Let’s Umroh (1)

Salaam!

Ah, waktu itu berjanji untuk bercerita lagi, tapi ternyata saya-nya sibuk untuk berleha-leha.. hehe. Si bebe Kamil usianya sekarang sudah 6 bulan dan bubu-nya lagi senang-senangnya memerintah orang lain untuk melakukan ini-itu. Dan karena saya “menganggur di rumah”, ya saya juga yang kena disuruh-suruh ini itu. Ini bukan mengeluh kawan, karena saya senang-senang aja tuh bisa bermain dengan bebe Kamil (nyengir).

Jangan ditanya juga bagaimana keadaan mereka ketika kami tinggalkan untuk umroh (nyengir). Iyesh, saya, si mamah, dan si bungsu pergi umroh bertiga dan meninggalkan si bubu dan bebe, bersama para pria lainnya di rumah; si ayah, oom dan kakeknya kamil.

Bayangkan si bubu cuma perempuan sendiri di rumah dan harus mengurus si anak kecil itu, plus ditinggal kakeknya selama beberapa hari keluar kota. Si ayah Kamil juga lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan, sementara si oom tidak tinggal serumah. Beruntung juga sih bantuan datang dari keluarga si ayah Kamil dari Purwokerto. Setidaknya masih ada banyak orang di rumah untuk sedikit memeriahkan suasana (nyengir). Tapi ya, si bubu tetap mengirim sms ketika kami sedang di Makkah dan mengabarkan kalau dia kesepian di rumah secara kami semua ini berisik sekali kalau main dengan si bebe. Sungguh kasihaan.. hehe

Eniwei, balik ke cerita tentang umroh. Awal Juni lalu saya dan si mamah membulatkan niat untuk segera mencari informasi tentang travel umroh, ini jika kami serius mau berangkat akhir Juni atau awal Juli. Si bungsu yang kebetulan akan libur di periode itu tiba-tiba bilang ingin ikut dan akhirnya lah kami setuju untuk bertiga pergi umroh.

Benar deh, mencari agen travel itu gampang, tapi memilihnya itu urusan lain. Pertimbangan utama hanya soal transportasi dan tetek bengeknya. Rata-rata paket tur umroh menawarkan hotel yang tidak begitu jauh dari Masjid Nabawi atau Masjidil Haram; jadi hotel bukan masalah. Kita akhirnya memilih paket tur yang menawarkan transportasi pesawat Garuda demi keselamatan jiwa juga perut kami hehe. Daripada perut bermasalah karena tidak cocok dengan makanan, lebih baik kami cari aman deh. Bang bing bung, setelah mencari-cari informasi dan menimbang-nimbang, akhirnya lah kami putuskan untuk ikut grup umroh di Minarfa Tours & Travel. Horrreeeee…

Eiittsss.. masalahnya tidak selesai sampai di situ, kawan. Karena satu grup dengan sejumlah orang lain, nasib kami bisa dibilang juga ‘bergantung’ pada kemaslahatan dan kepentingan bersama. Soal tanggal keberangkatan, yang kami ajukan dan kami dapatkan malah jadi berbeda (walau tidak terpaut lama); sementara armada pesawat yang kami minta juga berubah, dengan alasan jadwal yang padat dan penuh di musim liburan sekolah. Heih! Urusan ini nih yang memaksa si mamah sempat naik darah dan cuap-cuap. Saya juga sempat terbawa suasana, tapi berusaha tetap sabar mengikuti semua aturan dulu. Balik lagi ingat ke tujuan kami untuk beribadah, jadi kuatkan ilmu ikhlas dan sabar. Dan akhirnya kami sepakat untuk terima pilihan kedua untuk pesawat, sementara tanggal keberangkatan mengikuti keputusan grup untuk ready tanggal 29 Juni 2011. Voila!

Oke, cek kesiapan untuk tanggal itu, saya yang sedianya akan resign per akhir bulan Juni harus merelakan jatah cuti saya berkurang dan resign lebih cepat (nyengir). Alhamdulillah, tanggal 29 Juni itu cuti bersama, jadi saya cuma harus cuti tanggal 30 Juni, untuk kemudian babay (hari terakhir) dengan kantor lama tanggal 28 Juni. Rencana bagus, ya kan?

Not exactly. Dengan berdebar-debar menunggu hari H dan hari terakhir kerja, tanggal 26 Juni saya, si mamah, dan si bungsu mengikuti manasik umroh sekaligus berkenalan dengan teman-teman satu grup. Saya sebenarnya masih percaya tidak percaya kalau mau berangkat umroh dan setengah bingung juga dengan urusan resign dari kantor, jadi persiapan umrohnya masih jauuuuh dari sempurna. Yang paling bikin deg-degan adalah kenyataan bahwa sampai pagi Minggu itu belum ada kepastian dari pihak travel soal visa turun atau tidak.

Benar teman. Setelah selesai sesi manasik, diumumkan lah kenyataan bahwa visa kami semua belum juga turun dari pemerintah Arab Saudi sampai pagi itu. Mengikuti gagal turunnya visa, maka secara otomatis ketersediaan tiket pesawat dan reservasi hotel juga terbatalkan oleh sistem untuk tanggal perjalanan grup kami. Waduuh.. rasanya seperti mimpi di siang hari. Menurut artikel di sini; ini dikarenakan oleh kebijakan pemerintah Arab Saudi yang membatasi jumlah pendatang menjelang bulan Ramadhan untuk menghindari overstay. Dan kasus ini juga berlaku merata ke semua jamaah umroh, tidak hanya di Indonesia.

Kami shock tapi pun masih berusaha berpikir positif. Yang terpenting adalah tidak menyerah dengan kenyataan sepahit apapun, terus berdoa berharap ada mukjizat dari Allah agar visa kami satu grup semua bisa turun sebelum tanggal keberangkatan; walaupun sebenarnya kami juga sudah kehilangan tiket pesawat dan hotel. Tapi di sini lah, keyakinan kami semua diuji. Seperti kata seorang kawan, “berbaik sangka lah pada Allah, maka IA akan selalu dekat denganmu.” Lagipula sudah sampai tahap ini juga, saya belajar banyak kok; seperti saat manasik saya bisa dapatkan beberapa informasi baru mengenai pelaksanaan umroh, sekaligus tentang keadaan riil di tanah suci nanti sambil mempersiapkan diri. Selebihnya, kami semua cuma bisa menunggu dan berdoa.

Bagaimana akhirnya? Yah kalau baca dari postingan sebelumnya, tentu saja kami sungguh beruntung akhirnya bisa berangkat umroh. Satu per satu; dari visa, tiket pesawat dan hotel, bisa turun dan kembali available. Asal tahu, kepastian kami berangkat itu baru kami dapatkan pada sore hari tanggal 28 Juni-nya. Salut sangat untuk tim sukses Minarfa Tours & Travel (sambil angkat dua jempol). Dan ya, walaupun sebetulnya saya sudah siapkan koper seadanya dari Senin malam (saya optimis kan? *nyengir), tapi Rabu malam itu kami tetap saja kelimpungan packing untuk check-in di airport jam 8 pagi esoknya.

Rasanya? Senaaang.. sekali. Sampai sekarang masih tidak percaya, saya sudah menginjakkan kaki di tanah suci. Seperti kata Ustad Nur Maulana, “Alhamduuuu.. lillaaahh…” Allah benar-benar Maha Penyayang dan Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang percaya.

More stories to come, tunggu lah secepatnya hehehe..

Advertisements

5 thoughts on “Let’s Umroh (1)

    • Haha maaf neng sya, agak basi ceritanya, agak basi juga reply komennya.
      Beneran resign. Kalau ga cerita-cerita, lagi malas aja, lagi ga mood cerita ke banyak orang. Mudah-mudahan sih pindah ke yang lebih baik :D doakan saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s