Roti Henis: eat or not?

Salam.

Tiga hari berturut-turut ini, tumben-tumbennya kantor saya lagi rajin kedatangan cemilan favorit orang-orang sekantor. Iyes, roti Henis, roti baso ayam yang membuat semua orang tergila-gila itu (gambar bisa dilihat di sini).

Katanya sih best seller di toko roti tersebut tapi saya belum pernah juga lihat tokonya langsung. Biasanya, sesekali saja tiba-tiba satu vendor kantor datang dan membawa buah tangan berupa dua dus besar roti baso ayam ini dan rasanya bersyukur banget. Maklum toko rotinya jauh di Jakarta utara sana, sementara kami berkantor di daerah perumahan di selatan yang abang-abang penjual makanan dengan gerobak dorong pun jarang mampir.

Dikenalkan oleh pak direktur kantor di sebuah event tahun lalu, kami semua jadi tergila-gila dengan roti ini, termasuk saya. Rotinya tidak tebal sih, tapi daging ayam isinya itu berlimpah ruah dan lembut. Mungkin itu yang membuat semua suka sampai sekarang, termasuk klien kami yang punya event tersebut (nyengir).

Tapi belakangan ini saya jadi tidak tertarik untuk ikut-ikutan mengkonsumsi roti Henis. Oh, maaf, hari Rabu kemarin (hari pertama dari tiga hari berturut-turut itu roti Henis ini mampir di kantor), saya hampir-hampir tidak kuat menahan nafsu untuk memakannya. Rasa sakaunya hampir sama seperti ketika saya sedang ingin makan sushi, sungguh-sungguh ingin merasakan sensasi mentah dari sushi itu, cuma yang saya hadapi kali ini cuma roti. Tapi apa daya; kesadaran saya soal makanan halal tidak membolehkannya; why? baca di sini ya. Nafsu ingin memakannya sangat besar, sehingga saya sangat tergoda. Hampiiirrr.. tapi saya memang tidak memakannya. Bahkan di hari kedua, juga di hari ketiga.

Kenapa sih, mau makan aja kok repot? Yah sejak saya mulai tersadar akan pentingnya sertifikat halal MUI di setiap panganan yang saya makan, rasa-rasanya saya mulai strict untuk mengecek kemasan produk, apakah tertempel logo halal MUI atau tidak. Kadang-kadang saya kalah dengan nafsu lapar, jadi tidak begitu mempedulikan soal ini, tapi belakangan saya memang lebih aware dengan masalah ini, terutama kalau sedang belanja bulanan di supermarket. Dan roti Henis ini memang tidak mencantumkan tulisan informatif apa-apa di kemasannya selain logo nama roti dan no telepon. Apalagi label halal MUI.

Sejak saya bergabung dengan komunitas makanan Halal-Baik-Enak di milis, follow @halalcorner, dan mulai belajar tentang apa-apa halal haram yang seharusnya, saya mulai menghindari makanan minuman (juga restoran) yang tidak bersertifikat halal. Sepengetahuan saya, tidak cukup dengan hanya membaca bismillah dan lalu makan, tapi kita juga harusnya memiliki pengetahuan tentang apapun yang kita konsumsi, halal atau ga? Dan apa penjaminnya? Karena banyak sekali macam makanan saat ini yang sudah terkontaminasi zat-zat yang terlarang. Karena perkembangan teknologi tentu saja. Dan kita ga banyak tahu soal ini.

Tambahan yang mungkin bermanfaat. Ada beberapa titik kritis kehalalan roti yang perlu dipahami konsumen muslim, sebagai berikut;

Tepung: Ada banyak hal mengenai kehalalan roti yang seringkali luput dari pengamatan konsumen. Padahal selain bahan-bahan tambahan, bahan baku roti seperti tepung, ragi atau yeast, dan shortening juga perlu diperhatikan. Untuk tepung misalnya, dalam membuat roti atau kue memakai tepung gandum keras (strong flour) dan tepung gandum lunak (soft flour).

Salah satu bahan untuk membuat tepung gandum adalah L-sistein. Fungsinya sebagai improving agent yang berfungsi melembutkan gluten dan mengembangkan adonan. Permasalahannya L-sistein banyak terbuat dari rambut manusia, khususnya untuk merek dari Cina. Sudah dapat dipastikan haram bagi kaum muslim. Namun, di Indonesia berbagai jenis tepung yang beredar hampir semuanya telah memperoleh sertifikasi halal dari LPPOM MUI sehingga konsumen tak perlu khawatir. Tetapi jika produsen memakai tepung impor yang belum bersertifikat halal, maka perlu diwaspadai.

Ragi atau Yeast: Dalam pembuatan roti, ragi atau yeast sangat dibutuhkan agar adonan dapat mengembang. Dari 3 jenis ragi yang ada, dry yeast alias ragi instan menjadi jenis yang sering digunakan. Bahan aditif yang terkandung dalam ragi instan adalah bahan anti gumpal. Bahan-bahan anti gumpal yang syubhat (samar) antara lain E542 yang berasal dari tulang hewan, E 570 berasal dari tanaman atau hewan dan E572 dibuat dengan menggunakan bahan dasar asam stearat.

Selain itu gelatin kadang digunakan sebagai bahan pengisi pada ragi instan. Padahal seperti yang kita tahu di luar negeri hampir sebagai besar gelatin terbuat dari kulit babi. Meski beberapa tahun terakhir marak beredar gelatin halal dari Malaysia.

Shortening: Shortening atau lemak sangat penting dalam pembuatan roti karena dapat membuat roti menjadi lembut. Lemak tersebut dapat berasal dari berbagai hewan termasuk babi. Namun saat ini sudah banyak shortening lokal yang halal dan banyak dijual. Meski begitu memastikannya kehalalannya sangat penting.

Cake Emulsifier: Emulsifier kerap digunakan di bakery untuk melembutkan roti sekaligus menghemat telur. Emulsifer bersifat syubhat (samar) karena terbuat dari bahan nabati atau hewani. Selain itu juga sering ditambahkan lemak padat yang tidak jelas dari mana asalnya.

Isian roti: Isi roti juga menjadi hal penting, terutama jika mengandung bahan hewani seperti daging dan sosis yang dapat terbuat dari hewan apa saja termasuk babi.

Tidak bermaksud menakut-nakuti, memang juga kita jangan menyusahkan diri dengan sesuatu hal yang diluar jangkauan kita. Tapi sebagai konsumen muslim, kita dituntut untuk lebih kritis lho saat membeli. Jangan segan untuk bertanya kepada penjual tentang kehalalan makanan dan tentunya memiliki bekal dalam memahami kehalalan dari sebuah produk. Yang pasti, haram itu bukan milik babi aja, tapi termasuk apa-apa yang tidak boleh kita konsumsi dan buruk bagi kesehatan.

Saya pribadi mau lebih menjaga agar apa-apa yang saya konsumsi terjamin kehalalannya. Ini bukan berburuk sangka, tapi lebih bersikap wara’ atau berhati-hati. Dan dengan jaminan label halal MUI, setidaknya saya merasa aman untuk mengkomsumsi sebuah produk karena sudah dipastikan kehalalan kandungannya.

Oh iya, sebelum ini, saya sempat menanyakan tentang kehalalan roti Henis lewat akun Facebooknya. Sampai sekarang belum ada jawaban. Sementara ini, saya tidak konsumsi dulu deh. Toh masih ada roti lain yang sudah berlabel halal MUI. Kata lainnya, kenapa tidak sih mencoba kebaikan dari produk-produk lain yang sudah jelas halalnya? Begitu lho kawan..

Catatan: Tulisan ini sudah masuk draft sejak hari Jumat lalu.

Advertisements

4 thoughts on “Roti Henis: eat or not?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s