Humaira: si kecil dengan wajah bersemu merah

Pada perjalanan panjang di pesawat menuju Jeddah ketika umrah kemarin, saya berhasil habiskan membaca buku ini,  Humaira: Ibunda Orang Beriman. Mungkin tipe buku yang jadi kesukaan saya ya seperti ini, masih berhubungan dengan sejarah tapi bercampur dengan fiksi. Jadi kesannya ga berat dan tetap menarik. Walaupun pada dasarnya saya memang sedang haus cerita-cerita tentang Rasul SAW, hehe.

Ketika googling tentang novel ini, ada fakta yang saya temukan bahwa novel ini berbasis pada sirah Nabawiyah. Nah, tujuan dari sirah Nabawiyah sendiri (salah satunya) adalah untuk memahami kepribadian Rasul, memahami keadaan jaman di saat itu, dan sekaligus juga mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang Islam. Tapi karena ini fiksi, harap berhati-hati karena mungkin tidak semua orang bisa menerima cara novel ini bercerita, apalagi untuk menelannya bulat-bulat. Baca lah latar belakang penulisnya.

Anyway, buat saya novel ini sendiri definitely one of light readings! Di bawah ini, saya tulis ulang salah satu penggalan cerita yang menggambarkan karakter Fatimah r.a. Satu yang jadi kekuatan Kamran Pasha, sang penulis, adalah kemampuannya menyajikan karakter masing-masing dengan kuat. Dan karakter Fatimah r.a. adalah sungguh sesuatu yang memukau untuk saya.

Untuk review lebih lanjut buku ini, silahkan mampir ke sini yah. Paparannya lebih detil dan sangat menyentuh area-area yang juga membuat saya sangat menyukai buku ini.

Salam.

Aku melangkah menuju pasar, berjalan tanpa tujuan. Kemudian aku menghentikan ayun langkahku saat pandangan mataku menabrak seorang perempuan muda yang sedang bersandar pada dinding yang hancur, matanya menatap bintang gemintang di langit.

Perempuan itu Fatimah putri Rasulullah. Mendadak aku tersadar kalau aku tidak melihatnya di dalam paviliun bersama saudari-saudarinya Zainab dan Ummi Kultsum.

Fatimah tampak tenggelam dalam lamunannya dan tidak bereaksi pada langkah kakiku yang mendekat. Aku semestinya beranjak pergi dan membiarkannya karam dalam pikirannya, tapi aku tertarik pada dirinya malam itu karena alasan yang tidak bisa kuutarakan. Fatimah selalu begitu ringan sehingga dia tampak lebih seperti roh daripada makhluk yang berdarah dan berdaging. Dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terkesima.

Gadis itu melihatku sembari tersenyum tipis kemudian mengalihkan perhatiannya pada bintang-bintang. Bima sakti bertebaran seperti rute kafilah dagang menuju langit dan aku melihat perhatiannya tertumpah pada konstelasi Pejuang yang menggantung rendah di langit malam. Aku memandang tiga bintang yang membentuk sabuknya dan menangkap dari sudut mataku cahaya kecil yang berkerlip dari pedangnya. Tapi setiap kali aku melihat bintang-bintang itu secara langsung, mereka akan menghilang bagai jin di gurun.

Kebisuan di antara kami mulai terasa tak nyaman dan mencari-cari sesuatu yg bisa membuka percakapan.

“Jadi … kau pikir kau tidak akan menikah?” Aku mengernyit saat mengucapkan kata-kata itu, tapi sudah terlambat untuk menarik mereka kembali.

Fatimah memandangku dan aku melihat mata hitamnya mendadak terfokus seolah-olah dia baru menyadari kehadiranku untuk pertama kalinya.

“Tidak. Aku akan menikah segera, ‎‎Insya Allah.”

Ini berita baru bagiku.

“Kalau begitu kau sudah memilih seseorang?” Aku tidak berhasil mencoba menutupi ketidakpercayaan dalam suaraku.

Fatimah mengangkat bahunya dan kembali menatap langit.

“Tidak. Dia yang dipilihkan untukku.”

Sekarang ini benar-benar mengejutkan.

“Oleh ayahmu?,” tanyaku.

“Bukan. Oleh Allah.”

Dan dengan kata-kata aneh itu, si gadis misterius tersenyum sedih dan kembali menatap langit. Aku menunduk dan memikirkan kata-katanya untuk sesaat. Saat aku berpaling untuk menanyakan apa maksud ucapannya, bulu kudukku meremang. Jalanan kosong. Fatimah sudah lenyap.

PS: Penggalan asli novel dikurangi di sana-sini dengan tanpa maksud mengurangi isi cerita.

Advertisements

2 thoughts on “Humaira: si kecil dengan wajah bersemu merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s