Sang penghias.

Salaam.

Hari ini tiba-tiba saja saya teringat suatu masa, ketika bulan Ramadhan lalu saya mengikuti shalat tarawih jama’ah di sebuah mesjid besar di sekitaran kantor di Jakarta. Sebelumnya, saya harus cerita bahwa Ramadhan lalu adalah kali pertama saya menjadi jamaah di mesjid tersebut. Jadi ini memang menjadi pengalaman berharga saya.

Dari satu dua kali menjadi jamaah, saya jadi paham bahwa para Imam di sana kadang mengambil bacaan surah yang panjang setelah membaca Al-Fatihah, kadang pula menyelesaikan satu surah dalam beberapa rakaat shalat tarawih.

Saat itu, ketika menyimak bacaan beliau, saya terhenyak ketika menyadari surah yang sedang dibacakan. Saya tidak paham arti kalimat per kalimat, tapi melalui pengulangan ayat demi ayat, saya semakin yakin surah apa yang beliau bacakan itu. Dan, yang membuat saya makin tersentuh adalah karena Sang Imam menangis dalam membaca surat itu. Ya ayat demi ayat, dan beliau pun semakin larut menghayati isi surah tersebut. Ada kalanya beliau terisak-isak menahan kesedihan, sambil lalu berusaha meneruskan membacakan surah tersebut. Ada kalanya pula beliau terdiam karena tidak sanggup untuk meneruskan membaca surah tersebut. Saya sebagai orang yang mudah larut dalam kesedihan pun jadi ikut terbawa oleh suasana itu, terutama karena saya tahu betul arti dari ayat yang selalu diulang dalam surah tersebut. Hingga selesai shalat tarawih, bahkan hingga hari ini, saya tidak berhenti merasa bersyukur karena mendapatkan kesempatan seperti itu, terutama karena menjadi salah satu jamaah dari sang Imam kali itu.

Surah apakah yang dimaksud? Ia adalah Ar Rahmaan, surah ke-55 dalam Al-Qur’an dengan jumlah ayat 78. Refrain dari surah ini adalah: فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).

Surat Ar Rahmaan menyebutkan bermacam-macam nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yaitu dengan menciptakan alam dengan segala yang ada padanya. Kemudian diterangkan pembalasan di akhirat, keadaan penghuni neraka dan keadaan penghuni syurga yang dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa. Pertanyaan yang selalu diulang diucapkan adalah pertanyaan yang sama. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Ini mengingatkan manusia untuk selalu tunduk dan beriman kepada Allah yang Maha Ar Rahmaan (Pemurah).

Abdullah ibn Mas’ud (dalam [Bayhaqi in Shuab al Eiman) meriwayatkan Rasul Muhammad saw berucap, “Semua hal memiliki penghiasnya, dan penghias Qur’an adalah Surah ar Rahman.”

Advertisements

3 thoughts on “Sang penghias.

  1. Saya juga selalu ingin menangis setiap mendengar ayat itu.
    Maknanya sungguh dalam.
    Kalau saya lagi malas sholat, surat itu terngiang-ngiang di kepala saya,
    lalu saya menjadi malu
    Dan segera bersholat utk mengungkapkan rasa syukur saya terhadapNya.

    *saat membaca post ini pun saya hampir menangis.

  2. Subhanallah!! Memang pun tak jarang juga saya menjumpai org2 yg membaca surah Ar-Rahman boleh menangis. Maka setelah kita renungkan erti ayat tersebut, dapatkah kita mendustakan rizki yg telah Allah berikan.semua ta dapat kita kira & Nescaya tak ada satu pun yang senilai dengannya. Maka dari itu, sudah seharusnya kita sebagai hamba-Nya bersyukur & janganlah kita lekakan perintah-Nya. Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s