YISC: Tauhid II

Salam.

Materi kelas SII YISC kali ini (tertanggal 26 Februari 2011) melanjutkan pembahasan mengenai materi tauhid. Sub bahasannya adalah mengenai Syahadatain, termasuk makna kandungannya, substansi, aplikasi dan realisasinya.Alloh SWT berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang haqq selain Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal“ (QS Muhammad 47:19)

Kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang ringan di lidah, namun besar maknanya di sisi Alloh SWT. Saking besarnya makna kalimat ini, setiap orang yang mengucapkannya dijamin oleh Alloh SWT melalui lisan Rasulullah saw, “barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka ia berhak untuk masuk surga“.

Apa sih kandungan kata Syahadatain atau Laa Ilaaha Illallah sehingga seseorang yang mengucapnya bisa dijanjikan untuk masuk surga? Apakah cuma sekedar mengucap atau kah perlu tuntutan-tuntutan setelah kita mengucapkannya? Ternyata belum tentu seseorang yang mengucap Laa Ilaaha Illallah itu beriman kepada Alloh.

Kalimat Laa Ilaaha Illallah ini memiliki pengertian yang luas. Surah yang begitu jelas menjelaskan tentang makna syahadatain adalah QS Al-Ikhlas. Pada surah ini, Alloh memerintahkan kita supaya menganggap, beriman, berkeyakinan bahwasanya Alloh itu ahad atau satu, tidak dua atau tiga. Ini adalah keyakinan keimanan yang harus dimiliki setiap orang yang beriman kepada Alloh. Bahwa setiap orang yang beriman kepada Alloh yang satu itu kemudian harus menjadikan Alloh sebagai tempat berlindung dan bergantung. Mereka juga harus beriman bahwa Alloh tidak lah punya anak, karena itu berarti Alloh adalah memiliki pasangan dan tidak pula diperanakkan karena itu berarti Alloh punya ayah & ibu. Dan kemudian ada kewajiban lain, yaitu mentauhidkan Alloh dengan tidak menyekutukan-Nya karena tidak ada mahkluk lain yang serupa dengan-Nya.

Setelah kita mengimani bahwa Alloh itu ahad, merupakan tempat bergantung, serta tidak memiliki anak atau diperanakkan, maka Alloh menyuruh semua manusia untuk mengabdi kepadanya. Pada QS 51:56, Alloh memerintahkan manusia agar wajib mengabdi hanya kepada-Nya karena Dia lah yang menciptakan. Di sini kemudian kalimat Laa Illaaha Illallah bisa diartikan sebagai (1) Laa holiqo Illallah yang berarti tiada Maha Pencipta selain Alloh. Sesuai dengan tauhid Uluhiyah, manusia wajib menyembah Alloh karena Dia lah yang menciptakan manusia.

Kemudian pada QS 2:21-22, juga dijelaskan bahwa Alloh yang menciptakan manusia, kemudian bumi sebagai hamparan dan langit (as-sama’) sebagai atap atau penutup bagi bumi, lalu Alloh turunkan air hujan dari langit untuk memelihara bumi, dan darinya tumbuhlah tumbuh-tumbuhan sebagai rezeki. Sehingga di sini kita mengenal makna lain dari Syahadatain, yaitu (2) Laa Roojiqu Illallah, tiada yang dapat memberikan rizki selain Alloh. Ingatlah bahwa tidak ada sesuatu pun yang diciptakan sia-sia di bumi ini.

Adapun makna-makna lain dari Laa Ilaaha Illallah, antara lain sebagai berikut: (3) Laa Mukhiiwalaamumiitu Illallaah, yaitu tidak ada yg menghidupkan dan mematikan selain kehendak Alloh, (4) Laa Mujiiba Illallah, tiada yang dapat mmberi pengabulan doa selain Alloh, (5) Laa Musta’aani Illallah, tiada yg dapat dimohonkan pertolongan kecuali Alloh, (6) Laa Ma’ubuuda Illallah, tiada yang berhak disembah selain Alloh.

Ada sebuah kisah tentang Syekh Ibrahim bin Adham. Beliau membolehkan manusia tidak beribadah kepada Alloh, dengan syarat-syarat. Beberapa diantaranya adalah jangan tinggal di bumi Alloh, jangan makan minum bukan dari rezeki Alloh, serta beraktifitas lah tanpa terlihat Alloh. Jika ini mampu dilakukan, silahkan untuk tidak beribadah kepada Alloh SWT.

Sebuah kisah lain menceritakan, ketika seseorang gembala kambing didatangi oleh Umar bin Khattab ra. Si penggembala kambing dipercayakan majikannya untuk membawa kambingnya yang banyak jumlahnya. Umar ra ingin membeli satu kambing tanpa sepengetahuan majikan karena sesungguhnya hanya penggembala kambing yg tahu betul jumlah kambing yang digembalanya. Namun apa kata si penggembala kambing, “Aku tak akan menjualnya”. Ketika Umar bertanya kenapa, si penggembala kambing berkata, “Mungkin betul majikanku tidak akan tahu karena ia tak pernah tahu jumlah kambingnya, namun Alloh Maha Mengetahui dan Melihat perbuatanku. Dan aku tidak lah berani melakukan yang kau minta”. Umar ra begitu kagum kepada kejujuran sang penggembala kambing karena semata-mata ia takut kepada Alloh SWT.

Sebuah kisah lain yaitu kisah ayah dari ulama besar Abdullah bin Mubarak. Sang ayah hanyalah seorang budak sahaya. Ia pernah dipekerjakan sebagai penjaga kebun milik majikannya selama beberapa tahun. Suatu ketika majikannya memanggilnya untuk membawakan buah delima yang manis. Ketika sudah diserahkan dan si majikan mencicipi buah delima tersebut, ternyata rasanya asam. Marahlah sang majikan dan menghardik sahayanya tidak becus menjaga kebunnya sekian lama dan tidak mampu membedakan mana buah yang manis dan mana yang tidak. Apa jawaban sang budak sahaya? “Tuan, aku tidaklah Tuan perintahkan selain sekedar menjaga kebun Tuan. Dari itu, tidak sebutir delima yang singgah di tanganku untuk ku makan. Aku tidak ada titah untuk itu”, ujarnya. Kisah selanjutnya, sang majikan begitu kagum dengan kepatuhan sahayanya yang tidak berani sedikit pun melanggar perintahnya atas keimanannya kepada Alloh. Dan dengan kehendak Alloh SWT, sang budak sahaya akhirnya dinikahkan dengan puteri sang majikan. Pernikahan mereka melahirkan Abdullah bin Mubarak, seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Subhanallah.

Satu yang menggambarkan aplikasi syahadatain adalah kisah tentang murid-murid Imam Syafi’i. Sang Imam menyuruh murid-muridnya utk menyembelih burung. Apa syaratnya? “Sembelihlah mereka tanpa ada yang melihat”. Kisah selanjutnya, ada satu muridnya yang kembali tidak menyembelih karena ia percaya bahwa di tempat tersepi pun, ia tidak akan bisa menyembelih burung sesuai perintah Imam Syafi’i karena masih ada yang bisa melihat perbuatannya, yaitu Alloh.

Begitulah aplikasi keimanan seseorang bila ia betul-betul meyakini keesaan Alloh SWT. Beberapa hal yang bisa kita ambil dari hal ini adalah jagalah diri kita berbuat dari perbuatan yang tidak disukai oleh Alloh SWT, dan menyakini tidak ada yang berhak ditakuti atau menghukum kita kecuali Alloh.

Apa yang bisa membatalkan syahadatain? Hal yang paling pokok adalah ketika kita berbuat musyrik atau syirik kepada Alloh SWT. Percaya pada dukun, mengunjungi makam dan minta doa, sebagai contoh, adalah sama seperti mengakui ada yang berkuasa selain Alloh. Tengoklah QS 2:22 pada kalimat terakhir, “karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Alloh, padahal kamu mengetahui”.

Seorang muslim harus mengakui bahwa hanya ada agama Islam, tidak boleh menganut ajaran bahwa semua agama itu sama. Itu mendekati musyrik. Ingatlah kembali pada tiga ilmu tauhid, yaitu tauhid rububiyyah (mengakui bahwa semua ada yg menciptakan, memelihara kita dengan keseimbangan sistem bumi), tauhid Uluhiyyah (mengakui Sang Pencipta dengan melakukan ibadah dan menyembah Alloh SWT) dan tauhid Mulkiyah (Aswa wal sifat).

Bagaimana adab kita ketika umat agama lain merayakan hari raya mereka? Ketika kita mengucapkan selamat hari raya, itu sudah perbuatan yang salah secara tauhid, karena kita sudah mengakui keberadaan Tuhan lain yang dirayakan pada hari tersebut. Dalam QS 109:6, Alloh SWT berfirman, “untukmu agamamu dan untukku agamaku“. Kita sebagai umat Islam diajarkan untuk menghormati umat agama lain dalam urusan dunia sesuai yang sudah diajarkan juga oleh Rasulullah SAW. Islam menghargai kebebasan beragama, Laa ikraha fid diin, tak ada paksaan dalam beragama. Tapi ketika masuk dalam ranah urusan agama, kita tidak boleh mengikuti, karena ini sudah menyangkut aqidah. Tidak mengucapkan selamat hari raya kepada agama lain bukan berarti kita tidak bergaul dan berlaku baik kepada mereka. Begitu pun ketika sifat-sifatnya mngikuti ritual atau doa-doa agama lain, kita dilarang mngikuti karena ini adalah ittiba’ (mengikuti apa yang mereka lakukan).

Kemudian bagaimana bersikap kepada keluarga yang beragama beda dari kita? Ingatlah bahwa dalam urusan dunia mereka itu keluargamu, tapi dalam urusan agama mereka bukan lah siapa-siapamu. Sebagai anak atau saudara misalnya, kita wajib berbakti kepada mereka sebagai anggota keluarga pada umumnya namun tanpa harus mengikuti agama mereka (QS 31:15). Jaga kesucian Tauhid, tunjukkan kemuliaan akhlak tanpa harus mengikuti agama mereka. Dan dalam QS 5:2, Alloh berfirman, “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya“.

Catatan: Apabila orang non Muslim mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah, “Wa’alaikum (Semoga anda juga)”. Itu saja, tidak udah diperpanjang lagi. Rasulullah saw menasihatkan, “Jika orang-orang ahli Kitab (non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah: Wa’alaikum.” (H.R. Bukhary dan Muslim).

Wallahu A’lam bish-shawab. Salam.

Catatan ini saya himpun sebagai hasil diskusi dan pemberian materi di kelas SII – YISC Al-Azhar oleh Ustadz Muhammad Ridwan. Referensi bisa dilihat di sini, sini, sini dan sini.

Advertisements

One thought on “YISC: Tauhid II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s