Maaf saya mengumpat.

Saya tidak suka mengumpat. Tapi saya sering diam-diam mencuri pandang dan membuat tatapan nyinyir ke arah dia sambil membayangkan kata-kata buruk sebatas yang saya mampu. Maaf, tapi lama-lama saya kesal juga.

…….

Maaf, saya tahu bahwa menurut agama, saya tidak boleh terlalu membenci sesuatu, tapi untuk yang satu ini susah untuk tidak bisa membencinya. Sampai baunya aja saya bisa cium dari jarak jauh saking sensitifnya hidung saya, dan akhirnyalah saya memendam penyakit hati karena rasa benci juga kesal itu.

Siapa? Oh bukan tentang siapa. Justru ini tentang apa.

ROKOK! Nah itu dia. I hate cigar. There I said it. Maaf.

…….

Maaf, ya Rabb. Saya memang antipati dengan benda satu ini. Maaf juga kalau saya jadi ikut berburuk sangka pada kawan-kawanku yang tidak bisa tidak mengisap rokok. Tapi saya tidak suka dengan kenyataan bahwa kalian mengisap benda yang nyata-nyatanya mengisap juga kesehatan orang lain.

Kalau saya bilang perokok-perokok itu egois, maka maafkanlah saya. Semata-mata saya tuduhkan pada kawan-kawan semua karena jelas-jelas asap rokoknya itu terbang kemana-mana, terhirup oleh siapa saja di sekeliling mereka. Ibu-ibu, bapak-bapak, kakak-kakak, adik-adik dan (garis bawahi) anak-anak sekalian, termasuk juga saya yang duduk manis persis di belakang pak supir metro mini yang suka merokok itu. Coba tengok lagi, siapa yang lebih banyak kena penyakit paru-paru atau jantung? Perokok aktif atau perokok pasif?

Maka maaf, sekarang saya bertanya. Di mana hati nurani kalian, wahai para perokok? Pertanyaan ini terutama saya tujukan kepada mereka yang (bisa-bisanya) merokok di ruangan AC atau dekat anak-anak. Question mark!!!

….. help, saya butuh bantuan agar penyakit hati ini bisa pergi jauh-jauh.

PS: Maaf, kalau yang ini adalah sebuah pengakuan. Saya pernah meng-unfollow seorang kawan di twitter, karena tweetnya yang sering penuh dengan umpatan. Apakah saya terlihat jahat? Tapi saya tidak terima bahwa saya jadi ikut-ikutan membaca sumpah serapah itu. Rasanya ini adalah sebuah hak, kawan. Terima kasih. Salaam.

Advertisements

6 thoughts on “Maaf saya mengumpat.

  1. Yay! Saya gak bisa menyalahkan Ai kalau mengumpat demi rokok. :lol:
    Saya juga benci rokok. :D

    Lagipula…. mengumpat itu… melegakan. Ahahaha~ *jangan ditiru ah!*

    Saya pernah membaca sebuah kisah, tentang pasangan suami istri yang hidup bersama. Tiba-tiba sang istri meninggal. Suami menikah lagi, dan ternyata istri yang kedua pun meninggal duluan. Tenryata, penyebabnya adalah sang suami itu perokok berat. Ini bukti bahwa perokok pasif berdampak lebih buruk ketimbang yang aktif. :(

    • Ah aku juga ikutan komen di postingan-mu yang itu hehe
      Walaupun saya juga ikut-ikutan mengumpat, lebih baik saya ingatkan kalian deh (juga diri saya sendiri), bahwa mengumpat itu tidak boleh, kawan-kawanku. Cuma nambah saldo dosa kita :p Mending lega atau dosanya nambah, hwayyoo?
      Oh iya, kisahnya sedih banget. Semoga suami saya nanti bukan perokok, atau kalau iya, semoga dia cepat sadar. Amin..

    • Terima kasih mbak. Aku memang ga pandai mengkritik orang lain dengan pedas. Suka segan.. dan takut juga sama yang di Atas. Takut juga kalau aku sendiri melakukan kesalahan yang sama.

  2. Sumpah saya tersindir. Pasti kamu yang kenal saya dari 2006 ga tau kan kalo saya dulu perokok?
    Dulu waktu ngerokok, saya langsung sediain kipas buat temen di dekat saya. Sekarang insya Allah udh 2 tahun lebih berhenti merokok. Dan baru sadar kalau selama ini saya egois. Saya yang perokok aja ga suka sama asap rokok apalagi yang ga merokok. :( Duh saya berutang nih sama orang di sekitar saya.
    Btw, kata si Asop juga bener, tantenya teman saya meninggal karena kanker paru-paru, padahal almarhumah ga ngerokok tapi suaminya yang ngerokok.

    • Wah ga tau, sya. Untung aja kamu udah berhenti ya. Malah alhamdulillah banget, soalnya biasanya susah buat perokok untuk berhenti dari kebiasaan mereka. It takes guts! Dan.. sudah tahu kan hukum rokok itu apa dalam agama Islam? So, i’m very proud of you. You go, girl! Share ceritanya dong ;)
      Eh, tapi masak sih kamu yang dulunya merokok gak suka dengan asap rokok? Baru denger hal yang seperti ini hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s