalilnya sebagai berikut. Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh jika seorang di antara kalian ditusuk kepalanya dengan jarum dan besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. [HR ath-Thabrani, dihukumi shahih oleh al-Albani].

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Ancaman keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya yang terkandung dalam hadits ini menunjukkan haramnya menjabat tangan wanita (yang bukan mahram, ed) karena tidak diragukan lagi bahwa berjabat tangan termasuk menyentuh.”

Ada hal yang perlu diperhatikan. Jangan sampai salah kaprah dengan istilah saudara dekat, apalagi kakak atau adik angkat (dalam definisi sebenarnya atau hanya pengakuan lisan saja). Batasan Islam mengenai mahram ternyata juga jelas, seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran Surah An-Nisa ayat 22-24. Baca pembahasan lebih lanjut mengenai siapa mahram kita di sini.

Topik ini jadi pembahasan saya dan teman satu komunitas di grup whatsapp kami, dan pro kontra-nya masih terlihat. Yah namanya sudah jadi tradisi turun temurun. Sungkan terutama menolak kerabat atau kawan terutama yang sudah lama kenal dengan kita ketika mereka sudah menjulurkan tangan untuk bersalaman. Ada semacam perasaan tidak rela, tapi belum mampu sepenuhnya untuk menolak. Semoga tidak lupa bahwa ada perbedaan adab bersantun dengan kerabat yang sudah memasuki masa baligh. Tapi ini tantangannya untuk melewati proses itu satu demi satu, pelan demi pelan (kalau kasus saya).

Sebenar-benarnya tulisan ini semacam bentuk menghibur diri juga sih dari kegalauan yang kunjung datang hikss. Ya Alloh, ampuni kami, mampukan kami menjalankan syariat-Mu, mampukan.. mampukan.. Allahumma Aamin Yaa Mujiibas Saa iliin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s