saya menangis.

Beberapa jam yang lalu, tapi di hari kemarin, saya terhenyak menerima sms dari seorang teman yang mengabarkan seorang kawan lama telah meninggal dunia. Masih tak percaya rasanya karena setahu saya mama dan neneknya yang selalu diberitakan sakit. Tapi setelah mengecek ke beberapa teman, Innalillahiwainnailaihi roji’un, berita itu ternyata benar. Siapa sangka?

Kejadian selanjutnya saya kebingungan sendiri. Oke, saya harus menyebarkan berita ini ke teman-teman yang sekiranya belum tahu. Oke saya harus ke rumahnya melayat, walaupun saya tidak tahu di mana itu, dan bagaimana saya harus kesana dan naik apa. Dan oke saya harus mulai siap-siap merapihkan diri sendiri, karena jelas rencana saya di hari sabtu itu hanya ingin bermalas-malas ria. Jadi memang saya tergopoh-gopoh dengan acara dadakan ini. Dan setelah membatalkan rencana untuk menemani Ayah ke acara pernikahan kawannya, menelepon seorang tetangga jauh yang merupakan teman kampus dari teman saya yang meninggal itu dan memberitahukan kabar duka ini, saya jalankan kaki saya keluar rumah. Ya, siap atau tidak siap.
Sepanjang perjalanan ke rumahnya, saya berpikir. Kenapa ya dengan hati saya? Ketika membaca sms awal tentang kepulangan kawan lama saya itu, saya tidak merasa sedih yang amat sangat. Tadinya saya pikir ini semacam hoax, ya cuma main-main, atau sebenarnya yang meninggal adalah orang lain. Saya memang tidak siap. Jadi, ya, saya tidak merasakan kehilangan yang besar. Atau mungkin belum ya? Apa ini salah ya? Ah saya tidak percaya.

Dan sungguh, perjalanan hari itu berat. Hari sabtu bagi saya adalah hari macet sedunia dan saya merasakan aplikasinya di daerah Bintaro dan sekitarnya. Hari itu pun teriknya minta ampun. Mungkin karena saya berkerudung dan saya tidak sedang berada di dalam ruangan AC dan pikiran saya pusing tujuh keliling dengan segala kegopoh-gopohan saya di pagi hari, saya jadi merasa kepanasan yang berlebih. Tapi perjalanan saya ke Bekasi, melalui Blok-M, Cawang, kemudian finish di Kalimalang, adalah berarti. Saya sungguh ingin mengantar teman saya yang terakhir kalinya dan Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan itu.

Dan ya, tadinya saya pikir saya tidak akan bisa menangis. Tapi ternyata saya salah. Melihat bunga-bunga ditaburkan ke tanahnya, mendengarkan doa-doa dipanjatkan untuk kawan saya, saya sungguh menangis. Tuhan Maha Besar. Tuhan Maha Kuasa. Tidak ada yang tahu kehendak-Nya. Dan kami manusia cuma bisa berserah diri. Dan tiap isakan yang bersahutan terdengar membuat saya makin mengisakkan air mata. Jika suara tawa adalah virus, maka tangisan juga adalah virus. Jika saya tidak menahan diri, maka tangisan ini tidak akan segera berhenti. Yang terpenting adalah merelakan arwahnya dan mendoakannya, sehingga ia bisa tenang di alam sana.

Menangis sejenak, untuk tertawa kemudian.

Yang terjadi selanjutnya adalah pertemuan dengan kawan-kawan lama. Sungguh miris memang. Kami jarang bertemu muka. Sekali-kalinya kami bertemu, kenapa harus di acara seperti ini? Kenapa harus pada kemalangan orang lain? Oh sungguh miris. Ku rasa setiap orang akan berpikir seperti itu. Tapi bagaimana pun kita harus mengambil hikmah yang terbaik, kawan. Kawan kami semua itu adalah orang baik, dan memang sangat baik. Ketika dia sudah meninggal pun, saya yakin, pahalanya masih bertambah. Karena fakta bahwa dia adalah sahabat kami semua, akhirnya kami dapat bertemu kembali. Ia menyambungkan silaturahmi di antara kami. Subhanalloh.

Dan kami pun tertawa setelahnya. Mengenang kebaikan-kebaikan kawan kami. Mendengar cerita-cerita baiknya. Dan sungguh tidak ada kabar buruk yang bisa diceritakan darinya. Saya ingat betul. Si kawan pernah singgah ke rumah saya, setelah ia mengunjungi kawannya yang tinggal dekat dengan rumah saya. Kami tidak berjumpa karena waktu itu, saya sedang pergi atau saya tertidur di kamar -saya lupa-. Tapi ia menitipkan makanan ke Ibu saya, beberapa bungkus makanan, hotdog atau burger seingat saya. Bagi saya, niatnya untuk mampir ke rumah saya dan memberikan makanan adalah sungguh baik, tidak pernah saya bayangkan ada orang yang akan berbuat seperti. Saya kesal padanya waktu itu karena dia tidak memaksa diri untuk bertemu saya langsung tapi lalu pulang. Tapi dia orang baik, sungguh orang baik. Orang yang baik yang bertemu dengan Sang Khalik lebih dulu. Semoga ia bisa beristirahat dengan tenang.

Dan saya pun iri. Kisah kawan saya adalah tanda dari Sang Khalik tentang peringatannya yang pasti. Kita semua akan mati. Entah hari ini atau besok. Saya ‘berlari’ dengan orang-orang yang mungkin lebih baik imannya daripada saya. Saya tidak mau terlena dengan keriaan di dunia ini. Saya sungguh tidak ingin. Tapi kadang dunia ini begitu mempesona dan begitu menggoda saya. Tidak, saya mau memilih kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Saya ingin merasakan cinta yang hakiki terhadap Sang Khalik. Tapi bagaimana caranya untuk tetap terjaga? Bagaimana caranya untuk menjadi lebih baik? Ini menjadi pertanyaan pribadi saya.

Sungguh jalan hidup ini begitu berat. Mungkin kita semua perlu tertampar agar sadar. Tapi perjalanan hidup kawan kami akan selalu saya ingat. Seorang anak yang berbakti pada orang tua dan keluarganya. Seorang sahabat untuk semua kawan-kawannya.

Wifanie Rizki, kami semua sayang padamu. Semoga tempatmu adalah di sisi Sang Khalik. Semoga amal ibadahmu diterima olehNya. Dan semoga kita bisa bertemu kembali di alam sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s