Sakitnya seperti sakit hati..

Sakit apa sih? Kok disangkutpautkan dengan sakit hati? Siapa yang sakit memangnya?

Ah cuma judul yang hiperbola. Soalnya saya cuma mengira-ngira bagaimana perasaan dua pelaku cerita berikut ini. Posisi saya jadi sebagai pihak ketiga? Betul. Dari apa? Dari satu insiden yang terjadi di satu perempatan lalu lintas di kota Jakarta di pagi hari yang ramai merayap nan padat itu.

Sebenarnya mungkin ini hal sepele.

Pagi itu, saya sedang dalam perjalanan ke kantor dan naik motor tukang ojek langganan, dan posisi kami sedang menunggu lampu merah traffic light berganti jadi hijau. Posisi tepatnya di sekitar lampu merah ITC Fatmawati.

Jalan Haji Nawi yang sempit (kalau dipaksa) masih muat untuk tiga baris mobil lalu lalang; dua dari arah Pondok Indah dan satu menuju Pondok Indah. Pagi itu, terpaksa jalur jalan yang paling kiri dipenuhi oleh banyak motor sehingga mobil agak sulit untuk masuk ke jalur tersebut dan harus pelan merayap. Motor ojek saya juga posisinya agak memenuhi jalur paling kiri itu, walaupun mobil masih bisa masuk sebenarnya di sebelah kiri. Nah motor di belakang saya juga mengambil gerakan yang sama. Sementara persis di belakangnya juga ada satu mobil yang perlahan-lahan masuk.

Tiba-tiba saja suara ribut muncul terdengar dari belakang dan saya melihat persis bahwa si bapak pengendara motor itu menggebrak-gebrak keras kap mobil di sampingnya itu sambil kesakitan. Ya ampun, ternyata si mobil itu menerobos jalur paling kiri dengan tidak menyadari posisi motor di sebelahnya itu masih terlalu ke kiri sehingga kaki si bapak terlindas ban mobil. Duh sakit! Untung si supir mobil cepat sadar dan memundurkan mobilnya. Sementara si bapak segera menarik kakinya, dan setelahnya menggerakkan tangan memberi aba-aba pada mobil untuk terus maju.

Sudah selesai? Yah, mobil itu kembali jalan sebenarnya, tapi persis mendekati saya dan ojek, jendela belakang terbuka dan si ibu pemilik mobil melongokkan kepala keluar dan menanyakan kejadian. Sepertinya beliau baru paham kalau mobilnya baru saja melindas kaki si pengendara motor, sambil kemudian menggerutu memberi nasihat bahwa seharusnya si bapak bisa lebih minggir sehingga tidak menghalangi mobil, sebelum akhirnya beliau berlalu.

Apa yang salah ya? Saya tidak bisa bisa menahan diri untuk mengerenyit. Menurut saya, dua belah pihak sama-sama sudah merasa ‘sakit’. Tapi kenapa sih si ibu itu harus kemudian menggerutu? Malah tadinya saya pikir dia mau minta maaf ke si bapak yang sudah kesakitan karena kakinya terlindas. Tapi ternyata bukan. Malah saya lega, ketika terinjak si bapak tidak bereaksi lanjut dan berlebihan, dengan marah-marah ke si supir misalnya. Toh dua-duanya yang salah.

Saya heran, dan sungguh berharap keadaannya berbeda.

Coba saja, si bapak pengendara motor minta maaf untuk kesalahannya sudah menghalangi jalur jalan paling kiri. Sementara si ibu pemilik mobil (atau supir) minta maaf karena tidak sengaja (mobilnya) melindas kaki si bapak motor itu. Bukankah pagi itu akan terasa lebih indah ya?

Atau saya saja yang pikirannya terlalu sederhana? Entahlah.

Advertisements

2 thoughts on “Sakitnya seperti sakit hati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s