Cerita Jilbab

Salaam..

Melanjutkan posting saya sebelumnya tentang aksi #mariberhijab, banyak teman jilbaber yang share cerita mereka. Jadi mas bro, mbak bro, ini cerita saya ya..

Awalnya beneran cuma modal nekat, yang alhamdulillah makin kesini makin yakin. Coba saja tanya saya lima tahun lalu misalnya, jawabannya pasti ogah-ogahan kalau disuruh berjilbab. Tapi tepat tanggal 17 Mei 2010, saya akhirnya menutup rambut saya. See, saya bahkan tidak menyebutnya berjilbab, karena waktu itu rasanya saya memang belum sepenuhnya berjilbab.

Deep down inside, saya selalu menyimpan keinginan itu, dari duluuuu! Mungkin ya dari diri sendiri juga malu, muslimah kok ya ga berjilbab? Setiap kali ditanya, saya cuma bisa mesem-mesem dan menjawab belum siap. Tapi ya kalau satu niat itu ga dimulai, kita juga pasti ga akan siap-siap. Beneran deh.

Di awal tahun 2010, saya pernah mengutarakan niat itu ke kedua orang tua saya. Maksudnya supaya menambah semangat, gituu.. Tapi niatnya ternyata masih sekedar niat.

Iya, saya melambat. Tahun itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan besar dimana para pekerjanya adalah orang-orang kreatif yang sangat sadar fashion. Mau ga mau, saya jadi ikutan terpengaruh. Huuuu.. sendirinya memang suka. Tapi suer, kalau diingat-ingat, saya memang jadi lebih banyak bereksperimen untuk urusan style. Dari dulu saya penggemar cewek tomboish, jadi saya pernah menjadi seperti itu. Sementara saya tidak suka berpakaian terbuka, ketika itu saya malah jadi berani mengumbar aurat. Hanya sebatas memakai short pant sih paling jauh, tapi sungguh itu sudah melewati batas malu saya.

Di tahun itu juga, saya bertemu dengan seseorang yang cukup istimewa. Ketika itu, pendapat beliau tentang cewek berjilbab agak melemahkan semangat saya. Tidak bermaksud menyalahkan orang lain sih, tapi memang saya waktu itu sedang gampang terpengaruh, jadi yah melempem niatnya. Namanya juga manusia, masih bisa terbujuk oleh orang lain.

Setelah itu, kadar niat berjilbab ya masih segitu-gitu saja. Tapi kurang lebih satu tahun kemudian saya baru berani menjadikan niat itu jadi kenyataan. Done with a drama, saya agak kehilangan arah. Cara pandang saya terhadap persahabatan dan hubungan jadi agak bergeser. Tapi alhamdulillah, masalah yang bertubi-tubi datangnya setelah itu tidak membuat saya berhenti mencari Tuhan saya. Karena saya cukup sadar juga sih, kalau semua memang ujian dari-Nya. Rasanya ya cuma bisa pasrah dan sabar. Saya cuma berpikir bahwa yang terbaik saat itu adalah untuk belajar ilmu ikhlas; termasuk ikhlas untuk menutup aurat. Itu saja yang terus ada di benak pikiran saya. Terus menerus menguatkan niat, sampai akhirnya saya putuskan untuk mulai menutup rambut saya dengan kerudung, tepat sepulang perjalanan outing kantor dari Beijing. Bismillah..

So, setelah beberapa minggu saya “berjilbab”, sempat kaget juga karena seorang teman (bukan kawan dekat) menanyakan pertanyaan seperti ini, “kamu berjilbab karena habis putus cinta ya?” Saya cuma bisa nyengir dan menggeleng, karena sedang tidak ingin menjelaskan apa-apa. Memang sesederhana itu ya alasan orang untuk berjilbab? Menurut saya tidak. Sungguh sempit kalau ada yang berpikiran seperti itu.

Di periode awal, gaya berkerudung saya juga sederhana saja. Maklum koleksi tidak banyak dan saya tidak suka mengikuti gaya jilbab kebanyakan. Kalau tahu mbak Nada di sinetron Pesantren & Rock n Roll, ya dulu gaya saya sederhana seperti beliau (eh sampai sekarang juga masih sih hehe..). Karena prinsip yang saya pegang adalah perintah bahwa muslimah itu mengulurkan jilbab sampai ke dada (QS 24:31). Jadi kerudungnya tidak sekedar disematkan ke bahu atau diikat ke belakang, hanya polos saja memanjang dan menutup bagian dada.

Ga heran, banyak yang berkomentar, “gaya kamu kuno ah, yang lebih modis dong, kelihatan tua ah.” Duuh rasanya agak terluka juga mendengar seperti ini, tapi saya cuma bisa senyum dan bersabar. Mereka cuma tidak paham.

Jadi memang banyak susahnya di periode awal saya berjilbab. Berjilbab itu butuh proses, tapi lebih butuh lagi niat yang kuat dan keikhlasan lillahi ta’ala (untuk Allah semata), baru deh bisa lebih maju; bahkan mungkin ikhlas terlihat ga gaul hehe. Panas, pusing, dan bingung terutama dengan jati diri saya yang baru sebagai jilbaber; semua saya alami. Beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang memberi dukungan; orang tua, keluarga inti dan keluarga besar, teman-teman seperjuangan di YISC Al-Azhar, dan beberapa sahabat dekat, ataupun teman-teman yang mungkin hanya bisa memberi senyuman dan tempat untuk saya berada di sekitar kalian.

Alhamdulillah, sampai sekarang saya makin tidak ingin untuk melepas jilbab. Malah sebaliknya, rasanya tambah nyaman berjilbab, insyaAlloh. Mungkin ini juga karena saya sudah menemukan gaya hijab saya sendiri hehe..

Ya, sampai sekarang saya juga masih terus belajar kok. Untuk semakin syar’i. Semangat, kakak!

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Jilbab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s