jika bisa.

Jika saya bisa bicara.

Saya sedih melihatnya, dia yang paling saya sayang. Ia menjadi bagian dari euphoria itu. Ia tertawa keras melihat aib orang lain. Ia terkekeh-kekeh melihat aksi abnormal orang lain. Entah karena ia sendiri tidak mampu atau menurutnya itu aksi kacangan. Ah asumsi tidak penting.

Tapi saya sedih melihatnya. Mungkin karena semata-mata ia ikut dalam euphoria yang menurut saya tidak pantas. Mungkin karena saya tidak bisa menariknya untuk menjauh. Mungkin karena mulut saya tidak bisa bersuara lagi untuk mengingatkan. Mungkin pula karena saya sudah tidak terlihat sehingga dia tidak melihat saya menangis. Atau mungkin, karena saya sudah mati.

—————————–

Ps: Ini keluhan tidak penting.Ingin didengar.Tapi saya ini sok tau.Dan memang tidak penting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s