Sushi oh Sushi..

Sushi halal atau gak sih? Seorang teman bertanya. Dan, terus terang saya tidak tahu jawabannya. Tapi untung saja dia menanyakannya, jadi saya ‘terpaksa’ mencari tahu jawabannya dan menemukan beberapa fakta penting yang cukup bikin saya shock.

Karena apa? Saya penggemar Sushi, sangat, sampai-sampai menjadwalkan jatah makan Sushi sebulan sekali sebagai menu wajib. Dan saya baru tahu kalau restoran-restoran Sushi ternama di Jakarta, termasuk restoran Sushitei, Sushi Groove atau Poke Sushi, belum ada yang mengantungi sertifikat halal dari MUI. Hah?!

Sebenarnya ini bagaimana sih? Saya sebagai konsumen cuma tahu sedikit informasi tentang makanan dari Jepang ini. Bagaimana makanan yang notabene adalah makanan mentah bisa dikatakan tidak halal? Saya pernah mampir ke sebuah situs forum komunitas maya terbesar di Indonesia ketika googling tentang restoran Sushi favorit saya. Ada komentar yang cukup buat  saya mengerenyit. Ada yang bilang begini, “Sudah pasti lah Sushi itu halal, kan tidak ada kandungan babinya!” HEI, memangnya pelabelan halal atau haram sesederhana itu? Ini lucu sekali (#sinis), tapi begitulah pemikiran sederhananya. Dari kasat mata yang terlihat kan cuma ikan-ikan mentah (yang kadang-kadang saya sendiri tidak tahu nama ikannya, #nyengir) dan sayuran. Selebihnya? kita tidak tahu apa-apa.

Tapi dari website halal guide, saya baru tahu kalau banyak produk makanan-makanan Jepang yang menggunakan Mirin sebagai salah satu bahan pembuatnya. Sebenarnya pun kita tidak aneh atau sudah familiar dengan kebiasaan orang Jepang yang mengkonsumsi sake, atau alkohol (atau khamr dalam bahasa Arab) dalam keseharian mereka. Tidak aneh juga kalau sekarang saya dengar sake dimasukkan sebagai ingredient makanan mereka. Tapi kenapa baru terpikirkan?

Maki Sushi (credit: into the deep of my soul)

Oke, here’s the fact. Menurut oom wikipedia, (1) Mirin itu adalah bumbu dapur untuk masakan Jepang berupa minuman beralkohol berwarna kuning, berasa manis, mengandung gula sebanyak 40%-50% dan alkohol sekitar 14%. (2) Mirin digunakan sebagai bumbu dalam masakan mie Udon dan Rame, masakan daging sapi dan kentang Nikujaga, serta masakan ayam dan telur Oyako Donburi. Sake (for your information) digunakan dalam masakan bayam dan pasta wijen, masakan daging Sukiyaki serta masakan nasi Sushi Meshi. Sake dan mirin juga digunakan sebagai campuran saus marinasi ayam untuk masakan Yakitori dan campuran saus Teriyaki atau saus Tempura. (3) Mirin adalah sejenis rice wine yang mirip dengan sake. Rasanya lebih manis dengan kandungan alkohol lebih rendah. Ada dua jenis mirin, yaitu hon dan shin mirin. (4) Mirin umum digunakan sebagai bumbu masak, dimana rasa manis merupakan rasa yang penting dalam masakan Jepang. Selain itu penggunaan mirin menambah cerah penampakan ikan panggang dan menghilangkan bau amis ikan. (5) Mirin juga digunakan sebagai teman menyantap sushi. Pada pembuatan saus Teriyaki dan saus Tempura, mirin dapat diganti dengan campuran sake dan gula dengan perbandingan 3:1.

Dengan berbagai fakta di atas, saya sudah cukup kaget. Sesuai ajaran agama saya, makanan yang halal atau tidak ini jadi urusan yang sangat penting. Tidak boleh disepelekan, karena dari makananan ini bisa mempengaruhi diterima atau tidaknya ibadah kami kepada Sang Khalik. Dan tentu saja, makanan yang mengandung alkohol atau khamr itu haram kami konsumsi, meski dalam jumlah sedikit!

Hati-hati!!! Itu sikap yang harus saya terapkan mulai sekarang. Sebagai pencinta sushi, rasanya sedih juga saya tidak bisa lagi menikmati makanan ini (setidaknya sekarang). Tapi ya, itu sudah keputusan saklek, karena berhubungan dengan ibadah. Kalau ada restoran sushi yang mendapatkan label halal dari MUI atau sudah pasti menggunakan bahan-bahan pembuat sushi yang halal, saya pasti mau makan Sushi lagi. Tapi sekarang tidak dulu deh. Lihat dulu, apakah restoran yang menyediakannya sudah mendapat sertifikasi halal dari badan yang berwenang.  Apalagi yang namanya urusan dapur, kita kan tidak pernah tahu kecuali mengecek sendiri. Siapa bisa jamin, bahan-bahan makanan atau bumbu di restoran tidak saling tertukar atau terkontaminasi oleh bahan-bahan yang tidak halal? Paling tidak, kita harus lebih kritis bertanya atau mencari informasi tentang makanan atau minuman yang akan kita konsumsi, dan lebih baik menghindar deh kalau kita memang ragu.

Sila kalau ada yang menemukan fakta terpercaya tentang kehalalan sushi di restoran-restoran yang saya sebut di atas (atau restoran sushi lainnya). Saya sempat dapat informasi dari hasil browsing google tentang beberapa restoran sushi di Jakarta yang menjamin tidak menggunakan bahan-bahan di atas. Tapi saya belum berani juga untuk percaya rekomendasinya. Apa harus belajar untuk membuat sushi sendiri, ya? That sounds like a good idea, walaupun pasti kudu dan harus merogoh kocek dalam-dalam karena bahan-bahannya yang mahal #nyengir. Salam.

Advertisements

13 thoughts on “Sushi oh Sushi..

  1. yah, saya ini karyawan di resto jepang
    tapi tak tahu ini..
    makasih lnfonya…
    cita-citaku berubah deh
    saya akan bangun resto jepang yang halal
    tunggu tanggal mainnya teman…..

    • Duuh cita-cita yang sungguh mulia. Aku bener-bener terharu.. hikss
      Bener-bener lho aku tunggu resto Jepang halalnya. Sekalian kasih menu sushi ya pak. Aku kangen makan sushi, yang halal tentunya huhuhuhuuuuuu…

  2. just info, saya udah pernah nanya both ke sushi tei dan sushi groove mereka pake mirin/sake ato gak, dan katanya sushi tei gak pake, kalo sushi groove pake :)

    • Oh ya? Wah terima kasih atas infonya. Mudah-mudahan jawaban mereka jujur yah, karena dari beberapa kasus yang aku dengar dari kawan-kawan milis, banyak restoran besar yang kurang jujur mengenai ingredientnya. Kalau mau lebih yakin lagi, saya mau deh masuk ke dapur Sushitei misalnya untuk melihat sendiri proses memasaknya. Untuk restoran besar, rasanya kalau tidak ada kepastian soal sertifikasi halal dari MUI, saya masih tidak berani untuk mengkonsumsinya. Kecuali mereka blak-blakan ‘buka dapur’ soal ini ya.
      Sekali lagi, terima kasih ya neng Nabila atas infonya. Sok atuh di share detil sesi tanya jawabnya dengan resto sushitei. Saya pengen tahu deh bener.

      • hmmm iya juga sih, gak tau juga mereka jujur/nggak.
        waktu saya nanya ke sushi groove apa sushi-nya halal ato nggak, mereka bilang halal, tapi pas ditanya pake alkohol/sake ato nggak, jawabannya pake :/
        kalo sushi tei pas saya tanya pake sake atau nggak, mereka bilang nggak dan sushi nya hallal. begitu sih, tapi yaa masih perlu dipertanyakan juga karena gak ada sertifikasi halal dari MUI

  3. terima kasih infonya…bagus.banget, anak saya menyukai sushi, tp hati kecil saya ragu akan kehalalannya…terimakasih infonya..dan maaf…mba izin copas share difb ya.

    ..

    • ah, sama-sama mbak devi. semoga bermanfaat ya infonya. kalau ada update terbaru untuk restoran sushi yang sudah bersertifikat halal, sila di share lho :) sila juga di share kalau memang perlu. #senangnyaberbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s