YISC: Tauhid I

Sebenarnya sudah lama sekali saya berniat memenuhi janji untuk melanjutkan sharing kajian SII saya di YISC. Tapi berhubung mood saya untuk nge-blog kurang bagus belakangan ini, juga kerja harian saya menyita waktu, sharing-nya jadi terbengkalai.

Tapi tenang saja, insyaAlloh sharing-nya akan lanjut terus walaupun sedikit (tapi pasti) lama #nyengir. Harap sedikit bersabar karena saya orang yang sabar (rima yang ga nyambung sebenarnya). Tentu saja maksudnya di sini adalah saya bersabar memulai sharing dari terakhir kali saya tinggalkan di bulan Februari itu, yang kalau dipikir-pikir sudah lebih dari satu bulan berlalu. Duh, rasanya jadi bersalah kalau ingat kelalaian sendiri. Semoga dimaafkan.

Lanjut saja. Kelas SII kami waktu itu (catat: tertanggal 26 Februari 2011) membahas materi tentang tauhid. Dan karena suasana kajian begitu ramai oleh peserta dari kelas lain (waktu itu beberapa kelas disatukan dalam satu ruang aula), suara sang ustadz jadi tidak terdengar. Jadi, maaf kalau sharing saya kali ini sebagian besar adalah sekadar hasil browsing sana-sini.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23)

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

Dia-lah Allah yang tiada Rabb berhak disembah selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Rabb berhak disembah selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. al Hasyr: 22-24]

Pertanyaan pertama yang dilemparkan sang ustadz berkenaan dengan materi ini adalah “Bila saya memegang sebuah botol penuh dengan air, lalu saya balik botolnya, kira-kira apa yang akan terjadi?”. Pertanyaan ini kemudian mengarah pada jawaban cepat kita ‘airnya akan tumpah’ dan pertanyaan selanjutnya tentang kenapa jawaban itu yang terlintas di pikiran kita. Secara umum, kita sudah tahu hal itu akan terjadi berdasarkan pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya, dan ini diperkuat dengan pengetahuan kita tentang hukum gravitasi, yang meyakini bahwa air akan tumpah ke bawah.

Apa hubungannya dengan tauhid? Hal ini dilanjutkan dengan pertanyaan berikut. Yaitu, bagaimana kita bisa percaya pada sesuatu yang disebut Tuhan, seperti apa Tuhan itu, kenapa kita bisa percaya hanya ada satu Tuhan, bagaimana kita meyakini hal itu, dan kemudian menyembah Tuhan yang satu. Di sini lah, kita belajar memahami konsep keesaan Tuhan dalam Islam.

Pada umumnya, ilmu tauhid itu sendiri dibagi dua, yaitu tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah. Pengakuan atas tauhid Rububiyah, konsekuensinya adalah pengakuan terhadap tauhid Uluhiyah. Adapun konsekuensi tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Rububiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah SWT.

Tauhid Rububiah maksudnya adalah keyakinan seorang hamba bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan seluruh ciptaan ini dengan sendiri, dan pengakuan bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mengatur semua ciptaan ini, Yang memiliki alam semesta, Yang menghidupkan seluruh kehidupan, dan Yang mematikan seluruh kematian. Tauhid juga disebut sebagai aqidah (baca di sini).

Satu penggambaran yang bisa kita lihat adalah dari kisah tentang pencarian Tuhan nabi Ibrahim as. Beliau berulang kali mempertanyakan pencipta alam semesta kepada orang tuanya, kepada orang-orang di sekitarnya, dan dengan melihat alam di sekitarnya.

Firman Allah SWT, “Ketika hari telah malam, Ibrahim melihat bintang. Katanya: Inilah Tuhanku? Maka setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata: Saya tidak akan ber-Tuhan pada yang terbenam. Kemudian ketika melihat bulan purnama, ia pun berkata lagi: Inilah Tuhanku? Setelah bulan itu lenyap, lenyap pula pendapatnya ber-Tuhan kepada bulan itu, seraya berkata: Sungguh kalau tidak Tuhan yang memberi petunjuk, tentu saya menjadi sesat. Maka ketika siang hari, nampak olehnya matahari yang sangat terang, ia pun berkata: Inikah Tuhanku yang sebenarnya? Inilah yang lebih besar. Setelah matahari terbenam, ia pun berkata: Hai kaumku! Saya tidak mau mempersekutukan Tuhan seperti kamu. Saya hanya ber-Tuhan yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas dan sekali-kali saya tidak mau menyekutukan-Nya.” (QS. Al-An’am: 76-79).

Sedangkan tauhid Uluhiyah adalah pengakuan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Pengakuan tersebut selanjutnya direalisasikan dalam bentuk penyembahan, ibadah dan pengharapan dari setiap do’a-do’anya. Sebagian ulama mendefinisikan tauhid Uluhiyah sebagai puncak rasa cinta dan keta’atan kepada Allah. Dengan Tauhid Uluhiyah ini, seorang hamba bisa disebut muslim, karena telah melaksanakan perintah-perintah agama, yaitu ibadah. Maka bisa dikatakan bahwa bentuk lahir dari Tauhid Uluhiyah adalah menjalankan rukun-rukun Islam. Seorang hamba bisa saja telah mencapai Tauhid Rububiyah, namun belum mencapai Tauhid Uluhiyah; seperti seseorang yang telah mempercayai keberadaan Allah, namun belum mau menegakkan rukun-rukun Islam.

Tauhid uluhiyah inilah yang sebenarnya dituntut oleh Allah kepada makhluk-Nya. Jika dikatakan sebagai makhluk, maka sudah selayaknyalah dia harus meyakini dan menuruti Sang Pencipta. Jika disebut sebagai manusia, maka sudah pada tempatnyalah selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Jika merasa sebagai yang diberi mandat sebagai khalifah di muka bumi, maka sudah pada tempatnyalah meramaikan dan membawa bumi bersujud kehadlirat-Nya.

Uluhiyah berlandaskan Rububiyah

Allah memerintahkan manusia untuk bertauhid uluhiyah, yaitu menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Telah Dia tunjukkan dalil yang mutlak tentang tauhid Rububiyah, yaitu penciptaan-Nya terhadap manusia, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sungguh sangat tidak layak bagi manusia bila menyekutukan Allah dengan yang lain. Menyekutukan Allah dengan benda-benda duniawi yang fana. Mensetarakan Allah Sang Khaliq dengan manusia yang adalah makhluk. Padahal sebenarnyalah mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dalam urusan seperti yang menjadi urusan Allah.

Oh iya, selain dua tauhid di atas, masih ada lagi tauhid yang ketiga yaitu tauhid Asma’ Sifat. Ini adalah kepercayaan bahwa Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna, dengan mengakui dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an dan yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW. Tauhid Asma’ Sifat lebih merupakan persepsi hamba terhadap Tuhannya dengan pengakuan bahwa Tuhannya adalah yang Maha Sempurna. Iman kepada Asma’ul Husna adalah termasuk dalam Tauhid ini.

Kesimpulan: Jalan yang benar adalah menetapkan tauhid uluhiyah berlandaskan tauhid rububiyah, karena tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui bentuk amal ibadah, akan mampu memberi manfaat bagi kehidupan keimanan manusia. Dan pada kenyataannya manusia memang sangat bergantung kepada Allah. Sederhananya, segala aktivitas keseharian kita, amal ibadah kita, muamalah kita, seluruhnya didasari akan rasa keyakinan kita kepada Allah. Tiada sandaran selain kepada-Nya. Tiada tujuan selain Ridha-Nya. Dan tiada harapan selain berkah dan Kasih-Nya.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bish-shawab. Salam.

Beberapa sumber: dari sini, sini, sini, sini, dan sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s