Deru.

Samar-samar, ada yang terdengar. Hanya seperti lengkingan lirih namun dengan suara tawa bereretan.
Gendis cuma bisa mengerenyit.

….

Suara mendekat. Melengking dengan nada tiga oktaf, dan langkah kakinya makin berat.
Gendis berbisik sendiri, ‘tak apa-apa, kau takkan tersakiti’..

Tiga empat langkah, semakin pasti datang. Kali ini hentakan kaki-kaki melompat dan teriakan membara yang serta merta merobek pertahanan batinnya. Haarrr!

Lima enam tujuh, gemuruh suara itu makin mendekat. Rasanya makin gila dan sesak ingin lepas kendali, dan terurai segala emosi, tapi masih ada yang bisa menahan ruang Gendis.

Kali ini, dang, suara itu terjelas laksana bergaung-gaung di depan mata telinganya, dan hati Gendis belingsatan gugup.

Untuk kesekian kali terjadi, tapi ‘tidak dan tidak kali ini!’, keluh Gendis. Apa guna sesuatu terjadi bila ia tidak belajar menghadapinya?

Gendis berkali-kali menarik nafas panjang, mencoba menguapkan emosi jiwa jauh-jauh, sambil berulang kali berucap istigfar. Ia tak kan kalah.

Advertisements

3 thoughts on “Deru.

  1. Apa guna sesuatu terjadi bila ia tidak belajar menghadapinya? >>>>> Suka ini. Semua hal yang terjadi selalu dapat dijadikan pelajaran. Semangat Gendis! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s