Tentang meninggalkan dan menyambung kembali.

Salaam.

Beberapa kali dan sering juga sih (nyengir) saya membaca kolom parodi-nya Kompas, yang terbitnya hari Minggu tuuh. Dan, kadang-kadang tulisan penulisnya, si oom Samuel Mulia, cukup mengena. Ah, edisi minggu lalu juga begitu.

Jadi, singkat saja dari edisi minggu lalu. Beliau bercerita tentang riak-riuknya kehilangan seorang teman. Sedih itu sudah pasti kita rasakan ketika baru saja kehilangan seseorang, tapi rupanya bagi beliau kehilangan itu tidak menjadi negatif karena malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengubahnya menjadi a better person.  Namanya hidup ya selalu ada kerikilnya. Dan buat beliau, semua pengalaman hidupnya dalam berteman dan berhidup sosial, menjadikannya memiliki kemampuan untuk menempatkan mereka, teman-temannya, pada 3 folder penempatan ‘teman’.

Saya jadi berpikir. Agak nyambung dengan posting kemarin, saya pernah juga kehilangan beberapa teman. Ada yang masih bisa dijalin kembali hubungannya. Namun ada juga yang sepertinya memang hilang dan enggan kembali lagi. Well that’s common in life, jadi saya tidak sedang mengeluh.

Saya mau langsung menjelaskan tentang tiga folder yang sudah diklasifikasikan oleh si oom Samuel. Folder pertama menurut beliau adalah tempat untuk teman-teman yang akan disimpannya seumur hidup. Folder kedua, yang hanya untuk “dah-nek dah-nek atau cipika cipiki” (this is very samuel mulia, rite? hehe). Dan folder terakhir ditujukan untuk teman yang harus beliau tinggalkan.

Eniwei, untuk seleksi ketiga saya paham betul, karena saya pernah melakukannya. Satu saat saya mengambil keputusan ini; itu dikarenakan saya merasa mereka penuh dengan aura negatif, yang kemudian akan memberikan pengaruh buruk dan lama-lama bisa menghancurkan diri saya. Waktu itu, itulah keputusan saya. Sedih memang karena saya juga tidak mau bersikap seperti itu. Tapi kata seorang teman, tidak apa-apa, karena niatnya adalah bukan untuk memutuskan silaturahim selamanya dan hanya sementara, sambil saya juga ‘menyembuhkan’ dan memperbaiki diri. So that’s what I did.

Ini juga bukan berarti bahwa mereka menjadi musuh saya, lho. Certainly, not. Saya tidak akan memusuhi. Tapi kalau mereka berpikir begitu, itu juga hak mereka sih. Begitu juga sebaliknya, kalau kita sendiri menyadari bahwa kita masuk ke dalam folder tersebut oleh teman kita, tidak perlu lah ini dianggap sebagai masalah besar. Daripada berpikir tidak-tidak, lebih baik membenahi diri sendiri. Iya kan?

Satu yang pasti, kita juga tidak pernah bisa benar-benar menghilangkan seseorang di kehidupan kita. Selama masih ada kenangan dan selama kita masih bernafas, kita masih bisa mengingat kenangan itu atau bersimpangan jalan dengan mereka di hari esok. We’ll never know. Kita cuma bisa menerima kenangan itu entah baik atau buruk, dan mensyukurinya! Bersyukur karena pernah mengalaminya. Kalau pun tidak mengenakkan, anggap sebagai pelajaran; berterimakasihlah karenanya juga, karena itu mungkin juga sebagai reminder untuk kita. Bahwa kita ini manusia, selalu dekat dengan kesalahan walaupun mungkin dilakukan tidak sengaja.

So, buat saya pintu pertemanan itu selalu terbuka kok, asal yang ditawarkan juga hal yang positif. Saya juga selalu ingin bisa menjaga tali silaturahim dengan teman-teman saya; sebisa saya. Hukumnya? bisa dilihat di QS an-Nisa:1, dan di sini untuk dalil-dalilnya. Semoga bisa ya, kak!

Terima kasih

Advertisements

5 thoughts on “Tentang meninggalkan dan menyambung kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s