Let’s Umroh (2)

Salaam..

Yay, setelah cerita sebelumnya mengenai riak riuhnya persiapan menuju keberangkatan umroh, kali ini saya mau cerita tentang perjalanannya. Akhirnyaaa… postingan ini kelar jugaaa.. huhuuhuu #gininihbaladamalasnulis

Banyak orang yang kaget saya pulang cepat dari umroh. Padahal sebenarnya umroh itu kan cuma 9 hari pulang pergi; itu juga paket regular. Untuk saya pribadi sih ini semacam acara berlibur, cuma bedanya kita bisa sekaligus fokus untuk beribadah. Itinerary tour & travel rata-rata ya sama saja; bedanya cuma tujuan awalnya. Kami kemarin itu berangkat menuju Jeddah dan Madinah al-Munawwarah dulu, baru kemudian lanjut ke Makkah al-Mukarramah dan kembali ke Jeddah lagi.

Ah iya, sebelum pesawat take off, kami satu grup masih sempat berkumpul dan menerima penerangan singkat tentang bekal dasar perjalanan jauh, seperti tata cara tayammum dan shalat jamak qasar. Dilanjut kemudian dengan pidato perpisahan singkat dari tim sukses tours & travel dan acara foto bersama. And yes, we are so ready to go. Bismillah.

Pesawat take off sekitar jam setengah satu siang; tapi kita semua sudah masuk kabin sebelum waktu zuhur. Saya sudah sangat siap untuk sekali lagi naik pesawat; banyak orang takut pada ketinggian tapi saya orangnya lebih takut lagi jatuh dari ketinggian. Tapi setelah beberapa kali merasakan naik turun pesawat, yah akhirnya lama-lama terbiasa (untuk merasa pasrah) hahaha. Apa lagi coba yang bisa dilakukan kalau sudah ada di dalam pesawat, selain pasrah?

Perjalanan penerbangan Jakarta-Jeddah sih alhamdulillah lancar-lancar saja. Buku-buku penting yang saya bawa ke kabin cuma buku panduan umrah dari travel dan buku bacaan (ringan), sebuah biografi tentang Nabi Muhammad saw, karangan Karen Armstrong. Sudah setengah bagian bukunya saya baca (banyak sejarah yang terkait didalamnya, jadi saya sering lama sendiri menghabiskan satu halaman kalau baca buku ini), jadi tinggal menyelesaikan sampai habis. Toh perjalanan juga panjang, 9 jam kurang lebih #fiuhh. Saya juga pertama kalinya melakukan tayammum di perjalanan ini (dan di sepanjang hidup saya). Maskapai penerbangannya juga rajin bolak-balik menawarkan makanan; jadi kenyang sendiri. Saya juga bahkan bisa tidur di dalam pesawat (saking pasrahnya saya haha), yah kebanyakan sih cuma tidur ayam.

Ah iya, ketika pesawat mendekati negara tujuan, beberapa kaum pria terlihat sibuk mondar-mandir ke toilet pesawat sambil membawa kain ihram. Iyesh, mereka itu lah jamaah yang akan pergi ke Mekkah terlebih dulu untuk langsung melaksanakan ibadah umrah.

Jadi, jamaah yang langsung melakukan umrah (juga haji) wajib melaksanakan ihram atau niat. Salah satu syaratnya mengenakan pakaian ihram dan disunahkan juga untuk mandi sebelumnya. Dan niat umrah diambil ketika jamaah memasuki daerah Miqat, yaitu batas tempat dimulainya ibadah umrah dan haji. Pemahaman saya adalah pesawat dari Indonesia melewati tanah haram sebelum tiba di Jeddah. Jadi, memang ada dua pendapat mengenai Miqat (Makani, karena berdasarkan lokasi), yaitu di atas ketika pesawat melintasi lokasi yang sejajar dgn miqat, di Yalamlam atau ketika di jamaah sudah mendarat di Jeddah yaitu di bandara Abdul King Aziz (baca di sini dan sini). Untuk yang mengambil niat umrah di atas pesawat, biasanya juga ada kok pengumuman dari kru pesawat.  Kalau saya dan teman-teman jamaah yang lain sih akan mampir ke Madinah dulu, jadi ihram tidak dilakukan.

Miqat Makani

Sesampainya di bandara King Abdul Aziz, langsung check-in di bagian imigrasi, saya dan si bungsu langsung memisahkan diri dari si mamah, beringsut mendekati keluarga mahrom kami. Persyaratan dari pemerintah Arab untuk wanita yang bepergian di bawah usia 45 tahun adalah memang harus ditemani oleh mahromnya. Jadi kalau saya dan si bungsu, mahromnya diwakili oleh para pria dalam grup kami. Di sini, ada dua pendapat yang membolehkan dan tidak membolehkan pengaturan mahram seperti ini dari pihak tour & travel. Wallahu’alam. Selesai dengan imigrasi dan ambil bagasi, kami langsung meneruskan perjalanan ke Madinah dengan naik bis. Waktu itu sekitar menjelang Magrib. Untuk menghemat waktu, kami bergegas berangkat, untuk nantinya solat jamak Magrib dan Isya di tengah jalan. Perjalanan dari Jeddah menuju Madinah memakan waktu 4 jam kurang lebih.

Oh iya, kesan pertama yang didapat sesampainya di Jeddah adalah ya ketemu langsung dengan orang-orang Arab itu sendiri, haha. Semuanya ngomong bahasa Arab (yaiyalaahh..). Pekerjanya pria, yang wanita jarang terlihat, kecuali penduduk asli atau turis dari negara tetangga. Pekerja bagian imigrasi-nya terlihat sangar; habiiiis, semua nada bicaranya tinggi. Bandara King Abdul Azis juga cukup mewah. Bentuk khasnya bisa kita kenali ketika keluar dan berada di ruang tunggu, dengan atap-atap seperti payung atau tenda yang cukup teduh untuk semua orang tapi kesannya terang. Berada di ruang tunggu, para penumpang pesawat biasanya akan langsung dikerubuti beberapa calo yang menawarkan sim card sana. Yang asli Arab biasanya tinggi-tinggi, kadang cukup parlente memakai kacamata hitam, dan memakai baju terusan yang panjangnya semata kaki (disebut juga Thawb). Beberapa juga cukup tahu bahasa marketing (baca: jualan) Indonesia. Beberapa lainnya berbadan pendek; ini sepertinya memang orang Indonesia yang tinggal di negeri Arab itu. Entahlah, saya tidak kenalan dengan mereka (#nyengir). Saya juga banyak melihat para wanita Arab lalu lalang di ruang tunggu King Abdul Azis. Tentu saja mereka mengenakan Abaya hitam panjang, walau ada juga yang sekedar melilitkan kain jubah hitam lebar di luar pakaian mereka. Subhanallah cantik-cantik, saya cuma bisa bengong dan memperhatikan mereka, haha.

Eniwei, sampai di Madinah cukup malam, sekitar jam 11 kalau tidak salah. Turun dari bis, persis di depan Hotel Durrat Al-Fayroz (kurang dari 500 meter dari masjid Nabawi), hawa keringnya langsung terasa. Berangin kalau di luar hotel. Lagi-lagi kami disambut dengan pria pendek berbaju panjang khas Arab yang membantu leader grup kami mengurus masalah kamar hotel, juga muththowif  (pemandu) kami. Berasa dejavu, tapi mereka memang orang Indonesia, saya bisa pastikan. Rasanya ga seperti berada di negeri Arab deh hehe. Setelah semua jamaah grup dipastikan mendapat kunci kamar, kami bergegas masuk ke kamar masing-masing. Sesegera mungkin istirahat, karena jam setengah tiga, kami harus segera bangun kembali dan memulai ibadah kami di Masjid Nabawi.

Pengalaman berikutnya akan segera disambung yaa.. Nantikan :)

Advertisements

4 thoughts on “Let’s Umroh (2)

    • Ceritanya kah? Tidak dong, perlu diuraikan. Karena pengalamannya sekali seumur hidup tapi pembelajarannya yang berlangsung terus menerus. Dan saya juga perlu catatan tertulis, hehe. Thanks for reading, neng sya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s