surat cinta merah.

Apa yang ada di benak anda jika mendengar kata-kata seperti ‘rapor merah’, ‘tinta merah’, ‘kartu merah’, dan hmm apa lagi ya? Saya lagi kesulitan untuk berpikir lebih jauh (*nyengir). Semuanya seperti memberikan konotasi buruk untuk kata merah. Padahal ia tidaklah begitu lho.

Nah lalu bagaimana kalau saya menerima notes di dalam kartu merah? Apa artinya ya?

Waktu saya menerimanya pertama kali, kesan pertamanya sudah terasa kuat. Si pengirim ingin menegaskan maksud isi notesnya dengan menggunakan kartu berwarna merah. Lha, kartu merah sendiri di istilah sepakbola, artinya sudah jelas: pemain harus keluar lapangan. Lalu isinya? Jangan tanya. Itu seperti surat cinta, hanya saja isinya berbentuk teguran khusus untuk saya.

Lalu saya jadi berpikir, apa perlu ya memberikan surat cinta merah itu kepada saya? Sepertinya agak berlebihan. Hati saya jadi sedih dan agak sakit. Lha wong saya bermaksud baik sebenarnya, untuk melunasi janji. Tapi sayangnya niat saya dianggap sebaliknya. Haduh.

Ya akhirnya balik lagi mencoba bersabar. Ya itu termasuk mencoba berpikir dari dua sisi yang berbeda, yaitu sisi saya dan sisi si pengirim surat cinta merah itu.

Untuk saya, jelas ini mengajarkan saya untuk lebih pandai menahan emosi, untuk kemudian tidak menyalurkan emosi itu ke channel-channel yang bukan seharusnya. Agama saya mengajarkan untuk menahan emosi seperti amarah atau rasa kesal, karena terbukti: orang yang emosi tidak pernah membawa kebaikan untuk orang lain, apalagi untuk dirinya sendiri. Ingat, apa yang keluar dari mulut, dari pikiran, dan dari tingkah laku orang yang sedang emosi sering tidak bisa dikontrol. Saya pun belajar lagi untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Saya yakin niat saya baik, kalau tidak diterima ya anggap saja itu belum rizki saya. Daripada saya jadi kesal sendiri, lebih baik belajar mengikhlaskan dan memaafkan orang lain. Lalu, saya juga belajar untuk mengontrol diri lebih baik lagi. Saya paham yang terpenting adalah bagaimana menyayangi diri sendiri. Badan saya banyak tersiksa dengan gejolak-gejolak yang ada di pikiran saya. Bagi saya sekarang ini, ada satu prioritas yang paling utama yang harus saya perjuangkan sendiri.

Banyak hal-hal yang kemudian saya pikirkan tentang si pengirim surat cinta itu. Ya mencoba untuk mengerti posisi dia lah. Ada satu hal yang cukup jelas untuk saya, bahwa apapun yang dia lakukan sekiranya memang karena dirinya masih berada dalam proses, ya apapun itu untuk kebaikan. Semoga saja dia tidak salah mengambil jalan dan tidak lagi-lagi terbakar oleh buruk sangka, apalagi emosi. Semoga Tuhan melembutkan dan mendamaikan hatinya. Dengan begitu, dia tidak akan menyakiti orang-orang disekitarnya, terutama dirinya sendiri.

Oh iya, masih ada satu pertanyaan kecil. Jikalau dia sudah mengirim saya sebuah surat cinta merah, apa gunanya ya mengirimkan surat cinta merah lagi kepada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadinya? Untuk aksinya yang satu ini, saya agak heran. Ya semoga surat cinta kedua ini tidak membawa keburukan apa-apa bagi dirinya. Amin.

PS: Sepertinya saya harus berbuat sesuatu agar surat cinta merah ini tidak memiliki konotasi buruk lagi. Hmm apa ya? Kalau begini, lebih baik saya menclok sana menclok sini dulu untuk cari ide :D Be right back.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s