menonton bulan.

Dini hari ini saya terbangun untuk menyambut keluarga besan dari keluarga kami (baca: besan dari adik perempuan saya) yang datang dari jauh. Saya jadi punya kesempatan untuk mengintip suasana gelap di luar sana. Dan, disanalah saya menemukan sang bulan separuh sedang ditemani satu bintang yang cemerlang. Subhanalloh.

credit: Hotori♪

Jadi ingat tahun lalu, di bulan Ramadhan, saya akhirnya bisa merebahkan diri di tanah dan lalu ‘menonton’ bulan. Ya, memang hanya untuk melihat bulan saja dan menikmati malam sambil tiduran di alam bebas. *nyengir. Keinginan yang mungkin aneh, tapi saya sudah lama ingin merasakan. Rasanya ingiiiin sekali, sampai-sampai tangan saya pernah gatal untuk mengambil apapun alas dan lalu meletakkannya di tanah. Namun sayang, tidak ada lahan kosong di rumah saya yang bisa digunakan untuk bebas menonton bulan tanpa dilihat orang lain, kecuali saya tidak punya malu lalu menggelar alas di pinggir jalan.

Nah bulan Ramadhan lalu, saya dapatkan kesempatan itu. Amboi rasanya girang sekali, sampai-sampai saya merasa pipi saya berkedut-kedut dan bibir saya membentuk senyum sangaaat lebar. Ketika sholat tawareh (baca: tarawih), saya dapatkan posisi sholat di shaf paling belakang (sepertinya sih waktu itu saya memang telat datang dari kantor). Nah, saya baru ngeh dengan kehadiran si bulan sempurna ketika saya longokkan dua mata saya melihat ke langit. Subhanalloh, terangnya. Ketika sesi ceramahnya baru berjalan beberapa menit, oh pinggang saya langsung terasa penat sekali, lebih jujurnya sih, karena saya sudah gatal ingin merebah diri di karpet. *nyengir. Dan kebetulan kalau berada di belakang, posisi kami langsung beratapkan langit. Dengan kata lain, ini adalah saat yang sempurna. Ah tapi malu juga rasanya karena di samping kanan saya ada jamaah-jamaah yang lain. Tapiii.. cuek saja lah, kesempatan bagus seperti ini mungkin susah datangnya. Dan akhirnya saya memang mengambil posisi telentang dan lalu menatap langit. Ya menatap langit, lalu menatap bulan, lalu langit lagi, dan bintang, lalu bulan lagi, menatap bintang dan langit kembali. Judulnya memang cuma menonton. Walaupun tak lama kemudian saya ambil posisi duduk yang benar untuk meneruskan sesi dengar ceramahnya. Tapi ya itu, amboi rasanya, tak terlupakan. Saya benar-benar menyengir puas waktu itu. Akhirnya, tercapai.

Akh, sekarang saya jadi rindu. Ingin menonton bulan lagi. Tapi TKP-nya dimana dan kapan? Menunggu bulan Ramadhan lagi, mungkin?? Ya, mungkin. Hanya saja kali ini saya tidak ingin sendirian. Saya ingin ‘menonton’ bulan bersama soulmate (baca: kawan terbaik) saya. Mungkin akan sama-sama diam melihat langit atau ya sekedar ngobrol tentang Tuhan kami. Akh ingin, ingiiiin sekali. Suatu saat nanti, chan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s