Kembali di bulan Rajab.

Salam.

Pagi hari lalu dalam perjalanan menuju kantor, saya menyimak beberapa pesan yang tersebar di BBM, juga Whatsapp.

Menyambut hari pertama di bulan Rajab, tiba-tiba semua mendadak nge-Rajab. Ini hanya istilah saya, hehe. Sebenarnya malah sudah ada broadcast BBM jauh-jauh hari yang menyebarkan info tentang tanggal persis permulaan bulan Rajab di tahun Masehi dan puasa sunnah yang dikaitkan dengannya. Tapi semalam sebelumnya sampai pagi itu pun beritanya tak kalah heboh. Masih saja ada kawan yang ikut termakan untuk menyebar rantai broadcast informasi itu; malah lebih parah lagi karena kalau dilihat seksama, broadcast tersebut tidak disertai dalil (hadits shahih). Duh.

Menyebar kebaikan itu baik. Tapi kalau dalilnya belum jelas, lalu kita ikut-ikut menyebarkan, mengajak orang lain untuk melakukan ibadah (yang belum berdalil) tersebut, bagaimana? Hanya karena informasi yang dikirim itu dilengkapi dengan simbol-simbol Islam di sana-sini, bahkan ada yang mengatasnamakan perkataan Rasululloh SAW, bukan berarti kita bisa telan bulat-bulat toh.

Ceroboh dan asal kirim (alih-alih asal bunyi), serta tidak kroscek dulu infonya? Iya.

Mudah-mudahan jadi pelajaran, juga buat saya pribadi yang ilmunya belum seberapa ini. Karena sungguh, banyak ajaran yang sebenarnya tidak kuat dalam dalilnya, tapi sudah banyak beredar dan parahnya menjadi kebiasaan rutin yang dilakukan dan diajarkan turun temurun oleh masyarakat Islam terutama.

Inilah pentingnya kita berilmu dalam melakukan amal ibadah, agar tidak semata mengikuti. Kita juga harus paham atas sebuah ilmu; kenapa ibadah tersebut diperintahkan; apa keutamaan dibaliknya. Karena Alloh tidak pernah sia-sia dalam menciptakan sesuatu. Yakinlah.

Tapi ketika ajaran tersebut sudah kadung populer di tengah masyarakat Islam, bagaimana? Saya jadi bingung sendiri.

Contoh paling mudah yang saya temui adalah mengenai doa berbuka puasa yang dimulai dengan “Allahumma lakasumtu.. dst”. Dari saya pertama kali belajar berpuasa, doa berbuka puasa ya begitu itu bunyinya. Di sekolah, di lingkungan sekitar, di rumah, di buku, di televisi, ya semua diajarkan seperti itu. Lalu belakangan saya diperketemukan dengan kenyataan bahwa tidak seperti itu doa berbuka yang shahih, yang diajarkan Rosul SAW. Hah?

Begitulah, saya mulai yakin kenyataannya tingkat pemahaman saya tentang ilmu Islam memang masihlah sangat rendah, sampai-sampai saya merasa saya perlu belajar dari titik awal lagi. Bahkan untuk belajar bersikap kritis pada hal-hal yang biasa saya lakukan dan terbiasa lakukan sejak kecil. Saya hanya ingin memeluk agama saya dengan lurus, sesuai tuntunan kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Di luar tuntunan dua itu, lebih baik tinggalkan.

Pelan-pelan mungkin, tapi pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s